Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Indonesia’ Category

Belajarlah Sampai Ke Negeri China

Tuesday, January 5th, 2010

Ayo, buat yang mau belajar ke negeri China ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa program berikut ini:

Study Program Duration of Program Duration of Remedial

Chinese Language Courses

Duration of

Scholarship

Bachelor’s degree 4-5 1-2 (college preparatory courses) 4-7
Master’s degree 2-3 1-2 2-5
Doctoral degree 3-4 1-2 3-6
Chinese language training 1-2 None Up to 2
General scholar 1 1 Up to 2
Senior scholar 1 1 Up to 2

Mulai yang sekolah bahasa, S1 sampai S3 tersedia. Full Scholarship lagi. Syarat lengkap bisa dilihat di situs resminya. Secara umum sih, urusan umur agak longgar. Misalnya untuk S1 umur maksimal 25 tahun. Artinya, ada kesempatan buat para alumni yang belum mendapatkan beasiswa lain seperti yang dari ITB kemarin.

Jurusannya? Kayaknya banyak deh pilihannya, tergantung universitas yang dituju. Bahkan untuk jurusan musik juga ada koq. Ga usah khawatir.

Pendaftaran dilakukan secara online sampai 30 April 2010 melalui http://laihua.csc.edu.cn/ . Lalu dokumen yang diperlukan bisa dikirim melalui kedutaan atau konjen China di tempat masing-masing.

OK, selamat berusaha.

  • Share/Bookmark

Kem Jejak Kembara 2009

Friday, December 25th, 2009

Knock knock knock, anybody home?

Sudah lama juga ngga nulis di blog ini. Lebih dari satu bulan tanpa satu tulisan pun. Alhamdulillah pengunjungnya masih tetap setia, dengan rata-rata 250 orang pengunjung per hari. Seperti biasa, topik yang masih dibaca orang adalah tentang komputer dan beasiswa.

Kali ini, topik tulisan berkaitan erat dengan pendidikan. Sekitar pertengahan Desember 2009 saya ikut menjadi fasilitator di acara kem jejak kerjaya 2009 (Career Explorer Camp), yang diselenggarakan atas kerjasama Petrosains dan UTP. Sponsor utama tentu saja PETRONAS.

Camp ini diselenggarakan sebagai salah satu program investasi sosial korporat dari PETRONAS. Target pesertanya adalah para pelajar setingkat SMA kelas 2 yang mengambil pendalaman di bidang sains. Yang agak beda, target peserta dinyatakan sebagai yang pertengahan, antara maju dan tidak maju. Harapannya peserta menjadi terinspirasi untuk maju, dan memilih bidang kerja yang berkaitan erat dengan sains dan teknologi, terutamanya yang berhubungan dengan dunia minyak dan gas sebagai lahan pendapatan PETRONAS.

Kenapa harus sains dan teknologi? Ternyata negara maju mengakui kalau kemajuan yang mereka dapatkan adalah hasil penemuan saintis dan engineer. Contohnya: listrik, lampu, mobil, obat, pesawat terbang, bom nuklir, dan lain sebagainya adalah produk yang menunjang pencapaian sebuah negara menjadi negara yang maju. Mungkin hampir ga ada sebuah negara jadi maju karena memiliki sastra tingkat tinggi.

Karena itulah, negara maju seperti Amerika merasa khawatir karena tingkat peminatan sains dan teknik di sana mulai berkurang. Padahal selama ini mereka sangat bergantung pada penemuan baru dibidang sains dan teknologi untuk bisa terus berkompetisi. Bisa dilihat juga negara China yang mampu menyusul perkembangan sains dan teknologi di negara maju lainnya, ditambah lagi dengan kemampuan menjual yang tinggi tentu tinggal tunggu waktu saja menjadi negara adikuasa tertinggi.

Kalau sebuah negara tidak mampu berproduksi dengan sains dan teknologi, paling banter akan jadi negara konsumen dan penjual saja. Misalnya, jangan heran kalau suatu saat nanti Indonesia cuma bisa jualan baju saja karena ngga mampu memproduksi sendiri bajunya. Kalah murah oleh produk China.

Malaysia sendiri menetapkan target, 60% siswa minat ke sains dan teknologi sedangkan sisanya ke jalur sastra, ekonomi, dan lainnya. Sebuah target yang berat karena seperti juga di negara lain, orang lebih tertarik menjadi penjual, atau pengacara karena penghasilannya lebih tinggi. Apalagi dengan banyaknya program menjadi selebriti secara instant. Tentu saja menggiurkan, menjadi kaya dan terkenal dalam waktu singkat dari program-program reality show seperti idol dan sejenisnya.

Nah, PETRONAS sebagai salah satu perusahaan milik negara Malaysia ikut serta dalam program pencapaian target itu melalui Petrosains. Ternyata banyak juga ya institusi pendidikan di bawah PETRONAS ini. Selain UTP, Petrosains, masih ada lagi ALAM dan INSTEP. Malah katanya, lulusan INSTEP yang mengkhususkan di program profesional seperti diploma dan sertifikasi bidang proses kimia banyak dicari sekarang ini.

Kembali lagi ke camp tadi, Petrosains dan UTP sebagai salah dua lembaga pendidikan di bawah PETRONAS bekerja sama untuk membuat camp yang merupakan edisi kedua pada tahun ini. Tujuannya untuk memperkenalkan dunia pekerjaan dibidang minyak dan gas (oil and gas) yang menjadi tumpuan PETRONAS untuk cari duit. UTP mengerahkan sekitar 14 orang mahasiswanya, dimana 7 orang mahasiswa undergraduate dari Malaysia dan 7 orang lagi mahasiswa Master dan PhD yang semuanya dari Indonesia, sebagai fasilitator.

Have fun, memperkenalkan konsep sains dan teknologi melalui “pekerjaan tangan”. Mengingatkan masa muda saya ketika dulu aktif di Pembinaan Anak-anak Salman. Wah, jadi terharu. Mudah-mudahan programnya juga berhasil mengaitkan peserta pada karir di bidang sains dan teknologi.

Di Indonesia, bukannya ngga ada sih program seperti ini. Program yang kayak begini sudah ada, tapi ngga terdengar. Orang-orangnya senang bekerja tanpa terlihat dan terdengar, tapi terasa hasilnya. Lagi-lagi, istri saya banyak kenal dengan orang-orang seperti itu. Program pemberdayaan masyarakat yang ngga harus lewat jalur pendidikan formal. Dilakukan oleh orang-orang berdedikasi tinggi seperti misalnya di Jawa Timur oleh salah seorang pengurus Nasyiatul Aisyiah dari Muhammadiyah.  Juga di Garut Jawa Barat yang digerakkan oleh banyak alumni dari ITB, Unpad, dan lainnya yang kalau mereka memikirkan karir tentu akan dapat karir baik. Ngga cuma dibidang oil and gas, bidang apapun mereka pasti terpakai. Tapi mereka memilih tinggal di desa, membantu anak desa menemukan dunia yang lebih luas, pemuda dan lelaki pencari nafkah di sana melihat peran sains, teknologi, dan ilmu-ilmu lainnya bisa meningkatkan taraf hidup mereka.

Wow wow, kebanyakan. Udah dulu ah. Selamat berjuang orang Indonesia, selamat berjuang orang Malaysia, semoga berhasil memajukan negara masing-masing.

  • Share/Bookmark

Perencanaan Finansial = Perencanaan Perjalanan

Thursday, November 19th, 2009

Beberapa waktu ini iseng membaca-baca tulisan lain untuk menetralisir pengaruh riset yang mentok. Biar fresh gitu lho. Salah satu diantaranya adalah artikel-artikel tentang perencanaan finansial yang saya akses dari blog keuanganpribadi.com dan perencanakeuangan.com. Sebenarnya kata orang masih banyak sih, tersebar di tempat lain. Tapi dari dua tempat ini ada hal menarik yaitu kayaknya perencanaan finansial itu mirip dengan perencanaan perjalanan.

Kalau kita mau melakukan perjalanan biasanya supaya lebih enak kita tentukan dulu mau pergi ke mana, kapan perginya, melakukan apa, dengan budget berapa. Perencanaan finansial juga mirip seperti itu, menentukan dulu tujuan finansial kita. Mau apa, kapan, seperti apa, dan detail-detail kecilnya. Kata keuanganpribadi.com (kata orang yang lain juga hampir sama), tujuan harus spesifik, measurable, achievable, realistic, time framed.

Terus, kita ambil peta deh. Tentukan posisi kita ada dimana, sekaligus dengan potensi yang kita punya. Contohnya sewaktu mau ke Singapura, saya lihat dulu mau berangkatnya dari mana, kampung de tronoh atau Bandung? Ternyata enakan dari Tronoh. Terus udah punya tabungan berapa, punya cash flow berapa, dan bandingkan dengan pengalaman orang lain yang udah pernah jalan ke Singapura kira-kira habis berapa. Dari sini tau, harus ngumpulin duit berapa banyak dan berapa lama. Perencanaan finansial juga ternyata sama aja. Harus tau dulu posisi finansial ada dimana. Kalo dalam bahasa keuanganpribadi punya harta bersih dan cash flow berapa. Dari sana kita bisa pilih, jalan mana yang akan ditempuh untuk sampai tujuan.

Untuk sampai Singapura ada beberapa mode perjalanan. Misalnya naik bis yang ternyata ada yang langsung dari dekat rumah ke Singapura. Terus ada yang pakai kereta api dan juga pesawat terbang. Nah, diatur-atur deh supaya perjalanannya menyenangkan, sesuai budget, dan tidak merepotkan. Ngga mungkin dong, pilih perjalanan yang sampai di Singapuranya malam. Rugi, udah cape di jalan, istirahat sebentar, eh bayarnya sama.  Mending milih yang sampainya tuh siang, pas waktu check in. Jadi pas datang bisa langsung tidur (Lho?).

Perencanaan finansial juga sama, perlu pilih jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Pilih yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan. Ada yang milih bersusah-susah dulu waktu muda baru bersenang-senang diwaktu tua. Misalnya dia pilih bekerja keras mengumpulkan uang diwaktu muda biar uangnya bisa digunakan mensupport kebutuhan diwaktu tua. Ada juga yang pilih senang-senang dulu, senang-senang kemudian.

Lha, emangnya ada? Ada kali ya, cuma memang perlu waktu yang lebih untuk belajar dan menyusun strateginya. Sewaktu pergi ke Singapura, entah berapa jam yang kami habiskan hanya untuk ngukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan, menikmati tempat wisatanya, dan juga uang yang harus dikeluarkan. Tapi worth it lah. Dibandingkan kawan lain yang hanya mengunjungi tempat umum saja, saya bisa pergi ke tempat yang lebih banyak hanya dalam waktu 1 hari (Gile bener kali ya, jalan-jalan keliling Singapura dalam 1 hari). Jadi kayaknya kalau mau gali lebih dalam, seharusnya ada jalan yang lebih enak dan menyenangkan dalam mencapai tujuan finansial kita.

Last but not least adalah melakukan perjalanannya dan selalu siap dengan plan B, C, D, dst. Perjalanan selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan. Misalnya sewaktu jalan ke Penang, sudah jelas tujuannya ke Pantai Batu Feringghi tapi ditengah jalan mobil mogok. Wah, seharusnya kami sedang mandi di pantai dan bersenang-senang ini malah pusing sama mobil yang ngga mau jalan. Akhirnya harus diputuskan untuk tetap pergi ke tujuan dengan cara yang lain. Masa, gara-gara ada masalah dijalan lalu kita melupakan tujuan semula? Ngga kan.

Sewaktu ke Singapura juga sama, jadwal berangkat yang telat terus urusan imigrasi yang lama membuat kami baru berhenti di Singapura jam 10 pagi yang seharusnya kami sudah keluar dari satu tempat rekreasi. Akhirnya untuk efisiensi waktu kami harus rela keluar lebih sedikit pakai taksi. Yang penting, tujuan tercapai.

Perencanaan finansial juga sama. Apalagi yang namanya ekonomi, biangnya finansial, selalu penuh ketidakpastian. Saat ada gangguan diperjalanan, maka harus disiapkan plan B nya supaya tujuan tetap tercapai.

Terus gimana? Udah bikin perencanaan finansialnya? Ternyata belum juga tuh, baru teorema hehehe. Apalagi dengan gaji PNS, kira-kira bisa tercapai ga ya?

  • Share/Bookmark

Beasiswa Lulusan SMA 2010

Friday, November 13th, 2009

Tahun 2009 hampir selesai, tahun 2010 sudah mau datang. Kali ini, beasiswa yang ditawarkan adalah untuk tahun 2010, buat yang mau lulus atau sudah lulus. Tawaran beasiswa diberikan pada siswa SMA yang tertarik untuk mendaftar di ITB. Petikan lengkapnya adalah sebagai berikut seperti yang didapat dari salah satu panitia melalui facebook. Selamat turut serta.

Rekan-rekan semua,

Untuk tahun ajaran 2010, Institut Teknologi Bandung kembali menyediakan beasiswa “ITB Untuk Semua” yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru ITB angkatan 2010 yang berasal dari keluarga kurang mampu. Para peminat diharuskan melakukan pendaftaran dalam kurun 9 November-24 Desember 2009. Persyaratan serta proses seleksi dapat dilihat di situs resmi BIUS (http://www.itbuntuksemua.com) dan situs resmi ujian masuk ITB (http://usm.itb.ac.id/).

Penerima Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS) akan ditanggung uang pendidikan, tempat tinggal, serta biaya hidup selama menempuh kuliah di Bandung. Beasiswa ini hanya diberikan kepada pemilik ijazah SMA/SMK/sederajat tahun 2010 (bukan ijazah persamaan) sesuai persyaratan untuk fakultas/sekolah yang dipilih. Kriteria kemampuan ekonomi orang tua yang digunakan adalah jumlah penghasilan total dari kedua orang tua calon mahasiswa kurang dari nilai Upah Minimum Regional (UMR) yang berlaku.

Pada tahun ajaran 2009, BIUS telah diberikan kepada 40 mahasiswa ITB angkatan 2009. Mereka telah melalui saringan ketat terhadap 3.170 pendaftar awal dan lulus ujian penerimaan mahasiswa baru. Untuk tahun ini, ITB menargetkan beasiswa akan diberikan kepada 100 mahasiswa baru, dengan syarat mereka lulus ujian (sesuai standar tinggi yang berlaku) dan jumlah donasi yang berhasil dikumpulkan panitia penyelenggara beasiswa mencukupi.

Selain mendapat ongkos kuliah dan biaya hidup, penerima BIUS akan mengikuti masa persiapan (bridging) sekitar satu bulan sebelum masa perkuliahan untuk membantu menyesuaikan diri dengan suasana kampus serta kehidupan di Bandung. Selama kuliah, para mahasiswa mendapat bimbingan dalam mengatasi kendala studi dan persoalan adaptasi yang mungkin muncul. Para mahasiswa juga akan diberi kesempatan mengikuti ceramah inspirasional, studi ke industri dan lokasi penerapan teknologi tepat guna, dsb.

Berkaitan dengan program ini, kami memohon kesediaan rekan-rekan untuk ikut menyebarluaskan kabar ini ke pelosok Tanah Air sehingga dapat menggapai seluruh siswa potensial.

Semoga program ini dapat merekrut putra-putri terbaik bangsa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Juga, semoga program ini dapat menginspirasi anak-anak yang kebetulan lahir dari keluarga kurang mampu tetap bercita-cita tinggi dan giat dalam menuntut ilmu.

Salam hangat penuh semangat.

Andrianto Soekarnen
Koordinator Penggalangan Dana & Promosi
Tim Penyelenggara Beasiswa ITB Untuk Semua

  • Share/Bookmark

Rumah Kita Sendiri

Tuesday, October 20th, 2009

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Begitu kata Gito Rollies, eh Ahmad Albar ding. Lagu yang suka saya putarkan, kalo kira-kira lagi kangen sama Indonesia.

Memang enak tinggal di Malaysia sini. Harga makanan, bensin, dan listrik murah, ngga terlalu banyak orang, cenderung lebih aman dan ga banyak pemeriksaan. Tapi seenak-enaknya tinggal di negeri orang, masih lebih enak tinggal di negeri sendiri.

Sementara itu, ada juga sih yang merasa lebih nyaman tinggal di Malaysia. Meskipun masih punya tanah warisan dan rumah di Indonesia, semua diserahkan kepada saudaranya. Ada juga sih, yang emang ngga punya rumah di sana, jadi lebih rela dikejar-kejar RELA daripada balik ke Indonesia.

Saya merasa ga nyaman di sini, mungkin karena ga bisa bebas melakukan apa yang saya mau. Maksudnya, uangnya pas-pasan aja sih buat kehidupan sehari-hari hehehe. Kalo uangnya berlebih, mungkin mikir ulang kalo mo balik.

Lah, kalo uangnya pas-pasan, ya mending di Indonesia. Ada banyak kegiatan yang bisa diikuti. Setidaknya, bisa menghibur diri dari kecukupan uang. Di sini, entah apa lagi yang bisa dilakukan. Semua perlu ke tempat yang jauh dan bersama orang-orang jauh.

Enak di tempat asal sendiri. Bandung yang (dulu pernah) sejuk (sekarang panas juga bo). Mau ke Mall, tinggal jalan. Mau ke Masjid tinggal pergi. Mau ke sodara-sodara, tinggal angkat telepon. Hidup ngga pernah sepi. Pas banyak uang, banyak yang bisa dilakukan. Pas ngga ada uang, banyak yang menemani. Hi hi hi.

Rumah kita, kapan kita bertemu kembali?

  • Share/Bookmark

Kangen Makanan Indonesia

Friday, October 9th, 2009

Secara hitung-hitungan saya sudah setahun lebih tidak pulang ke Indonesia. Bukan berarti ga makan makanan Indonesia sih, karena istri saya selalu masak makanan Indonesia kegemaran saya di rumah. Kangennya terutama dengan jajanan Indonesia

Jajanan Indonesia seperti Mie Ayam, Bakso, Siomay, Pempek, Sate Padang, dan lainnya memang bikin kangen setelah cukup banyak makan kerupuk lekor, mie lagi dan mie lagi di sini. Sayangnya yang juga hampir ga ada. Kalaupun ada, rasanya ngga seperti yang di Indonesia. Kalau yang rasanya mirip dengan Indonesia, ada di Kuala Lumpur sana.

Makanya ketika kemarin ada konferensi di Kuala Lumpur, saya sempatkan untuk jajan makanan Indonesia. Yang terkenal, terletak di daerah Chow Kit. Kata orang, di sini pusat ngumpulnya orang Indonesia di Malaysia.

Untuk sampai ke sini, agak susah juga. Kalau bis, dari KL Sentral dan Puduraya ada sih yang ke sini, yaitu bis nomor 111. Tapi ngga tau deh, langsung atau ga. Soalnya kan rutenya muter-muter gitu.

Pake taksi juga lumayan mahal. Dari KL Sentral yang bertarif resmi harganya sudah RM 13.  Waktu tempuh padahal cukup cepat, ga sampe 1/2 jam. Apalagi kalau dari KLCC, cuma RM 5 dan cepet banget deh.

Tempat yang terkenal di sini adalah Rumah Makan Padang yang judulnya Garuda. Letaknya di Jalan Raja Alang. Kalo siang, tempat ini penuh melulu. Masakannya mirip dengan RM Padang di Indonesia. Harganya agak di atas rata-rata. Untuk nasi ayam saja paling tidak kita harus merogoh kantong sedalam RM 6. Padahal di rumah makan biasa, pakai ayam paling banter RM 4.

Masakan jawa juga banyak. Di depan Jalan Raja Alang ada satu restoran yang namanya Restoran Jawa An Nuur. Saya sempat merasakan sotonya sekali. Lumayan enak. Mirip dengan yang ada di Lucky Plaza Singapura.

Tapi beberapa teman menyarankan Restoran TAR untuk dikunjungi. Letaknya tepat di bawah stasiun monorail Chow Kit. Di sana bisa kita jumpai Es Teler, Siomay, Bakso, Mie Ayam, dan masakan khas Indonesia lainnya. Harganya juga lumayan tinggi, hampir sama dengan restoran Padang tadi.

Setiap hari selama di KL kemarin saya ke restoran ini. Wah, cukup terpuaskan juga. Yang kerja juga dari Semarang dan sekitarnya. Orang Indonesia semua, dan pada faseh ngomong Bahasa Jawa hehehe.

Kapan-kapan main lagi ke sana ah.

  • Share/Bookmark

Jalan-jalan ke Genting Highland

Thursday, October 8th, 2009

Genting highland adalah sebuah kota hiburan di Malaysia. Di sana ada bermacam hiburan seperti pertunjukan artis, permainan video, judi (hiburan kah?), dan taman tema. Seperti namanya, memang Genting terletak di tempat yang tinggi.

Untuk sampai di sana, kalau tidak punya kendaraan sendiri kita bisa naik bis. Ada bis umum yang bertolak dari Titiwangsa. Tapi, Genting Highland punya layanan bis sendiri yang bisa diakses dari banyak tempat diantaranya adalah Puduraya, KL Sentral, dan Gombak.

Layanan bis ini bisa dibeli terpisah atau secara paket dengan layanan lainnya. Misalnya bisa dibeli dengan cable car atau di Indonesia juga dikenal sebagai kereta gantung atau gondola. Malah kalau mau lebih murah, beli saja paket Go Genting yang menawarkan ongkos pergi pulang dan taman tema luar.

Kebetulan ketika saya ke sana, saya pakai paket Go Genting yang berharga RM 140 untuk 4 orang. Jam keberangkatan dan jam pulang bisa dipilih sendiri. Untuk kenyamanan, pergi nya pagi dan pulangnya sore. Jangan pulang terlalu malam.

Perjalanan bis, sekitar 45 menit dari KL Sentral ke Genting Cable Car. Dari sini kami naik Cable Car terpanjang di Asia tenggara katanya. Cable car menuju ke atas. Cukup mengerikan bagi yang takut ketinggian. Makanya, lebih baik pulang sore hari ketika kita masih bisa melihat sinar matahari. Kalau malam, suasana seram ketinggian bertambah besar dengan kegelapan di luar cable car.

Pagi hari orang belum begitu ramai, jadi ngga terlalu lama menunggu giliran untuk sampai ke atas. Di stasiun atas, ternyata banyak kabut yang menyelimuti kompleks hotel dan taman permainan.

Setelah sampai di atas, mencari taman tema agak susah. Ternyata taman tema berposisi setelah kasino (tempat main judi). Kalau mau masuk sini, selalu di tanya kartu identitas (IC) kalau berwajah asia. Soalnya warga negara Malaysia yang beragama Islam dilarang masuk ke dalam kasino. Tapi ada teman saya yang iseng masuk, ditanya IC dia kasih passport. Ternyata boleh tuh masuk ke dalam. Artinya, agama apapun boleh masuk ke sana asal bukan warga negara Malaysia. Ngga tau deh sekarang masih bisa seperti itu atau ga.

Kembali ke taman tema. Paket yang saya ambil termasuk taman tema luar (Outdoor Theme Park). Jumlah mainan cukup banyak. Kebanyakan bisa untuk keluarga / anak-anak. Daftar permainan lengkap bisa dilihati di websitenya.

Untuk permainan yang agak menyeramkan, biasanya ada syarat tambahan. Misalnya ketinggian dan berat badan. Enaknya di sini yang antri ga terlalu banyak seperti di Dunia Fantasi. Jadi kalau mau coba yang asyik-asyik, cukup ngantri ngga sampai sejam sudah bisa masuk. Apalagi kalau sudah sore dan bukan hari libur, biasanya makin sedikit yang antri.

Harga makanan standar saja. Hampir sama dengan harga makanan di KL. Jadi ngga usah terlalu khawatir kelebihan belanja makanan. Harga KFC pun sama dengan yang lain.

Harga paket Go Genting terhitung murah, karena untuk ongkos pulang pergi saja sudah lebih dari RM 18. Artinya kalau kita naik dua permainan, harga yang dibayar sudah impas. Apalagi seperti anak-anak saya yang main bumper car (bom bom car di dufan) sampai 7 kali, belum terhitung permainan lainnya, tentu sudah sangat murah.

Oh iya, biar jangan kecewa, coba lihat jadwal maintenance anjungan permainan di website genting. Jadi jangan sampai sudah berharap banyak pingin main sesuatu eh ngga kesampaian gara-gara sedang diperbaiki. Setidaknya saat saya ke sana, ada 3 anjungan yang sedang diperbaiki tapi secara umum kami sekeluarga sudah cukup menikmati permainan yang ada.

Pengen ke sana lagi? Kemungkinan besar iya. Dufan masih terlalu jauh sih, hehehe. Harga lebih mahal dan ngantri lebih lama. Biar dinikmati dulu deh di sini.

  • Share/Bookmark

Perilaku Belanja

Tuesday, September 29th, 2009

Belanja, adalah hal biasa. Maklum sebagai makhluk biasa yang ngga mungkin menyediakan semua kebutuhan diri, perlu membeli dari orang lain. Di bawah ini, saya coba membuat daftar perilaku belanja berdasarkan tingkat keuangan. Bisa anda tentukan sendiri, kira-kira tingkat keuangannya yang mana ya masing-masing perilaku itu.

Tingkat 1.

Kalau diajak belanja, agak susah. Mikirnya lama karena harus penuh perhitungan. Kadang harus nabung dulu sekian lama, baru mau jalan ke pertokoan. Kata-kata yang sering diucapkan adalah “ntar dulu deh ke mallnya. Semua barang keperluan masih bisa dibeli di warung. Padahal kalau dihitung-hitung, ada barang yang bisa dibeli dengan harga lebih murah di mall. Tapi ga papa, kan namanya juga menghidupkan roda ekonomi. Ngga cuma beli di toko besar aja, toko kecil juga perlu pelanggan, iya ga?

Tingkat 2.

Yang ini sudah ngga susah diajak belanja. Karena tau, ada barang murah yang bisa di beli di toko besar. Kata-kata yang sering digunakan adalah “Yuk, kita ke mall. Kalau ada barang yang lebih murah, baru kita beli. Kalo ga ada, ya udah cuci mata aja.”

Saya, sejak jaman kuliah dulu sudah masuk di kategori ini. Tapi, ya sering cuci mata aja, belanjanya sih bisa dihitung dengan jari, hehehe. Anak kost, apa sih yang dibeli. Paling beli sabun, odol, dan snack sedikit. Sisanya ya dibeli di warung aja, ngga perlu ngongkos dan bayar parkir.

Sekarang juga masih. Kalau mau belanja ke mall, harus lihat dulu di internet lagi ada promosi apa. Kalo ga ada promosi, ya beli di dekat rumah aja. Lagi pula, ongkosnya mahal banget karena tempat mall terdekat sekitar 30 km dari rumah. Kalo ga ke bayar ongkos dengan promo, hmm pikir-pikir dulu deh, hehehe.

Tingkat 3.

Jadi ingat dosen saya dulu di Lab Konversi ITB. Kata dia, tingkat ini adalah tingkat orang yang sudah tidak punya masalah dengan uang. Kata-kata yang sering digunakan adalah “Ada barang bagus nih, beli ah”. Harga tidak jadi masalah, yang penting hati suka.

Kapan ya bisa seperti ini? Insya Allah satu saat nanti.

Tingkat 4.

Ini, orang yang udah bingung mau ngapain lagi dengan uang. Kata-kata yang sering keluar adalah “wah, udah tanggung nih nyampe di mall. Masa sih ngga beli apa-apa”. Gubrak. Enak banget bilangnya.

Teman saya di Bandung, terheran-heran dengan orang seperti ini. Waktu itu, sedang ganti oli dan kebetulan ada orang yang mau ganti ban sekalian rim nya. Belasan juta sekali jebret. Padahal ban yang lama masih bagus, terlalu bagus.

Kadang orang yang seperti ini juga jadi aneh pilih tempat belanja. Padahal made in Indonesia juga, tapi pengennya beli di Singapura. He he he, di Mangga Dua, jauh lebih bagus dan lebih banyak dapetnya kalo kata backpacker.

Ada juga seorang sultan, yang ngasih tukang cukur rambut seharga ratusan ribu dollar Amerika. Cuma nyukur gitu lho. Kebanyakan duit, mending kasihkan ke saya ya, biar bisa loncat ke tingkat 3. Dibuang-buang sayang tuh.

Anda sendiri, masuk tingkat mana? Mudah-mudahan sudah masuk yang 3, tapi jangan sampai masuk yang 4 ya.

  • Share/Bookmark