Kesejahteraan

Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga

Itu komentar orang-orang terhadap almarhum Gito Rollies. Senangnya sudah menikmati hidup di saat muda. Pas tua, pas jadi sholeh dan berkecukupan. Eh meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Tapi kali ini, tidak akan membahas tentang Gito Rollies. Yang akan dibahas adalah tentang menjadi kaya. Boleh dikatakan hampir semua orang pingin jadi kaya. Meskipun kadang definisi kaya setiap orang tentu berbeda.

Kenapa pingin kaya? Karena, katanya kalau jadi kaya semua keinginan bisa terpenuhi. Ingin jalan-jalan, hidup senang, makan enak, rumah banyak, mobil berjubel. Wah pokoknya menjadi kaya itu bahagia.

Sekarang juga, kalau lihat di internet, di jalan-jalan, di pertokoan, banyak tawaran untuk menjadi kaya dalam waktu singkat. Buku-buku panduan menjadi kaya pun banyak di jual di gramedia, gunung agung, bahkan sampai ke kaki lima.

Sebenarnya, apa sih yang namanya kaya? Dan bagaimana caranya jadi kaya? Bisakah menjadi kaya dalam waktu singkat? Di bawah ini adalah resume dari beberapa tulisan yang pernah aku baca.

Kaya, kalau kata beberapa ahli finansial adalah ketika pendapatan kita lebih besar dari pengeluaran. Jadi pendapatan besar, belum tentu kaya. Safir Senduk dalam bukunya “Kata Siapa Karyawan Tidak Bisa Kaya” memberi contoh banyak eksekutif muda di Jakarta yang penghasilannya sampai belasan juta sebulan tidaklah kaya. Kenapa? Karena ternyata pengeluaran mereka sampai puluhan juta sebulan. Artinya pendapatannya tekor terhadap pengeluaran.

Bagaimana caranya kaya? Ya, kalau lihat definisinya buatlah penghasilan sebesar mungkin dengan pengeluaran sekecil mungkin. Gimana caranya? Tambahlah sumber penghasilan dan kurangilah pos pengeluaran. He he he, kelihatannya gampang ya. Kalau gampang dan bisa dilakukan dalam waktu singkat, tentu sudah banyak orang yang jadi kaya dan tambah raya.

Gimana caranya nambah penghasilan? Ya kerja makin keras dan makin banyak. Kalau cuma kerja satu tempat saja, tentu ngga akan nambah penghasilan walaupun bertambah keras pekerjaannya. Banyak selebriti dan orang kaya dari Amerika yang orangtuanya bekerja bukan hanya satu, bahkan dua atau tiga pekerjaan dalam sehari untuk sekedar mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Di Indonesia pun banyak yang seperti itu, misalnya pagi jadi guru, siang jadi tukang pulung sampah atau jadi tukang ojek.

Tapi kan, waktu bekerja itu terbatas. Ngga mungkin nambah pekerjaan lagi dengan waktu yang segitu-gitunya? Ya, memang kebanyakan kita memiliki waktu terbatas untuk bekerja. Satu pekerjaan saja sudah menghabiskan hampir seharian. Apalagi di kota besar, waktu itu habis dijalan bukan di tempat kerja. Tubuh juga perlu istirahat dan keluarga juga perlu perhatian.

Gimana caranya menambah penghasilan dengan waktu yang terbatas? Masih ada lagi. Contohnya Pak Ersis dan Pak Sawali yang dua-duanya jadi guru, masih bisa nambah penghasilan dengan menulis. Selain itu di website keduanya juga ditaburi oleh iklan-iklan yang diharapkan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Tetap saja, kan masih harus menyempatkan waktu untuk mengerjakan tulisannya. Kalau jadi guru, masih menjadi karyawan. Maka saat menulis, sudah menjadi usahawan. Ada lagi misalnya, Pak Ersis dan Helvy Tiana Rosa, mengumpulkan para penulis untuk membuat cerpen, puisi, atau macam-macam tulisan lainnya lalu diterbitkan. Ditawarkan ke penerbit atau diterbitkan sendiri lalu menggunakan jasa orang lain untuk menjualkannya.  Ini namanya sudah jadi pemilik usaha. Artinya sudah punya orang lain yang bekerja untuk menghasilkan uang.

Ada lagi yang cuma punya uang tapi dia tanamkan ke perusahaan milik orang lain untuk mendapatkan bagi hasil. Dia tidak bekerja, dia tidak meminta orang lain bekerja untuk dia, tapi dia punya uang yang bekerja untuk dia sendiri. Namanya adalah investor.

Robert Kiyosaki pernah bilang kalau mau jadi kaya, jangan jadi karyawan. Tapi jadilah yang lain. Paling enak jadi investor. Tapi kan ngga semua orang punya uang untuk bikin usaha atau ditanamkan ke usaha orang lain. Ya jelas. Makanya, mau ga mau harus kerja dulu untuk cari uangnya. Seperti saran Safir Senduk, jadi karyawan tetap bisa jadi kaya. Kan, tidak dilarang menjadi karyawan dan juga jadi pengusaha dan malah jadi investor.

Perlu waktu lama dong untuk jadi kaya? Jelas ngga sebentar. Kalau ada yang nawari dalam waktu singkat, biasanya bisa kalau melalui penipuan. Artinya memindahkan uang milik orang lain menjadi milik kita. Ini banyak modelnya. Misalnya yang bilang arisan nasional, meminta kita membayar 40rb dan kemudian mencari orang lain agar mau membayar 40rb kepada kita. Sangkuriang banget deh kalo mau kaya dalam waktu singkat. Bisa sih bisa, tapi caranya itu yang merugikan orang lain. Merugikan seperti apa? Ya tidak memberi manfaat dan membuat orang lain keluar uang untuk hal yang tidak manfaat. Seperti judi saja.

Ah, pengen rasanya jadi kaya. Herannya koq banyak kesempatan jadi kaya saat aku ada di sini ya. Coba dari dulu pas aku ada di Indonesia, pasti sudah langsung dijalankan. Di sini ruang geraknya terbatas sekali, ngga bisa melakukan investasi apa-apa. Sayang, waktu terbuang percuma.  Pengen cepat balik nih.

Tags:

Baru saja membaca novel “Ayat-ayat Cinta” karya Habiburrahman. Ada satu paragraf yang membuatku teringat kepada nikmat yang telah Allah berikan kepadaku: MANDI. Dalam novel itu diceritakan betapa si peran utama mendapatkan kenikmatan luar biasa dari mandi setelah seharian berpanas-panasan di Mesir. Wah jelas nikmat dong bisa mandi setelah panas-panasan.

Jadi ingat waktu aku masih kecil. Dulu aku masih tinggal di kampung, Dusun Cibunian Desa Margacinta Kecamatan Cijulang, Ciamis Selatan. Daerah yang terkenal dengan dukun santetnya ini jadi tempat persinggahan sementara karena orangtuaku belum mapan berkarir di Jakarta. Aku dititipkan di rumah kakek dari pihak ayah dan ibuku. Cara mandinya ya disesuaikan dengan keadaan masing-masing.

Di rumah kakek dari ayahku kalau mau mandi aku harus jalan kaki dulu sejauh kira-kira dua ratus meter. Jalannya ngga tanggung-tanggung melewati semak belukar dan pepohonan. Di antara semak belukar yang rimbun itu ada sebuah saluran air yang mengalirkan air dari sungai ke sawah. Kalau kata orang kota saluran itu diberi nama selokan. Nah dibagian semak yang paling rimbun selokan itu diberi batu-batu penahan yang membentuk bak air. Dari bak air inilah aku mandi.

Airnya disesuaikan dengan keadaan sungai. Kalau sungai sedang jernih maka aku menikmati air jernih untuk mandi. Kalau sungai sedang “butek” ya terima aja deh air yang kotor itu. Lagipula aku masih sangat kecil, jadi belum terlalu ngeh lah dengan air bersih dan air kotor. Ketika agak besar barulah di rumah kakekku itu dibuatkan sebuah bak mandi. Bak ini dialiri air dari sungai dengan memakai pipa. Meskipun sudah dibuatkan filter sebelum masuk ke pipa kejernihan air tetap mengikuti keadaan di sungai.

Kalau di tempat kakek dari ibuku sudah agak lumayan. Di sana ada sumur timba. Untungnya aku masih kecil jadi ngga perlu susah-susah kalau mau mandi. Tinggal tunggu bak air sudah dipenuhi oleh air yang ditimba oleh entah siapa. Airnya selalu jernih karena sudah disaring oleh dinding-dinding tanah sumur. Airnya juga segar, berbeda dengan air sungai yang kadang adem dan kadang hangat. Air sumur mungkin terkena efek seperti air kendi yang menjadi cukup dingin seperti yang sudah masuk kulkas.

Aku paling senang kalau di ajak mandi ke mata air atau sungai yang besar. Air yang melimpah membuatku senang bukan kepayang. Cuma sayang jarak mata air atau sungai besar dari rumah kakekku cukup jauh. Untuk bisa sampai ke sana aku harus berjalan berkilo-kilo meter melalui jalan batu yang licin dan juga terjal. Samping kiri dan kanan jalan ini adalah jurang yang membuat orang yang menjagaku malas mengantar. Malasnya bukan apa-apa, aku ini anak yang agak aktif sehingga agak sulit untuk dijaga.

Setelah pindah ke Jakarta kebutuhan air dipenuhi oleh sebuah pompa dragon. Segala keperluan air mengharuskan aku yang sudah agak besar ikut memompa. Masak, mencuci, dan juga mandi pasti aku jadi andalan. Kadang pompa ini ngadat tidak mau mengeluarkan air. Kalo sudah seperti ini aku harus memasukkan segayung air dulu ke dalam pompa untuk memancing airnya keluar.

Aku senang mandi air pancuran. Kalau mau mandi pancuran aku meminta orang lain memompa untukku. Sebelnya kalau sudah ngga ada lagi orang yang mau memompakan air aku harus “self service”. Cara melayani diri sendiri ini cukup melelahkan karena aku harus memompa airnya dan terburu-buru berlari ke bawah pompa supaya bisa menikmati air pancuran sebelum aliran air dari pompa itu berhenti.

Setelah keluargaku cukup berada, cie ilee, berada, orangtuaku memasang pompa listrik di rumah. Wah dengan ini aku ngga perlu cape mompa lagi. Pancuran air juga tidak menjadi halangan. Pokoknya senang deh punya pompa listrik. Cuma kalau pulang ke kampung balik lagi deh ke jaman batu menimba dan menikmati air sungai. Listrik di kampungku baru ada ketika aku sudah kuliah. Jadi ya, urusan mandi tetap harus manual untuk menyediakan airnya.

Air dalam bathtub dan shower baru aku nikmati setelah lulus sarjana. Ketika aku mulai ikut proyek-proyek dan sering menginap di hotel barulah aku kenal dua benda ini. Kalau sebelumnya sabun, shampoo, dan handuk harus disediakan sendiri sekarang semua sudah tersedia ketika baru masuk kamar.

Air mandi panas di hotel baru aku kenal ketika menjadi panitia seminar internasional di Bali. Sebagai salah satu panitia inti aku diberi fasilitas kamar di hotel Grand Bali Beach yang berbintang lima. Wah pertama kali merasakan mandi di bathtub dengan air panas aku senyam senyum sendiri. He he he, cuma gini aja toh rasanya. Kayak gini aja mah ngga usah bayar berjuta-juta rupiah. Di rumah juga bisa pakai jolang dan masak air sendiri.

Mandi dimanapun sama. Suatu kegiatan yang menyegarkan setelah penat berkegiatan. Dia membuat badan rileks dan fresh. Bisa mandi dengan air bersih tanpa perlu keluar banyak tenaga memang suatu nikmat yang sangat besar. Istriku pernah cerita dulu pergi ke daerah gunung kidul untuk program sosial. Selama satu bulan di sana tidak bisa mandi dengan benar. Soalnya ngga tega memakai air untuk mandi. Air untuk minum saja di jatah satu hari satu gelas, bagaimana mungkin menyediakan banyak air untuk kegiatan membasuh badan yang dinamakan mandi?

Aku bersyukur atas nikmat mandi yang telah Dia berikan kepadaku. Terima kasih ya Allah untuk kesempatan mandi yang telah Engkau berikan.

Tags:

Semua bagian tubuh manusia itu adalah karunia dari Allah, termasuk rambut. Benda yang satu ini ada di seluruh badan manusia. Tumbuhnya mudah dari yang pendek tipis-tipis, sampai yang tebal panjang. Ada yang keriting dan juga ada yang lurus.

Fungsi rambut banyak sekali. Dia bisa menjadi sensor perasa dunia luar bagi tubuh manusia. Bulu hidung menjadi penyaring debu yang masuk ke hidung. Alis dan bulu mata menjadi pelindung bola mata dari benda-benda asing. Bahkan dia juga menjadi hiasan.

Dulu sewaktu masih kecil aku sering takjub melihat kumis dan jenggot yang lebat. Sampai-sampai aku kepingin memiliki jenggot dan kumis juga. Setelah baligh jenggot dan kumis mulai tumbuh di mukaku. Tapi ternyata mengurus jenggot dan kumis itu cukup merepotkan juga. Ah dasar manusia yang satu ini, sudah diberi apa yang diinginkan malah mengeluh.

Rambut di kepala, ternyata menjadi perekat cinta aku dengan istriku. Kalau rambutku sudah panjang, mulailah keluar ketombe. Untungnya keluar ketombe ini tidak merusak kebahagiaan, malah menambah keakraban. Aku paling suka kalau istriku membelai kepalaku dan mengambili ketombe besar itu satu persatu. Sungguh suatu kegiatan yang membuatku bahagia.

Buat kebanyakan orang rambut itu adalah mahkota. Bukan cuma mahkota untuk wanita saja lho. Rambut juga mahkota bagi laki-laki, apalagi dijaman sekarang. Pria-pria metropolis selalu ingin terlihat bagus rambutnya. Ada yang ke salon sampai seminggu dua kali untuk memperbaiki penampilan rambut mereka dengan biaya yang mungkin lebih besar dari gaji PNSku.

Ada yang suka rambutnya panjang. Ada juga yang memang mengharuskan rambutnya pendek seperti tentara. Beberapa orang menyukai rambut yang berwarna. Mereka bahkan kadang mengganti-ganti warna rambutnya untuk disesuaikan dengan pakaian atau aksesori yang mereka pakai.

Salah satu mahasiswa Master yang sedang menimba ilmu di tempatku pun begitu juga. Sepertinya dia senang mengganti warna rambutnya. Mungkin terbawa dari tuntutan pekerjaannya sebagai MC sewaktu dulu masih di Indonesia. Sepenglihatanku, dia selalu memakai warna rambut emas dihari Jum’at. Entah memang warna rambut aslinya emas atau disapuh emas. Kata orang kalo warna rambut emas, artinya siempunya rambut itu kurang gizi. Tapi dengan bentuk badan seperti dia, ngga mungkin deh kurang gizi.

Aku sendiri cukup beruntung diberi karunia oleh Dia rambut yang berwarna tanpa perlu susah-susah pergi ke salon. Setelah mencecah umur 30-an, rambutku mulai berubah warna. Kini, kata istriku, rambutku sudah mulai terlihat warna putihnya. Iya, itu namanya uban. Entah karena cuaca panas di sini yang menyebabkan kulit kepalaku kurang sehat sampe ketombean dan uban mulai tumbuh. Atau bisa jadi karena aku banyak fikiran. Anehnya si uban ini lebih banyak berada di kepala bagian kanan.

Bagian kepala kanan kan katanya lebih banyak berhubungan dengan imajinasi. Apa aku terlalu banyak imajinasi menyelesaikan risetku dan segera pulang ke Indonesia ya? Atau ini juga tanda-tanda mulai berkurangnya imajinasi dan inovasiku? Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan ini memang karena aku makin tua saja.

Yah, tetap saja rambut dan uban ini adalah karunia dari Dia. Mungkin menjadi pertanda kalau aku tuh harus selalu ingat bahwa kematian makin dekat. Harus selalu menjaga image orang yang sudah tua. Harus segera selesai riset dan segera pulang ke Indonesia supaya (mungkin) rambutnya bisa hitam kembali.

Untuk karunia rambut ini, aku ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Penciptaku. Dia telah karuniakan rambut terbaik dan yang paling cocok untukku. Rambut ini sudah banyak jasanya, tidak hanya untukku tapi juga untuk para tukang cukur, para penjual shampoo, dan juga para karyawan pabrik shampoo. Aku mewakili mereka semua mengucapkan Alhamdulillah.

Tags:

Tak henti-hentinya Dia melimpahkan nikmat yang teramat sangat untukku. Segala puji memang hanya untuk Dia.

Kalau boleh dibilang, aku ini orang biasa-biasa saja. Lahir bukan dari keluarga kaya raya. Dalam pendidikan pun, ya sedang-sedang saja. Tidak jenius dan tidak juga idiot. Tapi kenapa aku selalu beruntung?

Kata orang sih, ini karena usaha orangtua. Apa yang aku nikmati sekarang ini sebenarnya adalah hasil dari kesolehan dan ketekunan orangtua. Aku bisa sekolah yang baik, ya karena orangtua yang mendukung dalam hal biaya, semangat, dan juga menyiapkan semua keperluannya.

Aku hidup senang, karena mungkin orangtuaku juga hanya mengambil rejeki yang halal saja. Tidak sedikit lho, orang kaya yang anaknya amburadul karena sering nilep duit tidak halal. Aku dihormati dilingkungan tetangga, karena mereka mengenal orangtuaku sebagai orang baik-baik dan berjasa. Akunya sendiri sih, ngga melakukan apa-apa.

Beruntungnya aku punya orangtua seperti mereka.

Dan ternyata, akupun beruntung mendapatkan seorang pendamping hidup seperti istriku. Orang baik yang punya pandangan hidup baik juga. Bukan sekali dua aku mengakui kalo cara pandang hidup istriku jauh lebih baik daripada cara pandang hidupku.

Beruntung karena meskipun aku orang biasa-biasa saja, dia masih mau memilih aku menjadi suaminya. Padahal, banyak ketua-ketua organisasi yang memilih dia. Banyak orang-orang hebat yang mengagumi dirinya. Entah kenapa, koq dia malah milih aku. Apa kesambet pelet? Ngga tau deh, yang penting aku beruntung memiliki dia.

Terima kasih untuk hari ini Tuhan, aku bisa mengingati nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan.

Tags:

Kata Kang Dadang, pendidikan itu tidak harus di sekolah. Bahkan malah pendidikan di luar sekolah itulah yang katanya paling mewarnai seseorang dan menentukan kesuksesan seseorang. Nah kalau di sekolah ada kurikulum pendidikannya, kalau di luar sekolah kurikulumnya seperti apa ya?

Sekolah, tentu yang paling banyak mengurusnya adalah pemerintah. Soalnya itu tanggung jawab pemerintah untuk memberikan pendidikan yang layak bagi rakyatnya. Kalo pendidikan luar sekolah, tanggung jawab siapa? Kayaknya, paling besar tanggung jawab itu ada di pundak orang tua yah.

Kadang bingung juga buat orangtua seperti aku ini untuk memberikan pendidikan luar sekolah yang layak. Seperti apa sih pendidikan luar sekolah yang bagus? Panduannya ada ga ya? Paling banter, yang aku berikan hanya sekedar seperti apa yang orangtuaku berikan kepadaku.

Apakah harus dimulai dari tujuan? Katanya, tujuan adalah roh dari segala kegiatan. Ada tujuan maka ada kegiatan yang baik. Ngga ada tujuan, maka ngga ada kegiatan walau sesibuk apapun. Maka tujuan pendidikan luar sekolah buat anak itu apa ya? Kalau harapan kepada anak-anak sih ada, tapi tujuan?

Yah, daripada ngga ada aku mulai dari harapan aja deh. Harapanku anak-anak sehat, sejahtera, dan mampu bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Mudah-mudahan anakku:

  • Mengenal dan menghargai dirinya juga posisinya dikeluarga, masyarakat, dan dihadapan Tuhannya.
  • Mampu memilih, membuat keputusan, dan bertanggung jawab dengan keputusannya itu.
  • Membawa manfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, dan agamanya.
  • Mendapatkan hal-hal terbaik bagi dirinya.

Udah kali ya, segitu dulu. Itu juga sudah banyak dan berat. Apa yang aku lakukan sampai saat ini mungkin baru membiarkan pendidikan anak berjalan apa adanya. Belum ada kurikulum yang dipersiapkan dan juga evaluasinya. Masih bingung juga sih. Kalo istriku sih udah ada yang dilakukan, tapi akunya yang masih jalan di tempat.

Kalau ada yang punya informasi, tolong kasih tahu ya. Terima kasih sebelumnya.

Tags: