Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Kesejahteraan’ Category

Toyota Motor

Wednesday, May 19th, 2010

Setelah membaca kegigihan Soichiro Honda dalam mendirikan perusahaan mobilnya, saya membuat suatu keputusan bahwa mobil impian saya adalah Honda. Honda, adalah simbol dari keberanian, kegigihan, keuletan untuk mencapai impian bagi saya.

Merek mobil yang lain ngga mampir ke benak saya. Bahkan mobil mahal seperti Ferrari atau Mercy tidak menarik buat saya. Ngga ada simbol apa-apa, selain kemewahan. Padahal mungkin para pendirinya juga punya perjuangan yang sama seperti Honda ya.

Hari ini, ketika read walking di perpustakaan saya menemukan buku How Toyota became #1. Toyota? Nomor 1? Siapa yang tidak tau mobil dengan merek Toyota. Dia dikenal sebagai mobil dengan purna jual terbaik dan kualitas yang cukup terjaga. Ngga cuma di Indonesia, di seluruh dunia Toyota akan (atau sudah ya?) menjadi penghasil mobil terbesar sedunia.

Toyota ngga pernah masuk dalam hitungan saya. Soalnya sempat baca sekilas, kalau Toyota corporation dimulai dari perusahaan pemintalan yang sudah cukup mapan di Jepang. Jadi bukan dimulai dari orang-orang yang berusaha sekeras Soichiro Honda. Ternyata saya salah.

Membaca lagi sejarah Toyota, dimulai dari Sakichi Toyoda yang berasal dari keluarga pemintal. Bukan pemintal yang banyak pekerjanya begitu, karena ibu dan kakak perempuan Sakichi juga jadi pemintal.

Melihat ibu dan kakaknya yang harus bekerja keras dengan mesin pemintal tradisional, Sakichi berusaha membuat alat pintal yang lebih baik. Pemintal yang bekerja membantu pekerjaan manusia, bukan mempersulit.

Dengan kerja kerasnya, jadi juga mesin pintal yang lumayan laku. Inilah yang membuat perusahaannya maju pesat. Bahkan dengan penghasilan perusahaan itu, Sikichi bisa bepergian ke Eropa terutama untuk melihat industri pemintalan di negara lain.

Dari hasil bepergian, Sikichi mampu memperbaiki mesin pintal buatannya. Bahkan dengan bantuan Engineer dari Amerika yang sedang mengajar di Jepang, Sikichi bisa membuat patent yang kemudian dibeli oleh perusahaan pemintalan dari Eropa.

Uang hasil penjualan patent ini yang kemudian dilabur untuk membuat perusahaan otomotif oleh generasi kedua, yaitu Kiichiro Toyoda. Dari hasil perjalanannya ke Amerika, Kiichiro melihat potensi mobil sebagai alat transportasi utama.

Banyak nilai-nilai penting dalam perusahaan Toyota yang membuatnya menjadi nomor satu di dunia. Salah satunya adalah sistem kebersamaan antara semua karyawan dari tingkatan yang berbeda.

Biasanya, eksekutif perusahaan memiliki mobil dinas mahal, supir, dan tempat parkir khusus. Kalau di perusahaan Toyota (di Jepang dan Amerika, ga tau kalo di Indonesia ya) semua karyawan menyupir sendiri kendaraannya. Selain itu, tidak ada tempat parkir khusus. Pokoknya first come first serve. Dan biasa saja melihat petinggi perusahaan makan bersama dan nonton bola bareng dengan satpamnya.

Masih banyak lagi nilai penting yang dituliskan dalam buku itu. Yang pasti, membuat saya berfikir ulang tentang mobil impian saya. Mungkin, bukan Honda lagi yang jadi target. Toyota, boleh juga.

Cuma, kapan ya bisa kebeli mobil sendiri? he he he.

  • Share/Bookmark

Kejar Uang

Thursday, March 11th, 2010

Sekolah, buat apa? biar bisa nyari uang.

Kerja, buat apa? biar bisa nyari uang.

It’s all about the money kata Maja. Yang penting ada duitnya.

Mau kerja gampang, mau kerja susah. Mau sekolah gampang, mau sekolah susah. Yang penting bisa dipakai untuk mendapatkan uang.

Ada yang pilih-pilih, ada juga yang mau lakukan apa saja. Contohnya, seorang WNI di Malaysia sini, yang protes gara-gara gajinya diturunkan 1/3 nya, mending pilih keluar kerja dan jualan bakso. Sedangkan yang lain ada juga yang rela bekerja membantu-bantu meskipun kualifikasinya adalah lulusan perguruan tinggi.

Ada yang kerja demi karir, ada juga yang demi hobi. Tapi tetap yang utama adalah uangnya cukup worth it ga untuk kerjaannya.

Setelah dapat uangnya, terus buat apa? Ada yang memang perlu uangnya untuk menyambung hidup. Ga kerja, ga makan, ga hidup. Ada juga yang perlu uangnya karena ingin senang-senang. Uang makan udah ada, tinggal senang-senangnya yang belum.  Ga kerja, berkuranglah bersenang-senangnya.

Kadang, hidup harus ngirit gara-gara pingin banyak duit. Padahal kalau banyak duit, ngapain harus irit ya? hehehe. Dinikmati aja lah. Duit ga di bawa mati.

Ngomong soal duit, malah jadi pingin nyanyi lagu pesawat tempur nya Iwan Fals. Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang, beri hamba uang, beri hamba uang.

Eh katanya sekarang penguasa susah ngasih uang karena takut diperiksa KPK. Ealah udah ga nyambung nih tulisan.

  • Share/Bookmark

Kem Jejak Kembara 2009

Friday, December 25th, 2009

Knock knock knock, anybody home?

Sudah lama juga ngga nulis di blog ini. Lebih dari satu bulan tanpa satu tulisan pun. Alhamdulillah pengunjungnya masih tetap setia, dengan rata-rata 250 orang pengunjung per hari. Seperti biasa, topik yang masih dibaca orang adalah tentang komputer dan beasiswa.

Kali ini, topik tulisan berkaitan erat dengan pendidikan. Sekitar pertengahan Desember 2009 saya ikut menjadi fasilitator di acara kem jejak kerjaya 2009 (Career Explorer Camp), yang diselenggarakan atas kerjasama Petrosains dan UTP. Sponsor utama tentu saja PETRONAS.

Camp ini diselenggarakan sebagai salah satu program investasi sosial korporat dari PETRONAS. Target pesertanya adalah para pelajar setingkat SMA kelas 2 yang mengambil pendalaman di bidang sains. Yang agak beda, target peserta dinyatakan sebagai yang pertengahan, antara maju dan tidak maju. Harapannya peserta menjadi terinspirasi untuk maju, dan memilih bidang kerja yang berkaitan erat dengan sains dan teknologi, terutamanya yang berhubungan dengan dunia minyak dan gas sebagai lahan pendapatan PETRONAS.

Kenapa harus sains dan teknologi? Ternyata negara maju mengakui kalau kemajuan yang mereka dapatkan adalah hasil penemuan saintis dan engineer. Contohnya: listrik, lampu, mobil, obat, pesawat terbang, bom nuklir, dan lain sebagainya adalah produk yang menunjang pencapaian sebuah negara menjadi negara yang maju. Mungkin hampir ga ada sebuah negara jadi maju karena memiliki sastra tingkat tinggi.

Karena itulah, negara maju seperti Amerika merasa khawatir karena tingkat peminatan sains dan teknik di sana mulai berkurang. Padahal selama ini mereka sangat bergantung pada penemuan baru dibidang sains dan teknologi untuk bisa terus berkompetisi. Bisa dilihat juga negara China yang mampu menyusul perkembangan sains dan teknologi di negara maju lainnya, ditambah lagi dengan kemampuan menjual yang tinggi tentu tinggal tunggu waktu saja menjadi negara adikuasa tertinggi.

Kalau sebuah negara tidak mampu berproduksi dengan sains dan teknologi, paling banter akan jadi negara konsumen dan penjual saja. Misalnya, jangan heran kalau suatu saat nanti Indonesia cuma bisa jualan baju saja karena ngga mampu memproduksi sendiri bajunya. Kalah murah oleh produk China.

Malaysia sendiri menetapkan target, 60% siswa minat ke sains dan teknologi sedangkan sisanya ke jalur sastra, ekonomi, dan lainnya. Sebuah target yang berat karena seperti juga di negara lain, orang lebih tertarik menjadi penjual, atau pengacara karena penghasilannya lebih tinggi. Apalagi dengan banyaknya program menjadi selebriti secara instant. Tentu saja menggiurkan, menjadi kaya dan terkenal dalam waktu singkat dari program-program reality show seperti idol dan sejenisnya.

Nah, PETRONAS sebagai salah satu perusahaan milik negara Malaysia ikut serta dalam program pencapaian target itu melalui Petrosains. Ternyata banyak juga ya institusi pendidikan di bawah PETRONAS ini. Selain UTP, Petrosains, masih ada lagi ALAM dan INSTEP. Malah katanya, lulusan INSTEP yang mengkhususkan di program profesional seperti diploma dan sertifikasi bidang proses kimia banyak dicari sekarang ini.

Kembali lagi ke camp tadi, Petrosains dan UTP sebagai salah dua lembaga pendidikan di bawah PETRONAS bekerja sama untuk membuat camp yang merupakan edisi kedua pada tahun ini. Tujuannya untuk memperkenalkan dunia pekerjaan dibidang minyak dan gas (oil and gas) yang menjadi tumpuan PETRONAS untuk cari duit. UTP mengerahkan sekitar 14 orang mahasiswanya, dimana 7 orang mahasiswa undergraduate dari Malaysia dan 7 orang lagi mahasiswa Master dan PhD yang semuanya dari Indonesia, sebagai fasilitator.

Have fun, memperkenalkan konsep sains dan teknologi melalui “pekerjaan tangan”. Mengingatkan masa muda saya ketika dulu aktif di Pembinaan Anak-anak Salman. Wah, jadi terharu. Mudah-mudahan programnya juga berhasil mengaitkan peserta pada karir di bidang sains dan teknologi.

Di Indonesia, bukannya ngga ada sih program seperti ini. Program yang kayak begini sudah ada, tapi ngga terdengar. Orang-orangnya senang bekerja tanpa terlihat dan terdengar, tapi terasa hasilnya. Lagi-lagi, istri saya banyak kenal dengan orang-orang seperti itu. Program pemberdayaan masyarakat yang ngga harus lewat jalur pendidikan formal. Dilakukan oleh orang-orang berdedikasi tinggi seperti misalnya di Jawa Timur oleh salah seorang pengurus Nasyiatul Aisyiah dari Muhammadiyah.  Juga di Garut Jawa Barat yang digerakkan oleh banyak alumni dari ITB, Unpad, dan lainnya yang kalau mereka memikirkan karir tentu akan dapat karir baik. Ngga cuma dibidang oil and gas, bidang apapun mereka pasti terpakai. Tapi mereka memilih tinggal di desa, membantu anak desa menemukan dunia yang lebih luas, pemuda dan lelaki pencari nafkah di sana melihat peran sains, teknologi, dan ilmu-ilmu lainnya bisa meningkatkan taraf hidup mereka.

Wow wow, kebanyakan. Udah dulu ah. Selamat berjuang orang Indonesia, selamat berjuang orang Malaysia, semoga berhasil memajukan negara masing-masing.

  • Share/Bookmark

Perencanaan Finansial = Perencanaan Perjalanan

Thursday, November 19th, 2009

Beberapa waktu ini iseng membaca-baca tulisan lain untuk menetralisir pengaruh riset yang mentok. Biar fresh gitu lho. Salah satu diantaranya adalah artikel-artikel tentang perencanaan finansial yang saya akses dari blog keuanganpribadi.com dan perencanakeuangan.com. Sebenarnya kata orang masih banyak sih, tersebar di tempat lain. Tapi dari dua tempat ini ada hal menarik yaitu kayaknya perencanaan finansial itu mirip dengan perencanaan perjalanan.

Kalau kita mau melakukan perjalanan biasanya supaya lebih enak kita tentukan dulu mau pergi ke mana, kapan perginya, melakukan apa, dengan budget berapa. Perencanaan finansial juga mirip seperti itu, menentukan dulu tujuan finansial kita. Mau apa, kapan, seperti apa, dan detail-detail kecilnya. Kata keuanganpribadi.com (kata orang yang lain juga hampir sama), tujuan harus spesifik, measurable, achievable, realistic, time framed.

Terus, kita ambil peta deh. Tentukan posisi kita ada dimana, sekaligus dengan potensi yang kita punya. Contohnya sewaktu mau ke Singapura, saya lihat dulu mau berangkatnya dari mana, kampung de tronoh atau Bandung? Ternyata enakan dari Tronoh. Terus udah punya tabungan berapa, punya cash flow berapa, dan bandingkan dengan pengalaman orang lain yang udah pernah jalan ke Singapura kira-kira habis berapa. Dari sini tau, harus ngumpulin duit berapa banyak dan berapa lama. Perencanaan finansial juga ternyata sama aja. Harus tau dulu posisi finansial ada dimana. Kalo dalam bahasa keuanganpribadi punya harta bersih dan cash flow berapa. Dari sana kita bisa pilih, jalan mana yang akan ditempuh untuk sampai tujuan.

Untuk sampai Singapura ada beberapa mode perjalanan. Misalnya naik bis yang ternyata ada yang langsung dari dekat rumah ke Singapura. Terus ada yang pakai kereta api dan juga pesawat terbang. Nah, diatur-atur deh supaya perjalanannya menyenangkan, sesuai budget, dan tidak merepotkan. Ngga mungkin dong, pilih perjalanan yang sampai di Singapuranya malam. Rugi, udah cape di jalan, istirahat sebentar, eh bayarnya sama.  Mending milih yang sampainya tuh siang, pas waktu check in. Jadi pas datang bisa langsung tidur (Lho?).

Perencanaan finansial juga sama, perlu pilih jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Pilih yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan. Ada yang milih bersusah-susah dulu waktu muda baru bersenang-senang diwaktu tua. Misalnya dia pilih bekerja keras mengumpulkan uang diwaktu muda biar uangnya bisa digunakan mensupport kebutuhan diwaktu tua. Ada juga yang pilih senang-senang dulu, senang-senang kemudian.

Lha, emangnya ada? Ada kali ya, cuma memang perlu waktu yang lebih untuk belajar dan menyusun strateginya. Sewaktu pergi ke Singapura, entah berapa jam yang kami habiskan hanya untuk ngukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan, menikmati tempat wisatanya, dan juga uang yang harus dikeluarkan. Tapi worth it lah. Dibandingkan kawan lain yang hanya mengunjungi tempat umum saja, saya bisa pergi ke tempat yang lebih banyak hanya dalam waktu 1 hari (Gile bener kali ya, jalan-jalan keliling Singapura dalam 1 hari). Jadi kayaknya kalau mau gali lebih dalam, seharusnya ada jalan yang lebih enak dan menyenangkan dalam mencapai tujuan finansial kita.

Last but not least adalah melakukan perjalanannya dan selalu siap dengan plan B, C, D, dst. Perjalanan selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan. Misalnya sewaktu jalan ke Penang, sudah jelas tujuannya ke Pantai Batu Feringghi tapi ditengah jalan mobil mogok. Wah, seharusnya kami sedang mandi di pantai dan bersenang-senang ini malah pusing sama mobil yang ngga mau jalan. Akhirnya harus diputuskan untuk tetap pergi ke tujuan dengan cara yang lain. Masa, gara-gara ada masalah dijalan lalu kita melupakan tujuan semula? Ngga kan.

Sewaktu ke Singapura juga sama, jadwal berangkat yang telat terus urusan imigrasi yang lama membuat kami baru berhenti di Singapura jam 10 pagi yang seharusnya kami sudah keluar dari satu tempat rekreasi. Akhirnya untuk efisiensi waktu kami harus rela keluar lebih sedikit pakai taksi. Yang penting, tujuan tercapai.

Perencanaan finansial juga sama. Apalagi yang namanya ekonomi, biangnya finansial, selalu penuh ketidakpastian. Saat ada gangguan diperjalanan, maka harus disiapkan plan B nya supaya tujuan tetap tercapai.

Terus gimana? Udah bikin perencanaan finansialnya? Ternyata belum juga tuh, baru teorema hehehe. Apalagi dengan gaji PNS, kira-kira bisa tercapai ga ya?

  • Share/Bookmark

Beasiswa Lulusan SMA 2010

Friday, November 13th, 2009

Tahun 2009 hampir selesai, tahun 2010 sudah mau datang. Kali ini, beasiswa yang ditawarkan adalah untuk tahun 2010, buat yang mau lulus atau sudah lulus. Tawaran beasiswa diberikan pada siswa SMA yang tertarik untuk mendaftar di ITB. Petikan lengkapnya adalah sebagai berikut seperti yang didapat dari salah satu panitia melalui facebook. Selamat turut serta.

Rekan-rekan semua,

Untuk tahun ajaran 2010, Institut Teknologi Bandung kembali menyediakan beasiswa “ITB Untuk Semua” yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru ITB angkatan 2010 yang berasal dari keluarga kurang mampu. Para peminat diharuskan melakukan pendaftaran dalam kurun 9 November-24 Desember 2009. Persyaratan serta proses seleksi dapat dilihat di situs resmi BIUS (http://www.itbuntuksemua.com) dan situs resmi ujian masuk ITB (http://usm.itb.ac.id/).

Penerima Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS) akan ditanggung uang pendidikan, tempat tinggal, serta biaya hidup selama menempuh kuliah di Bandung. Beasiswa ini hanya diberikan kepada pemilik ijazah SMA/SMK/sederajat tahun 2010 (bukan ijazah persamaan) sesuai persyaratan untuk fakultas/sekolah yang dipilih. Kriteria kemampuan ekonomi orang tua yang digunakan adalah jumlah penghasilan total dari kedua orang tua calon mahasiswa kurang dari nilai Upah Minimum Regional (UMR) yang berlaku.

Pada tahun ajaran 2009, BIUS telah diberikan kepada 40 mahasiswa ITB angkatan 2009. Mereka telah melalui saringan ketat terhadap 3.170 pendaftar awal dan lulus ujian penerimaan mahasiswa baru. Untuk tahun ini, ITB menargetkan beasiswa akan diberikan kepada 100 mahasiswa baru, dengan syarat mereka lulus ujian (sesuai standar tinggi yang berlaku) dan jumlah donasi yang berhasil dikumpulkan panitia penyelenggara beasiswa mencukupi.

Selain mendapat ongkos kuliah dan biaya hidup, penerima BIUS akan mengikuti masa persiapan (bridging) sekitar satu bulan sebelum masa perkuliahan untuk membantu menyesuaikan diri dengan suasana kampus serta kehidupan di Bandung. Selama kuliah, para mahasiswa mendapat bimbingan dalam mengatasi kendala studi dan persoalan adaptasi yang mungkin muncul. Para mahasiswa juga akan diberi kesempatan mengikuti ceramah inspirasional, studi ke industri dan lokasi penerapan teknologi tepat guna, dsb.

Berkaitan dengan program ini, kami memohon kesediaan rekan-rekan untuk ikut menyebarluaskan kabar ini ke pelosok Tanah Air sehingga dapat menggapai seluruh siswa potensial.

Semoga program ini dapat merekrut putra-putri terbaik bangsa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Juga, semoga program ini dapat menginspirasi anak-anak yang kebetulan lahir dari keluarga kurang mampu tetap bercita-cita tinggi dan giat dalam menuntut ilmu.

Salam hangat penuh semangat.

Andrianto Soekarnen
Koordinator Penggalangan Dana & Promosi
Tim Penyelenggara Beasiswa ITB Untuk Semua

  • Share/Bookmark

Perilaku Belanja

Tuesday, September 29th, 2009

Belanja, adalah hal biasa. Maklum sebagai makhluk biasa yang ngga mungkin menyediakan semua kebutuhan diri, perlu membeli dari orang lain. Di bawah ini, saya coba membuat daftar perilaku belanja berdasarkan tingkat keuangan. Bisa anda tentukan sendiri, kira-kira tingkat keuangannya yang mana ya masing-masing perilaku itu.

Tingkat 1.

Kalau diajak belanja, agak susah. Mikirnya lama karena harus penuh perhitungan. Kadang harus nabung dulu sekian lama, baru mau jalan ke pertokoan. Kata-kata yang sering diucapkan adalah “ntar dulu deh ke mallnya. Semua barang keperluan masih bisa dibeli di warung. Padahal kalau dihitung-hitung, ada barang yang bisa dibeli dengan harga lebih murah di mall. Tapi ga papa, kan namanya juga menghidupkan roda ekonomi. Ngga cuma beli di toko besar aja, toko kecil juga perlu pelanggan, iya ga?

Tingkat 2.

Yang ini sudah ngga susah diajak belanja. Karena tau, ada barang murah yang bisa di beli di toko besar. Kata-kata yang sering digunakan adalah “Yuk, kita ke mall. Kalau ada barang yang lebih murah, baru kita beli. Kalo ga ada, ya udah cuci mata aja.”

Saya, sejak jaman kuliah dulu sudah masuk di kategori ini. Tapi, ya sering cuci mata aja, belanjanya sih bisa dihitung dengan jari, hehehe. Anak kost, apa sih yang dibeli. Paling beli sabun, odol, dan snack sedikit. Sisanya ya dibeli di warung aja, ngga perlu ngongkos dan bayar parkir.

Sekarang juga masih. Kalau mau belanja ke mall, harus lihat dulu di internet lagi ada promosi apa. Kalo ga ada promosi, ya beli di dekat rumah aja. Lagi pula, ongkosnya mahal banget karena tempat mall terdekat sekitar 30 km dari rumah. Kalo ga ke bayar ongkos dengan promo, hmm pikir-pikir dulu deh, hehehe.

Tingkat 3.

Jadi ingat dosen saya dulu di Lab Konversi ITB. Kata dia, tingkat ini adalah tingkat orang yang sudah tidak punya masalah dengan uang. Kata-kata yang sering digunakan adalah “Ada barang bagus nih, beli ah”. Harga tidak jadi masalah, yang penting hati suka.

Kapan ya bisa seperti ini? Insya Allah satu saat nanti.

Tingkat 4.

Ini, orang yang udah bingung mau ngapain lagi dengan uang. Kata-kata yang sering keluar adalah “wah, udah tanggung nih nyampe di mall. Masa sih ngga beli apa-apa”. Gubrak. Enak banget bilangnya.

Teman saya di Bandung, terheran-heran dengan orang seperti ini. Waktu itu, sedang ganti oli dan kebetulan ada orang yang mau ganti ban sekalian rim nya. Belasan juta sekali jebret. Padahal ban yang lama masih bagus, terlalu bagus.

Kadang orang yang seperti ini juga jadi aneh pilih tempat belanja. Padahal made in Indonesia juga, tapi pengennya beli di Singapura. He he he, di Mangga Dua, jauh lebih bagus dan lebih banyak dapetnya kalo kata backpacker.

Ada juga seorang sultan, yang ngasih tukang cukur rambut seharga ratusan ribu dollar Amerika. Cuma nyukur gitu lho. Kebanyakan duit, mending kasihkan ke saya ya, biar bisa loncat ke tingkat 3. Dibuang-buang sayang tuh.

Anda sendiri, masuk tingkat mana? Mudah-mudahan sudah masuk yang 3, tapi jangan sampai masuk yang 4 ya.

  • Share/Bookmark

PNS Teknisi dan Dosen di POLBAN

Wednesday, September 16th, 2009

Kali ini, tempat kerja saya yang membuka pendaftaran teknisi dan dosen sebanyak 25 orang. Teknisi dari D3 sedangkan dosen harus S2 kayaknya.

Silahkan lihat pengumumannya di web polban. Pendaftaran sampai tanggal 6 Oktober di hari-hari selain Sabtu, Minggu, dan cuti bersama.

  • Share/Bookmark

Kompetisi Entrepreneur Muda Asia

Monday, September 14th, 2009

Wow, hebat. 9 dari 25 finalis Asia’s Young Entrepreneur berasal dari Indonesia. Ga tanggung-tanggung, bahkan beberapa orang umurnya masih 19 tahun. Masih muda banget tuh (dibanding saya kali ye).

Melihat pengumuman seperti di atas, jadi ingat ajang Asian Idol dan Miss Universe yang baru saja berlalu. Hebatnya, wakil Indonesia masih bisa mendapatkan vote tertinggi dibandingkan peserta lain, meskipun akhirnya ga jadi juara juga seh hehehe.

Cuma sekarang yang jadi masalah adalah: ada 9 orang yang harus dipilih. Kalau cuma 1 kan gampang seperti kasus Miss Universe kemarin. Voter memilih wakil Indonesia. Kalo 9? Terbagi rata ya mungkin ga jadi juara juga ya.

Saingannya berat Bo, soalnya ada yang dari China dan India juga. Seperti yang kita ketahui, China dan India pengakses internetnya cukup banyak. Apalagi jumlah finalis dari negara mereka ngga banyak-banyak amat. Jadi ya bisa ditebak dong, kalo mereka bakalan dapat banyak vote.

Nah, ngga tau nih yang dari Indonesia bisa menang atau ga. Yang pasti, kalau melihat jumlah vote, bisa jadi kalah banyak dari China dan India. Tapi ngga menutup kemungkinan menang. Soalnya Asian Idol juga yang menang ternyata dari Singapura. Kenapa bisa?

Lah, kan disuruh milih 2 negara. Yang India milih negaranya sendiri ditambah satu negara lainnya. Dia mikir, Singapura kan negara kecil, kalau pun nambah voter ngga akan bisa sebanyak India. Yang Indonesia juga mikir begitu. Akhirnya ya Singapura lah yang menjadi pemenangnya.

Tapi bukan karena Rasial gitu juga sih. Memang penyanyi dari Singapura bersuara bagus, akhirnya dia terpilih.

Kalo melihat salah satu finalis dari Indonesia, ternyata ada public figure juga. Oscar Lawalata. Wah, kalo dia mengerahkan teman-teman selebritinya, kayaknya bisa jadi dia yang menjadi favorit nih.

  • Share/Bookmark