Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘energi’

Mencari Persamaan Umum Konsumsi Minyak Bumi di Indonesia

Monday, May 25th, 2009

Sejak awal 2008 lalu saya mulai menekuni ilmu prediksi. Bukan menjadi pencenayang atau peramal yang pakai kuasa gaib. Saya pakai persamaan matematika saja. Matematikanya sederhana, ngga rumit, tapi hasilnya lumayan bagus.

Pada awalnya, studi saya hanya mengambil kasus di Malaysia. Dalam waktu setahun, sudah banyak model yang saya coba. Pertama kali saya coba konsumsi sebagai fungsi waktu saja. Ternyata hanya bagus saat fitting saja. Ketika dipakai untuk prediksi hasilnya melenceng dari yang dihadapkan.

Setelah itu, saya mencoba tiga model yang berbeda. Model autoregressive adalah model yang menggunakan nilai konsumsi minyak bumi sebelumnya untuk mencari nilai di masa depan. Hasilnya lumayan, tapi errornya masih besar. Setelah itu saya coba model multivariate yang variabelnya saya ambil dari tulisan Treyz dan kawan-kawan. Dari empat variabel yang disarankan saya ambil 3 saja karena data itu yang tersedia. Hasilnya lebih bagus daripada autoregressive. Penasaran saya coba lagi kombinasikan autoregressive dan multivariate, jadilah autoregressive exogenous model. Ternyata hasilnya jauh lebih bagus dari 3 model yang lain, bahkan ketika dipakai untuk prediksi sudah mirip dengan hasil prediksi yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia. Padahal dari jumlah variabel model yang saya pakai jauh lebih sedikit.

Setelah puas dengan performa model konvensional, saya beralih ke model cerdas menggunakan jaringan syaraf tiruan. Persamaan matematika diturunkan langsung dari model konvensional dan menggunakan Multi Layer Perceptron, 1 hidden layer, dengan tansig sebagai activation function di hidden layer dan purelinear di output layer. Ternyata hasilnya jauh lebih bagus. Dengan menggunakan data yang lebih sedikit error yang dihasilkan sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional.

Semua model di atas sudah/atau saya publikasikan dalam seminar internasional. Yang pertama bisa dicari di IEEE explore dengan kata kunci nama saya. Yang kedua dipresentasikan dalam seminar internasional di Oman. Yang ketiga, perbandingan model konvensional dan jaringan syaraf tiruan sudah diterima untuk dipresentasikan di Singapura.

Tetapi pengembangan model tidak berhenti disitu saja. Pembimbing meminta saya mengaplikasikan proses pemodelan yang sama untuk beberapa negara lainnya. China, India, Indonesia, Pakistan, Thailand, dan Filipina adalah negara yang saya pilih untuk studi kasus. Ternyata hasilnya ga seberapa bagus. Baik model konvensional dan cerdas, ga ada yang bisa mengikuti trend dari konsumsi minyak di negara yang saya pakai sebagai studi kasus. Ada sih yang sudah ngikut, tapi errornya masih terlalu besar.

Akhirnya saya sudah dapatkan solusinya dengan sedikit memanipulasi persamaan matematika dari metode konvensional. Modifikasi ini sangat sederhana jadi saya ngga mau nulis di sini dulu, sampai saya sudah ada publikasi resmi di seminar internasional. Bahkan kalau mungkin sih masuk jurnal. Mimpi kali ye. Tapi modifikasi yang saya buat ini setidaknya membuat model konvensional dan cerdas bisa mengikuti trend konsumsi minyak bumi di negara-negara yang saya sebutkan di atas tadi.

Modelnya sudah bagus untuk prediksi konsumsi minyak bumi. Bagaimana kalau diterapkan untuk sumber energi lain? Saya ngga begitu tertarik mengembangkannya. Kalau bisa sih, dengan yang ada sekarang sudah bisa bikin saya lulus hehehe. Amin amin amin. Mungkin kalau nanti sudah balik ke Indonesia, baru dikembangkan lagi untuk studi kasus lainnya. Sementara ini, finishing touch untuk model harus dilakukan biar terlihat wah sedikit.

Ada yang tertarik untuk mengembangkan model yang saya buat untuk sumber energi lain?

  • Share/Bookmark

Ketahanan Energi

Wednesday, April 1st, 2009

Kebutuhan energi di Indonesia dipenuhi dari berbagai macam bentuk asal seperti Minyak Bumi, Gas Alam, Batubara, Hidro, atau dari yang sedang ngetrend sekarang, bio fuel. Dari berbagai macam bentuk asal tersebut, dirubah lagi menjadi bentuk energi siap pakai yang utama seperti BBM dan listrik. Bentuk energi siap pakai inilah yang digunakan untuk menggerakkan roda ekonomi bangsa Indonesia dari mulai industri sampai ke rumah tangga.

Mulai tahun 2004, Indonesia sudah tidak bisa memenuhi semua kebutuhan minyak bumi dari produksi sendiri. Mungkin 10 – 20% kebutuhan minyak Indonesia didapatkan dari mengimpor. Kebutuhan bentuk energi asal yang lain seperti Gas Alam dan Batubara alhamdulillah Indonesia masih memiliki produksi yang lebih banyak dibandingkan kebutuhan dalam negeri. Lagi pula cadangannya jauh lebih banyak dibandingkan cadangan minyak bumi. Mungkin masih cukup untuk beberapa puluh tahun ke depan.

Tapi sayangnya, meskipun produksinya lebih banyak dari konsumsi, sebagian besar gas alam Indonesia dipakai untuk ekspor ke luar negeri. Karena itulah beberapa industri di Indonesia sudah mulai kelimpungan mencari bahan bakar gas untuk keperluan produksinya. Misalnya yang sedang perlu banget adalah industri pupuk.

Sebenarnya pemerintah sudah melakukan keputusan yang baik dengan memprioritaskan kebutuhan gas alam dalam negeri. Tetapi karena gas alam ini harganya murah, maka negara lain pun susah payah ingin mendapatkannya dari Indonesia. Misalnya Jepang yang membutuhkan gas alam dalam jumlah banyak untuk industri pembangkitan listriknya. Dengan memakai bahan bakar gas yang murah dari Indonesia, mereka bisa memproduksi listrik dengan biaya yang lebih rendah.

Bagaimana dengan Indonesia? Industri listrik Indonesia katanya kurang bisa berkembang akibat terlalu besar subsidi. Apalagi dengan beberapa kasus pembangkit swasta yang menjual listriknya ke PLN dengan harga di atas harga jual PLN ke konsumen. Akibatnya PLN sering jadi sumber pemorotan keuangan negara. Padahal, kata teman-teman yang kerja di PLN, mereka masih sanggup koq memproduksi listrik dengan harga murah tanpa perlu bantuan pihak swasta.

Coba baca berita di koran kompas hari ini (31 Maret 2009) di mana Dubes Jepang untuk Indonesia menyurati Presiden sambil “mengancam” kelangsungan investasi Jepang di Indonesia akibat terkatung-katungnya proyek gas alam untuk industri listrik mereka. Bagaimana ya keputusan pemerintah? Apakah akan mengalah demi industri luar negeri mendapatkan biaya murah pembangkitan listrik atau lebih mementingkan industri dalam negeri?

Sewaktu supervisor saya masih orang Indonesia, beliau bercerita tentang istrinya yang diundang oleh Perdana Mentri Malaysia. Biasalah, perusahaan energi di Malaysia ada yang tertarik untuk mendapatkan hak mengusahakan gas alam di Indonesia. Untungnya orang PERTAMINA sekarang masih mementingkan kepentingan rakyat Indonesia. Bayangkan, jumlah penduduk miskin Indonesia saja lebih besar daripada jumlah penduduk seluruh Malaysia. Tapi perusahaan Malaysia masih ingin juga untuk bisa mengelola gas alam di Indonesia untuk kesejahteraan rakyat Malaysia.

Coba kita lihat keputusan apa yang akan diambil pemerintah. Apa bisa seperti pemerintah Malaysia dan Jepang, yang bersedia bahkan untuk mengambil sumber daya di negara lain demi kesejahteraan rakyatnya? Kalau bisa, maka layaklah orang itu kita pilih jadi pemimpin bangsa Indonesia untuk 5 tahun ke depan.

  • Share/Bookmark