Nama sekolah Minah adalah SD Tikukur. SD ini terletak di tengah kota, bahkan dekat sekali dengan kantor Gubernur Jawa Barat. Lulusannya tidak banyak yang diterima di sekolah negeri. Tapi sekolah ini cukup terkenal dengan prestasi seninya. Sudah beberapa kali utusan SD Tikukur menjadi juara lomba paduan suara dan pentas seni di kota Bandung.
Kali ini Pak Anca, guru seni SD Tikukur, berkeliling ke beberapa kelas untuk memilih utusan baru sekolah. Utusan ini akan tampil ke pentas seni di TV dan kantor Gubernur. Satu persatu murid yang dianggap memiliki bakat diuji menyanyi. Setelah itu beberapa murid yang terbaik dipilih. Minah gembira karena dia juga ikut terpilih tahun ini. Wah terbayang senang dan bangganya Minah bisa tampil di depan TV dan Gubernur.
Pulang sekolah Minah langsung berlari ke rumah dengan wajah tersenyum lebar. Dia harus segera member tahu ibunya kalau dia terpilih menjadi utusan seni sekolahnya.
“Ibu, ibu, assalamu ‘alaikuuum, ibu, ibu, di mana ibu?”
Tak sabar rasanya Minah menunggu jawaban ibunya. Tentu saja ibu Minah kaget. Tidak biasanya Minah pulang sekolah berteriak-teriak seperti itu. Tergopoh-gopoh ibu Minah ke depan untuk membuka pintu rumah.
“alaikumussalam Minah, ada apa nak?”
“Ibu, ibu, dengar ini. Minah terpilih bu, Minah terpilih”, jawab Minah dengan cepat.
“Terpilih apa sayang? “
“Iya, ibu. Minah terpilih jadi utusan seni sekolah bu. Nanti Minah akan tampil di TV dan di kantor Gubernur. Hebat kan Bu?”
“Wah hebat sekali sayang. Keren dong, anak ibu bisa tampil di TV dan di depan Gubernur.”
“Iya bu, nanti setiap pulang sekolah Minah harus ikut latihan bu. “
“Makan siangnya bagaimana? Apa disediakan di sana?”
“Oh tidak bu, semua murid harus pulang dulu ke rumah. Nanti sekitar jam satu siang, semuanya berkumpul di ruang kesenian untuk berlatih bersama.”
“Kalau begitu, kamu harus cepat-cepat pulang ya sayang. Biar sempat makan siang dulu. Kalau latihan tidak makan siang, bisa-bisa kamu sakit dan tidak jadi tampil.”
“Iya bu, beres,” Minah senang sekali karena ibunya pun bangga pada dia.
Sejak keesokan harinya, hari-hari Minah disibukkan dengan latihan kesenian di sekolah. Minah tetap bersemangat meski latihan itu sangat melelahkan. Kadang, Minah terpaksa tidak ikut pengajian sore hari di Masjid karena terlalu lelah. Badan Minah sudah letih dan suaranya juga sudah parau saat pulang dari latihan.
Setelah tiga minggu berturut-turut Minah latihan, akhirnya tibalah saat gladi. Saat itu masih satu minggu lagi dari pementasan di TV dan kantor Gubernur. Pak Anca sudah mengumpulkan murid-murid utusan sekolah di ruangan kesenian. Nampaknya ada pengumuman penting yang ingin disampaikan.
“Anak-anak, hari ini bapak ingin mengumumkan hal penting berkaitan dengan pementasan kita. Untuk memperindah penampilan, maka bapak ingin kalian memakai seragam yang bagus. Kita akan tampil di TV dan depan Gubernur. Tentu kita tidak ingin malu hanya gara-gara pakaian yang kurang menarik.”
“Bapak mengusulkan kepada kepala sekolah, agar utusan kesenian kali ini menyewa kostum pementasan. Sewa ini jauh lebih murah dibandingkan dengan membuat sendiri kostumnya. Selain itu, pihak TV juga ingin kita membayar sejumlah uang untuk keperluan shooting. Biaya ini akan dibagi sama rata kepada seluruh utusan. Kira-kira jumlah yang harus dibayar setiap anak adalah seratus ribu rupiah.”
Minah terkejut dengan pengumuman ini. Bagaimana tidak? Biasanya bila ada sesuatu yang berhubungan dengan uang Minah akan kesulitan. Pasti tidak mudah untuk meminta uang kepada orangtuanya. Hasil menjual cairan balon sebelum ini sudah Minah tabung. Mungkin dengan uang itu Minah bisa minta sedikit tambahan dari orangtuanya.
Minah pulang dengan wajah sedikit tegang. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan pengumuman tadi kepada ibunya. Sesampainya di rumah, ibu Minah sudah melihat gelagat yang kurang baik. Dia pun menanyai Minah.
“Minah sayang, ada apa nak? Koq kayaknya wajah kamu tegang begitu. Ada masalah di sekolah? Bagaimana persiapan pentas seni kamu seminggu lagi? Sudah siap ya tampaknya. Tapi tidak usah tegang seperti itu. Kan kurang bagus kalau terlihat penonton yang pentas tegang.”
“Ehm, begini bu. Tadi Pak Anca memberi pengumuman. Tapi pengumumannya bikin hati Minah tidak tenang.”
“Kenapa bisa begitu? Memangnya Pak Anca mengumumkan apa?”
“Ini bu, kata Pak Anca, semua utusan seni harus bayar iuran. Uangnya akan dipakai sewa kostum dan bayar TV. Besar iurannya seratus ribu rupiah.”
Ibu Minah tersentak kaget mendengar jumlah uang yang besar itu. Bagaimanapun tidak mungkin bagi keluarga mereka mengeluarkan uang sebesar itu. Apalagi hanya untuk keperluan yang sebentar saja. Dengan berat hati ibu menenangkan hati Minah.
“Minah sayang, kamu kan tahu keadaan keluarga kita. Tidak mungkin ayahmu punya uang sebesar itu. Mungkin belum saatnya kamu tampil di depan TV nak. Satu saat nanti, kalau kamu sudah besar mungkin kesempatan itu datang. Tidak apa-apa ya nak?”
“Tapi bu, Minah punya tabungan. Tambahkan sedikit saja lagi. Insya Allah tidak begitu memberatkan koq bu.”
“Dengarkan ibu, sayang. Jumlah uang segitu sangat besar nak. Bisa membayar sekolah kamu dan adik kamu selama setahun. Masa kamu mau habiskan untuk kegiatan sehari. Ibu lihat bagaimana usaha kamu mengumpulkan uang itu. Pergi pagi hari dan kerja memeras keringat sampai siang. Padahal saat itu kamu sedang puasa. Apa rela kamu melepaskan uang yang kamu dapat dengan susah payah?”
Minah termenung. Bagaimanapun dia paham akan perkataan ibunya. Dia masih ingat ketika harus pergi ke tepi sungai untuk memetik daun kembang sepatu setiap pagi. Dia juga masih bisa merasakan pegalnya tangan memeras daun itu sampai kental. Panas udara saat dia berkeliling menjajakan cairan balonnya juga masih terasa di kulitnya.
Akhirnya Minah menyerah. Esok harinya Minah melapor kepada Pak Anca, kalau dia tidak bisa ikut pentas seni. Minah sedih, kawan-kawannya juga sedih. Tapi mau apalagi, keluarga Minah tidak memiliki uang yang diperlukan untuk kegiatan itu.
Dua minggu setelah pentas seni, Minah sudah lupa dengan kekecewaannya. Wali kelas Minah mengumumkan bahwa akan ada seleksi dokter cilik di kelasnya. Minah sangat teruja. Terbayang di mata Minah, bangganya menjadi dokter cilik.
Setiap dokter cilik akan memakai seragam yang berbeda dengan murid lainnya. Seragamnya sudah macam dokter sungguhan. Memakai jas warna putih dan membawa stetoskop di leher. Anggun sekali kelihatannya.
Murid yang dipilih biasanya hanya dari kelas lima, seperti Minah. Hanya murid yang berprestasi saja yang akan dipilih. Dokter cilik akan bertugas membantu kesehatan sekolah. Karena itu hanya yang pintar dan berprestasi saja yang boleh ikut. Alasannya supaya tidak terganggu sekolahnya meskipun ikut bekerja di luar kelas.
Minah masih memiliki harapan. Selama ini dia tidak pernah lewat dari lima besar. Selain itu dia juga aktif dikegiatan olahraga. Minah sering diutus mewakili sekolah ikut pertandingan bola voli antar sekolah. Rasanya kali ini, Minah akan ikut terpilih.
Memang benar perkiraan Minah. Namanya masuk dalam daftar murid yang berkesempatan menjadi dokter cilik. Calon dokter akan diberi pelatihan singkat selama sebulan penuh. Isi pelatihannya adalah P3K dan dasar-dasar kesehatan. Pelatihan akan diberikan oleh dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, di sekolah.
Seperti sebelumnya, Minah berlari pulang ke sekolah dan menceritakan pengumuman itu pada ibunya. Ibunya mendengarkan dengan sepenuh hati. Tapi dia tahu, apa yang dihadapi Minah nanti. Ibu mengatur strategi agar bisa menyampaikan informasi itu secara halus. Dia tidak ingin Minah terlalu kecewa karena tidak bisa menjadi dokter cilik.
“Kalau dokter cilik itu tugasnya apa MInah?” Tanya ibu menyelidik.
“Tugasnya banyak Bu. Setiap hari dokter cilik harus siaga membantu seksi kesehatan sekolah. Kalau ada yang sakit harus siapkan obat dan merawatnya. Karena itu dokter cilik harus pakai seragam setiap hari ke sekolah. Seragamnya bagus lho Bu, seperti dokter sungguhan!”
“Seragamnya itu dikasih Rumah Sakit atau sekolah?”
“Dikasih siapa ya?” Minah mulai berpikir. Pasti harus dibeli oleh murid. Sudah mulai tampak gejala-gejala uang berkeliaran lagi nih, pikirnya.
“Minah tidak tahu Bu. Besok Minah tanyakan ke Pak Guru.”
“Oh iya, dokter cilik tahu obat apa yang harus diberikan dari mana? Bagaimana cara merawat orang sakit, tahu dari siapa?”, tanya ibu Minah lagi.
“Nanti, sebelum bertugas dokter ciliknya akan mendapat pelatihan Bu. Yang melatih dokter dari Rumah Sakit. Pelatihannya sebulan, setiap pulang sekolah.”
“Wah, dokter-dokter yang member pelatihan itu pasti orang yang baik ya. Mereka mau memberi pelatihan gratis ke sekolah-sekolah.”, kata ibu memuji.
Tapi Minah tahu, itu adalah pertanda banyak hal yang harus dia tanyakan ke sekolah. Setahu Minah, kalau ada pelatihan biasanya juga ada biaya. Hal ini belum disampaikan oleh gurunya. Esok Minah akan tanyakan semua hal itu.
Keesokan harinya, sepulang sekolah Minah menanyakan perihal seragam dan pelatihan. Memang benar perkiraan Minah, semua itu memerlukan biaya. Dan biaya itu harus ditanggung oleh murid yang mengikutinya. Bahkan jumlahnya tiga kali lipat dari pentas seni dahulu.
Minah tahu diri, tidak mungkin bagi dirinya ikut serta. Pada akhirnya, kawan Minah yang kurang berprestasi tapi banyak uanglah yang bisa ikut. Memang sedih kalau tidak punya uang, pikir Minah. Tekad Minah, tidak akan menjadi orang susah kalau nanti sudah besar. Minah tidak ingin kekecewaan hanya karena tidak punya uang terulang lagi. Dia akan pikirkan cara supaya bisa mendapatkan uang seperti sewaktu menjual cairan balon dulu.


