Clup, si Wiwin terjatuh. Dia adalah setetes air yang entah datang dari mana, jatuh di atas kumpulan tetes air lainnya. Senangnya hati Wiwin karena dia bisa berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Dari atas gunung, mereka akan mengalami perjalanan yang sangat menarik.
Kumpulan air ini ternyata tidak diam, mereka berjalan. Entah siapa yang mengajak, tapi dari tempat gelap mereka berjalan menuju tempat yang terang.
Horeee, teriak Wiwin. Dia bisa melihat dunia yang indah. Dia menyapa rumput, menyapa tanah, batu, dan juga ikan. Hi hi hi. Ikan kecil memang sangat menarik. Warna warni seperti mainan, kata si Wiwin.
Wiwin terus berjalan, sekarang katanya di sungai. Lihat di sana, ada jembatan yang paaaanjaaaang sekali. Di atas jembatan banyak anak kecil berlarian tidak pakai baju. Malu ih.
Ternyata anak-anak itu terus meloncat ke atas Wiwin. Aduh sakit. Tapi Wiwin dan anak-anak itu tertawa senang. Bahkan Wiwin ikut serta naik ke atas jembatan lagi bersama anak-anak itu. Hore aku terjun, kata Wiwin ketika anak-anak itu nyemplung lagi ke sungai.
Setelah lelah bermain bersama anak-anak, Wiwin istirahat. Dia tertidur bersama jutaan kawan-kawannya, tetesan air. Sambil tertidur, Wiwin terus berjalan. Tak terasa sekarang Wiwin sudah tiba di laut.
Wiwin terbangun ketika merasa keasinan. Di mana ini ya? tanya si Wiwin. Oh lihat itu, pasir-pasir di tepi pantai yang putih dan halus. Halo pasir, apa kabar. Kenalkan namaku Wiwin, kata dia sambil bersalaman.
Ternyata laut itu makin lama-makin dalam. Makin dalam makin gelap. Wiwin gak suka yang gelap-gelap. Wiwin suka di atas air laut saja, biar terang dan bisa lihat pemandangan.
Tapi sekarang Wiwin kepanasan. Aduh-aduh panaaaas. Eh koq makin lama makin panas dan Wiwin sekarang mulai terbang. Assyiiiiik, bisa terbang. Wiwin bertambah senang walaupun kepanasan.
Wuih, indahnya lautan dan daratan dilihat dari atas sini, kata Wiwin. Dia terus terbang ke langit yang tinggi. Tinggiiii sekali. Sampai-sampai dia melihat anak yang berenang bersamanya kemarin di sungai, terlihat seperti semut yang kecil. hi hi hi.
Ternyata Wiwin ngga sendirian. Di atas langit sana, dia bertemu lagi dengan kawan-kawannya. Hi kawan-kawan, ketemu lagi nih. Iya tapi kita namanya jadi awan. He he he, bagus ya. Lihat tubuh kita jadi putih. Seperti kapas.
Wiwin dan kawan awan terbang di langit, ditiup oleh angin. Di bawa ke tempat yang jaaauuuh sekali. Wiwin sudah tidak ingat tempat itu, karena baru pertama kali dia pergi ke sana.
Tapi Wiwin takut. Di sana dia melihat awan-awan yang lain. Awan-awan itu berwarna gelap dan suka teriak. Duar, Duar, Duar, begitu suaranya. Keras sekali. Sambil berteriak, awan-awan itu juga mengeluarkan sinar yang sangat terang. Duar-duar-duar begitu suaranya setiap selesai satu sinar keluar.
Tadinya Wiwin ga mau bergabung dengan awan-awan itu. Tapi angin yang kuat sudah membawanya kesana. Tiba-tiba, tubuh Wiwin pun berubah warnanya menjadi gelap juga. Adduuuuh, aku ngga suka. Wiwin mulai ingin menangis. Kawan-kawan yang lain juga ingin menangis.
Akhirnya mereka sama-sama menangis. Huaaaa, huaaa, huaaaaa. Duar-duar-duar. Ternyata awan itu menangis sambil mengeluarkan Wiwin. Hua-hua-hua. Wiwin ga lihat kalau dia sedang terjun dari awan. Wiwin sibuk menangis, hua hua huaaaaa.
Addduh, Wiwin jatuh lagi. Kali ini di atas pohon yang besar sekali. Wiwin bengong, lho aku sudah tidak di atas awan lagi. Horeee, sekali lagi Wiwin bisa jalan-jalan. Dia bertemu rumput dan tanah. Masuk ke dalam gua dan clup, bertemu dengan teman-temannya lagi.


