Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Prayer’ Category

Dipilih, Bukan Memilih

Monday, October 12th, 2009

Sebuah renungan cetek dari seorang manusia biasa di http://www.schoolofuniverse.com

Setiap manusia lahir ke dunia dalam keadaan fitrah. Bagaikan kertas putih yang siap ditulisi, oleh orang tuanya.

Tulisan ini, diharapkan ringan-ringan saja. Anggap seperti pengantar tidur, yang kalo enak dibaca membuat mimpi yang indah. Kalo ngga enak dibaca, bisa cepat membuat ngantuk, hehehe.

Seperti yang telah ditulis di atas, manusia lahir ke dunia dengan keadaan fitrah. Masih bersih dan polos. Otaknya tidak dipenuhi pikiran ngeres, juga ngga kepikiran untuk KKN. Jangankan untuk berbuat jahat, mengatasi lapar saja hanya bisa dengan menangis dan menangis. Bahkan untuk sekedar dikasih susu harus disodori, belum bisa mencari sendiri atau mengambil sumber makanannya sendiri.

Manusia ga bisa memilih orang tuanya. Dilahirkan apa adanya. Ada yang dari keluarga kaya juga keluarga miskin. Ada yang dari keturunan baik-baik ada juga yang anak penjahat. Agamanya ini, itu, juga ngga bisa dipilih.

Padahal orang tua itulah yang akan menulisi si kertas putih dengan segala apa yang dimilikinya. Hartanya, makanannya, teman-temannya, semuanya. Termasuk juga di dalamnya, keyakinan akan Tuhan. Bahkan si anak yang bagai sponge itu, akan menelan dan menerima apapun yang diberikan dari orang tua dan alam sekitarnya. Tanpa tedeng aling, tanpa pertimbangan, dan tanpa dipikirkan.

Termasuk keyakinan pada Tuhan? Ya, termasuk itu. Entah yang namanya doktrin, entah yang namanya cuci otak, atau yang lainnya. Kebanyakan manusia akan mengikuti keyakinan orang tuanya. Sangat sedikit sekali, orang yang benar-benar mencari Tuhannya dari nol. Selalu ada prasangka, selalu ada asumsi, selalu ada nilai mula bahwa keyakinan orang tuanya adalah BENAR.

Perjalanan mencari Tuhan, menjadi perjalanan mencari pembenaran akan keyakinan orang tua. Sedangkan keyakinan yang lain, akan dicari salahnya. Kata orang, pelintar pelintir. Bahkan kejadian alampun sengaja dihitung-hitung untuk sekedar justifikasi kalau ajaran yang diyakininya itu benar.

Entah apa rahasia Tuhan, melahirkan saya dari orang tua beragama Islam sedangkan teman saya yang lain ada yang Kristen, Buddha, Hindu, dan lainnya. Entah kenapa Dia memilihkan saya agama ini sedangkan ada juga yang dipilihkan agama yang lain.

Rencana Tuhan memang sungguh rahasia. Alhamdulillah, saat ini saya sampai pada kesimpulan ngga perlu cari tahu apa rahasia Tuhan. Cukup saya jalani peran saya sebagai manusia biasa sebaik-baiknya. Menjalankan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi apa yang dilarang Nya, sejauh yang saya mau dan mampu. Rahasia Tuhan memang sering ga sampai dengan logika manusia biasa seperti saya. Makanya, orang-orang alim sering menamakannya dengan iman, keyakinan pada hal-hal yang seperti itu.

Bicara iman atau keyakinan, bukan area keahlian saya. Biar saja menjadi bahan diskusi orang-orang hebat yang bertebaran di luar sana. Sementara itu, biar saya memilih menikmati peran manusia biasa saya di sini sebagai mana telah Dia pilihkan untuk saya, sejak dulu kala.

Buat istriku tersayang, maaf ya ternyata tulisan macam ini akhirnya keluar juga. Mudah-mudahan mimpi indah, bukan cepat mengantuk. Kutipan terakhir sebelum tidur

Masa lalu sudah tidak bisa dirubah, masa depan harus diciptakan

  • Share/Bookmark

Renungan Hari Ini

Wednesday, December 31st, 2008

Setiap orang punya jalan masing-masing. Sewaktu dilahirkan ngga ada manusia yang bisa milih lahir dari keluarga beragama apa, sekaya apa, atau sepintar apa.
Ada yang agamanya Islam, percaya Islam itu yang benar dan yang lain salah. Agama Katolik, Hindu, dan yang lainnya pun sama. Semua agama punya perangkat untuk memvalidasi agamanya. Bahkan cerita tentang terjadinya mukzizat ternyata juga tidak hanya menjadi milik satu agama saja.
Mana yang benar? Ikuti saja jalan masing-masing, nanti juga akan ketemu jawabannya. Terutama sekali ketika semua makhluk sudah mati (eh itu buat yang percaya semua akan mati ya). Kalo ternyata jalan yang dipilih salah, ya terima saja nasibnya. Toh anda juga ngga melakukan pemilihan apa-apa kan sewaktu dilahirkan kedunia. Itu given.
Tapi alangkah baiknya kalau kita menentukan apa yang kita inginkan sebagai jalan kita. Dengan berpikir dan menjalankannya. Menikmati proses memilih, memutuskan, dan menjalani adalah sesuatu yang lebih menyenangkan daripada sekedar menerima apa adanya. Menerima hasil dari pilihan, keputusan, dan perbuatan adalah lebih menyenangkan daripada menyesalinya.

SoU

  • Share/Bookmark

Pertanyaan Sebelum Datangnya Kematian

Friday, November 14th, 2008

Pernah beberapa kali pertanyaan ini melintas dipikiran saya. Apa yang akan terjadi ketika saya akan meninggal? Dirunut-runut melihat pengalaman orang-orang yang meninggal, saya coba list pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan proses meninggal.

Pertama, kalo saya nanti meninggal kira-kira karena apa ya? Sebelumnya saya pernah bikin tulisan tentang memilih cara meninggal, yaitu suatu pekerjaan yang kita senangi. Ada yang senang dakwah, meninggalnya ketika berdakwah. Ada yang senang naik motor gede, meninggalnya juga saat naik motor gede. Tetapi sebab meninggalnya bukan itu sih. Misalnya Gito Rollies meninggal karena sakit keras sedangkan Sophan Sopian meninggal karena kecelakaan. Ketika saya mengantar mertua berobat ke sebuah rumah sakit, di sana juga ada yang meninggal gara-gara disantet. Ada juga yang sedang ngobrol tiba-tiba meninggal. Ngga ada tanda, ngga ada sebab. Dulu saya rindu sekali meninggal sebagai syuhada. Entah meninggalnya karena berperang atau sebab lainnya tapi bisa dikategorikan sebagai syahid. Sekarang entahlah, saya ngga tau lagi. Punya keinginan sebab mati juga ngga mungkin, tapi mudah-mudahan tidak memberatkan orang-orang yang dekat dengan saya. Kasihan kan.

Yang kedua, kalo saya sudah mau meninggal, siapa ya yang kira-kira membantu membimbing saya mengucap kalimat syahadat? Kalo lihat di film sih, banyak orang yang meninggal setelah mengucapkan kalimat-kalimat yang baik. Ada yang sebelum meninggal bersyahadat terlebih dahulu, ada yang bertakbir, ada juga yang bilang: “T t t tteruskan pp per juaangan kuuu aaaaaakkkkh”. Kalo melihat kenyataannya, tidak semudah itu mengharapkan bisa meninggal dengan kalimat terakhir yang baik. Kalo perkiraan saya, lagi-lagi berhubungan dengan kegiatan yang sering kita lakukan. Kalo kita sering berdzikir, sering bertasbih, tahmid, dan takbir, insya Allah kata-kata itu juga yang terakhir keluar dari bibir kita. Ada yang cerita seorang kenek yang terjatuh dari bisnya ketika akan meninggal malah keluar nama tempat yang biasa dia teriakkan ketika sedang menarik penumpang. Ada lagi yang katanya gerakan tangan dan tubuhnya seolah-olah sedang menghitung uang. Kayaknya kalo kita berharap ada kata-kata terakhir yang akan keluar dari bibir kita, harus sudah mulai sering kita ucapkan saat kita masih sadar. Sampai-sampai kalo kita sadarpun kata-kata itu yang akan sering keluar dari mulut kita. Beberapa orang yang saya kenal masih berkomat-kamit seperti memuji-muji Allah ketika mereka menjelang ajal. Biasanya sih, beberapa hari menjelang ajal suka sudah tidak sadar. Kecuali kalo yang matinya karena kecelakaan ya. Tapi mungkin juga sih kata-kata yang keluar adalah yang sering diucapkan ketika tidak sadar. Misalnya kalo orang yang sewaktu hidupnya terkaget-kaget mengucapkan astaghfirullah atau Allohu Akbar, kayaknya pas kecelakaan dan meninggal juga akan mengucapkan kata-kata itu. Sekarang bayangkan betapa lucunya seorang yang sewaktu hidup dan sering kaget mengucapkan nama-nama binatang, terus pas kecelakaan dan mau meninggal kata-kata itu juga yang keluar hehehe. Naudzu billah deh.

Ketiga, kalo pas meninggal siapa yang ngurusin ya? Ngerepotin ngga ya kira-kira? Kalo meninggalnya siang hari dan hari kerja, mungkin ngga nyusahin yang ngurus. Mau beli kain kafan dan kapas gampang. Mau mesen kubur juga ngga susah. Kalo meninggalnya jam 12 malam? Masa harus ditunggu sampai siang dulu sih baru diurusin. Mertua saya sudah menyiapkan kain kafan dan kapas sejak berbulan sebelum meninggal. Alhamdulillah, ketika meninggal malam hari tidak merepotkan keluarga untuk mencari keperluan pengurusan jenazah, sehingga bisa langsung diurus malam itu juga dan siap untuk dikuburkan pagi-pagi sekali. Pengurusan jenazah berkaitan dengan pemandian dan pensholatan. Meskipun saya sudah beberapa kali ikut kursus pengurusan jenazah, kayaknya tetap mesti buka kamus dulu deh untuk pelaksanaannya. Banyak yang lupa. Lah kalo keluarga ngga ada yang bisa gimana? Siapa yang mau mandikan dan menyolatkan? Bisa sih dimandikan oleh orang lain, tapi kan lebih baik kalo dimandikan oleh keluarga sendiri. Senang juga kalo anak sendiri yang bisa mengimami sholat jenazahnya.

Keempat, siapa yang akan mengantarkan jenazah dan mendoakan? Sewaktu tetangga saya meninggal, yang mengantarkan sampai ke kubur bisa dihitung dengan jari. Soalnya sudah tua dan tidak terlalu aktif di masyarakat. Kalo saya, paling ya teman kantor aja sama tetangga. Itupun kalo ada yang mau. Maklum deh, saya kan belum terasa kehadirannya oleh orang lain. Kalo orang yang sudah terasa kehadirannya, kehilangannya pun akan terasa dan orang akan memperjuangkan waktu dan tenaga untuk mengantarkan. Seperti yang saya lihat ketika uwak saya meninggal, begitu banyak orang yang datang untuk menyolatkan dan mengantarkan. Begitu juga ketika seorang aktivis meninggal, banyak kawan sesama aktivis yang ikut mengantarkan. Pak Harto, meskipun banyak yang benci ternyata banyak juga yang mengantarkan. Artinya Pak Harto adalah orang yang terasa kehadirannya. Ketika mertua saya meninggal, banyak juga yang mau ikut mengantarkan ke kubur. Tapi kebetulan tempat tinggalnya bukan berisi orang-orang berada yang punya kendaraan pribadi, sedangkan jarak ke pekuburan umum juga cukup jauh. Mau ngga mau harus disiapkan kendaraan untuk mengangkut para pengiring ini. Biasanya sih biar banyak daya muatnya disiapkan bis atau truk. Keluarga harus rela keluar uang sedikit yang penting almarhum banyak yang mengantarkan dan mendoakan. Apalagi katanya setelah 40 langkah pengiring meninggalkan kubur, maka sudah harus bersiap-siap berhadapan dengan malaikat yang bertanya dalam kubur.

Kelima, kira-kira keluarga mendoakan terus ngga ya? Menurut ajaran Islam, semua amal sudah terputus setelah kita meninggal. Ngga ada lagi usaha yang bisa kita lakukan untuk menambah pahala atau mengurangi dosa. Yang tinggal adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariah, dan doa dari anak. Mudah-mudahan anak-anak saya selalu ingat untuk mendoakan orangtuanya. Jangan sampe deh, punya anak yang cuma bisa berkelahi berebut warisan setelah ortunya meninggal. Saya setuju dengan keputusan untuk membuat masjid atau jadi tabung abadi penyantunan orang yang membutuhkan daripada sekedar diwariskan ke anak. Biar deh ditinggalkan secukupnya saja, anak juga sudah punya rejeki sendiri, ngga harus dari orangtua terus. Mudah-mudahan sempat menyiapkan anak menjadi anak yang sholeh dan ngga bergantung dengan suapan orangtua terus. Jadi ketika saya nanti meninggal, mereka bisa jadi jalan penghapusan dosa saya dan juga mereka bisa meneruskan hidup dengan baik sepeninggal saya. Aamiin. Gimana dengan anda?

  • Share/Bookmark

Bidadari Itu

Thursday, March 27th, 2008

Sepuluh tahun yang lalu, aku terkagum melihat CV mu

Ku bayangkan, indahnya hidupku bila bisa memiliki istri sepertimu

Tapi sayang, saat itu kondisi belum memungkinkanku untuk memilihmu

Untungnya, waktu yang berlalu mampu membuatku mengikatmu menjadi istriku.

Enam tahun yang lalu, aku ikut menemani ibumu

berjuang belasan jam lamanya untuk memberi jalan padamu

menjadi anak pertamaku

Tiga hari yang lalu

Aku mengantar ibumu

Ke rumah sakit yang jauh di kota itu

Kata dokternya, kamu belum turun

padahal sudah banyak darah yang keluar dari tubuh ibumu

bagaimana ini?

ya sudah, bawa jalan-jalan saja dulu

ternyata ibumu kesakitan sekali saat berusaha membuatmu turun

akhirnya kami bawa lagi ke rumah sakit

eh, ternyata kamu belum turun juga

tunggu lagi 3 jam, ngga turun-turun akhirnya dokter harus memaksamu

kamu ngga tau sih, kalau dipaksa dokter, sakitnya minta ampun

ibumu sampai harus menangis meraung kesakitan

untungnya ngga lama, 24 Maret 2008 pukul 19:47 waktu GMT +8

kamu lahir ke dunia ini anakku yang ketiga

berat juga ya badanmu, 4 kg

panjang juga ya badanmu, 56 cm

mudah-mudahan kamu menjadi anak yang sholeh, sehat, sejahtera, dan bahagia dunia akhirat

mudah-mudahan, kami orang tuamu dan juga kakak-kakakmu mampu mendidik dan menjaga kalian semua sampai nanti kalian bisa berdikari

sekali lagi, selamat datang di dunia

Naila Azka Aqila

  • Share/Bookmark

Selamat Ulang Tahun Sayang

Friday, January 25th, 2008

Iya, sekali lagi selamat ulang tahun sayang. Ini adalah ulang tahunmu yang ke 7 setelah kau resmi menjadi istriku. Tak terasa ya, waktu berlalu begitu cepat. Hidup apa adanya yang kita jalani berdua ternyata sudah melebihi 5 tahun pertama pernikahan yang katanya tahun-tahun yang perlu diwaspadai.  Kita bisa juga ya melaluinya.

Maaf, kalau ulang tahun yang sekarang masih seperti ulang tahun sebelumnya. Tanpa ada pesta dan tanpa ada hadiah. Seandainya saja, kita sudah pulang ke Indonesia tentu ceritanya berbeda. Anak-anak bisa kita titipkan dan kita bisa menghabiskan waktu berdua saja.

Hidup bersamaku sekarang ini mungkin belum bisa memberikan apa-apa untukmu. Baru bisa menyusahkanmu dengan pekerjaan rumah yang itu-itu saja dan juga mengurus, menanti anak kita yang ketiga. Aku tahu, aku sering sok sibuk dengan urusanku. Karena itu aku berterima kasih kepadamu karena bersabar menerima keadaan keluarga kita ini apa adanya.

Hadiah untuk tahun ini, masih sama saja. Cuma do’a. Mudah-mudahan do’a ini ikhlas dari hati yang terdalam sehingga didengar oleh Allah dan dikabulkan.

Semoga engkau istriku, diberikan kesehatan, kecukupan rejeki, kesempatan berkembang, kemudahan menghadapi masalah, dan juga kebahagiaan dunia akhirat. Mudah-mudahan nanti saat melahirkan engkau diberi kekuatan dan kemudahan. Do’anya pendek, karena aku ngga pandai mendo’akan orang lain. Mudah-mudahan do’a yang pendek ini sudah cukup untukmu, bidadariku.

Aamiin.

  • Share/Bookmark

Catatan Nikmat Ketiga

Wednesday, January 9th, 2008

Tak henti-hentinya Dia melimpahkan nikmat yang teramat sangat untukku. Segala puji memang hanya untuk Dia.

Kalau boleh dibilang, aku ini orang biasa-biasa saja. Lahir bukan dari keluarga kaya raya. Dalam pendidikan pun, ya sedang-sedang saja. Tidak jenius dan tidak juga idiot. Tapi kenapa aku selalu beruntung?

Kata orang sih, ini karena usaha orangtua. Apa yang aku nikmati sekarang ini sebenarnya adalah hasil dari kesolehan dan ketekunan orangtua. Aku bisa sekolah yang baik, ya karena orangtua yang mendukung dalam hal biaya, semangat, dan juga menyiapkan semua keperluannya.

Aku hidup senang, karena mungkin orangtuaku juga hanya mengambil rejeki yang halal saja. Tidak sedikit lho, orang kaya yang anaknya amburadul karena sering nilep duit tidak halal. Aku dihormati dilingkungan tetangga, karena mereka mengenal orangtuaku sebagai orang baik-baik dan berjasa. Akunya sendiri sih, ngga melakukan apa-apa.

Beruntungnya aku punya orangtua seperti mereka.

Dan ternyata, akupun beruntung mendapatkan seorang pendamping hidup seperti istriku. Orang baik yang punya pandangan hidup baik juga. Bukan sekali dua aku mengakui kalo cara pandang hidup istriku jauh lebih baik daripada cara pandang hidupku.

Beruntung karena meskipun aku orang biasa-biasa saja, dia masih mau memilih aku menjadi suaminya. Padahal, banyak ketua-ketua organisasi yang memilih dia. Banyak orang-orang hebat yang mengagumi dirinya. Entah kenapa, koq dia malah milih aku. Apa kesambet pelet? Ngga tau deh, yang penting aku beruntung memiliki dia.

Terima kasih untuk hari ini Tuhan, aku bisa mengingati nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan.

  • Share/Bookmark

Menanti (lagi) Datangnya Si Buah Hati

Friday, August 3rd, 2007

Assalamu ‘alaikum. Apa kabar sahabat? Semoga sahabat semua dalam keadaan sehat, sejahtera, dan bahagia. Begitu juga aku sekarang sehat, sejahtera, dan bahagia.

Bahagia? Ya, saat ini kami, aku dan istriku, sedang berbahagia menanti buah hati kami yang ketiga. Sudah hampir lupa bagaimana rasanya menanti buah hati. Kalau istriku sih, masih agak takut. Soalnya masih terasa susahnya melahirkan. Apalagi, kali ini kami sedang berada di negeri orang. Jauh dari keluarga yang dulu sangat membantu kami dalam mempersiapkan kelahiran anak-anak kami. (more…)

  • Share/Bookmark

A new day, and it is a great day

Friday, July 6th, 2007

Hello everyone, peace upon you all.

This is my very own website. I want this to be a place for me to prey good things for all of us. One day some of us could have a very hard day. No one seems to help or even care about us. But you know, everybody have their own problems. On the day you have your problem they might have to fight even harder to solve their problem.

So this can be a place to wish or hope everybody a good luck on their struggle to solve their problem. You might not be able to help directly. But your wish, your pray can be a way of God’s hand to help them. Giving positive aura, and support.

Oke, have a good time while visiting my website. And I wish you a God bless with health, wealth, and all kind of goodness.

Today is a great day!!!!!

  • Share/Bookmark