Mas Joni sangat beruntung. Meskipun berasal dari keluarga yang miskin dia dapat melanjutkan sekolah sampai lulus sekolah menengah. Untuk urusan bekerja, dia pun sangat beruntung. Memang sih, pekerjaannya bukan sebagai karyawan berkerah atau tingkat manajemen. Setidaknya dengan pekerjaan sekarang dia bisa menghidupi dirinya sendiri dan menafkahi keluarga.
Berawal dari menjadi tukang sapu di kantor kereta api, Mas Joni bertemu dengan seorang boss yang sangat baik. Pendidikannya ditanggung oleh si Boss, sampai akhirnya dia bisa diterima sebagai karyawan honorer di perusahaan yang mengendalikan perjalanan kereta api se Indonesia ini.
Menjadi karyawan honorer menambah keberuntungan Mas Joni. Ternyata banyak kesempatan untuk ikut pelatihan-pelatihan yang bisa membawa Mas Joni pada jabatan tertinggi di dalam kereta: Masinis.
Hari ini Mas Joni mulai bertugas. Hebatnya lagi, Mas Joni mulai bertugas di Jakarta, tempat segala keruwetan bertumpuk. Mas Joni yang terbiasa hidup di kota kecil sangat deg-degan dengan tugas pertamanya ini. Rute pertamanya adalah dari Jakarta menuju Surabaya. Targetnya adalah hanya terlambat 2 jam saja.
Memulai pekerjaan tidaklah sulit bagi Mas Joni, karena semua sudah diberikan di pelatihan. Dari men-start mesin kereta api, sampai menjalankannya sudah dilalui dengan lancar. Masalah timbul ketika Mas Joni hampir sampai di persimpangan kereta yang sangat padat. Masalahnya adalah Mas Joni ngga tau jalan Jakarta. Ketika hampir sampai ke pintu persimpangan, Mas Joni malah memperlambat keretanya, dan berhenti di depan antrian kendaraan yang sudah tak sabar menunggu giliran jalan. Mas Joni mengeluarkan kepalanya dari dalam lokomotif dan menyapa salah satu pengendara motor:
“Mas - mas, numpang tanya yah. Kalau jalan yang Surabaya lewat jalur yang mana?”
Tentu saja pengendara motor itu bengong. Jelas bengong karena cerita ini bohongan saja. Lah jalur kereta kan sudah ditentukan, memangnya si kereta mau belok-belok sendiri, hehehe. Ga mungkin kan.


