Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘finansial’

Perencanaan Finansial = Perencanaan Perjalanan

Thursday, November 19th, 2009

Beberapa waktu ini iseng membaca-baca tulisan lain untuk menetralisir pengaruh riset yang mentok. Biar fresh gitu lho. Salah satu diantaranya adalah artikel-artikel tentang perencanaan finansial yang saya akses dari blog keuanganpribadi.com dan perencanakeuangan.com. Sebenarnya kata orang masih banyak sih, tersebar di tempat lain. Tapi dari dua tempat ini ada hal menarik yaitu kayaknya perencanaan finansial itu mirip dengan perencanaan perjalanan.

Kalau kita mau melakukan perjalanan biasanya supaya lebih enak kita tentukan dulu mau pergi ke mana, kapan perginya, melakukan apa, dengan budget berapa. Perencanaan finansial juga mirip seperti itu, menentukan dulu tujuan finansial kita. Mau apa, kapan, seperti apa, dan detail-detail kecilnya. Kata keuanganpribadi.com (kata orang yang lain juga hampir sama), tujuan harus spesifik, measurable, achievable, realistic, time framed.

Terus, kita ambil peta deh. Tentukan posisi kita ada dimana, sekaligus dengan potensi yang kita punya. Contohnya sewaktu mau ke Singapura, saya lihat dulu mau berangkatnya dari mana, kampung de tronoh atau Bandung? Ternyata enakan dari Tronoh. Terus udah punya tabungan berapa, punya cash flow berapa, dan bandingkan dengan pengalaman orang lain yang udah pernah jalan ke Singapura kira-kira habis berapa. Dari sini tau, harus ngumpulin duit berapa banyak dan berapa lama. Perencanaan finansial juga ternyata sama aja. Harus tau dulu posisi finansial ada dimana. Kalo dalam bahasa keuanganpribadi punya harta bersih dan cash flow berapa. Dari sana kita bisa pilih, jalan mana yang akan ditempuh untuk sampai tujuan.

Untuk sampai Singapura ada beberapa mode perjalanan. Misalnya naik bis yang ternyata ada yang langsung dari dekat rumah ke Singapura. Terus ada yang pakai kereta api dan juga pesawat terbang. Nah, diatur-atur deh supaya perjalanannya menyenangkan, sesuai budget, dan tidak merepotkan. Ngga mungkin dong, pilih perjalanan yang sampai di Singapuranya malam. Rugi, udah cape di jalan, istirahat sebentar, eh bayarnya sama.  Mending milih yang sampainya tuh siang, pas waktu check in. Jadi pas datang bisa langsung tidur (Lho?).

Perencanaan finansial juga sama, perlu pilih jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Pilih yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan. Ada yang milih bersusah-susah dulu waktu muda baru bersenang-senang diwaktu tua. Misalnya dia pilih bekerja keras mengumpulkan uang diwaktu muda biar uangnya bisa digunakan mensupport kebutuhan diwaktu tua. Ada juga yang pilih senang-senang dulu, senang-senang kemudian.

Lha, emangnya ada? Ada kali ya, cuma memang perlu waktu yang lebih untuk belajar dan menyusun strateginya. Sewaktu pergi ke Singapura, entah berapa jam yang kami habiskan hanya untuk ngukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan, menikmati tempat wisatanya, dan juga uang yang harus dikeluarkan. Tapi worth it lah. Dibandingkan kawan lain yang hanya mengunjungi tempat umum saja, saya bisa pergi ke tempat yang lebih banyak hanya dalam waktu 1 hari (Gile bener kali ya, jalan-jalan keliling Singapura dalam 1 hari). Jadi kayaknya kalau mau gali lebih dalam, seharusnya ada jalan yang lebih enak dan menyenangkan dalam mencapai tujuan finansial kita.

Last but not least adalah melakukan perjalanannya dan selalu siap dengan plan B, C, D, dst. Perjalanan selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan. Misalnya sewaktu jalan ke Penang, sudah jelas tujuannya ke Pantai Batu Feringghi tapi ditengah jalan mobil mogok. Wah, seharusnya kami sedang mandi di pantai dan bersenang-senang ini malah pusing sama mobil yang ngga mau jalan. Akhirnya harus diputuskan untuk tetap pergi ke tujuan dengan cara yang lain. Masa, gara-gara ada masalah dijalan lalu kita melupakan tujuan semula? Ngga kan.

Sewaktu ke Singapura juga sama, jadwal berangkat yang telat terus urusan imigrasi yang lama membuat kami baru berhenti di Singapura jam 10 pagi yang seharusnya kami sudah keluar dari satu tempat rekreasi. Akhirnya untuk efisiensi waktu kami harus rela keluar lebih sedikit pakai taksi. Yang penting, tujuan tercapai.

Perencanaan finansial juga sama. Apalagi yang namanya ekonomi, biangnya finansial, selalu penuh ketidakpastian. Saat ada gangguan diperjalanan, maka harus disiapkan plan B nya supaya tujuan tetap tercapai.

Terus gimana? Udah bikin perencanaan finansialnya? Ternyata belum juga tuh, baru teorema hehehe. Apalagi dengan gaji PNS, kira-kira bisa tercapai ga ya?

  • Share/Bookmark

Biar Irit

Sunday, April 5th, 2009

Teman kerja saya pernah cerita, ada sekelompok supir angkutan kota dari satu daerah yang sama berpatungan membeli mobil angkutan kota. Setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap mobil itu dari mulai perawatannya, cicilannya, dan juga hak memakainya.

Setiap supir memiliki jumlah jam operasi yang sama kalau dihitung sehari-harinya. Dari jumlah jam itu, ada kewajiban setoran yang harus dibayar. Setoran ini nanti dibagi-bagi untuk cicilan dan biaya perawatan rutin seperti membeli rem, oli, dan tetek bengek lainnya. Cicilannya ternyata hampir sama dengan jumlah setoran yang harus disiapkan kalau seandainya mereka meminjam mobil milik orang lain. Bedanya, sekarang mobilnya menjadi milik mereka, bukan milik orang lain.

Dari perkongsian itu mereka bisa mengirit uang setoran yang cukup lumayan. Sekarang mereka menyetor kepada diri sendiri, tidak kepada orang lain. Selain itu, karena mereka merasa mobilnya milik sendiri, maka rasa sayang ke mobil juga lebih tinggi dan juga punya rasa segan karena ini adalah milik bersama. Digunakan secara hati-hati dan penuh tanggung jawab. Irit perawatan karena dikongsi bersama biayanya.

Kawan saya yang lain juga punya kebiasaan irit. Di Malaysia sini, setiap pelanggan listrik yang tagihannya kurang dari RM 20 sebulan maka dibebaskan dari tagihan. Setiap bulan dia mengirit pengeluaran sebesar RM 20 ini dengan cara mematikan lampu-lampu di rumah waktu malam. Kalau lewat depan rumahnya, dari maghrib pun sudah gelap gulita, padahal banyak kegiatan dalam rumah itu.

Ada juga teman yang mengirit dalam pembelanjaan makanan. Setiap makan ngga beli nasi. Soalnya nasi di sini lumayan mahal, sepiringnya RM 1. Padahal kalo beli 10 kg cuma RM 28, itu bisa berbulan-bulan kalau cuma 2 orang yang makan. Nasi bawa sendiri, lauknya beli sekali untuk 3 kali makan.

Pengiritan lain yang biasa dilakukan oleh saya sendiri adalah dengan memakai rice cooker. Biasanya kalau pakai kompor untuk memasak nasi, paling banter satu tabung gas itu tahan untuk 1 bulan. Dengan memakai rice cooker, satu tabung gas bisa awet untuk 2 bulan. Padahal dari sisi tagihan listrik, kenaikannya tidak signifikan. Lumayan lah pengiritan. Supaya irit, rice cooker tidak dipakai untuk menghangatkan nasi bila tidak diperlukan. Saat mau dimakan saja rice cookernya dinyalakan supaya lebih irit. Nasinya juga lumayan tahan.

Antar jemput anak juga salah satu bentuk pengeluaran yang bisa diirit. Selain irit biaya, juga irit waktu. Dari pada setiap hari pulang pergi kantor dan sekolah, mendingan berkongsi dengan kawan yang lain untuk antar jemput anak. Selain itu anak juga lebih senang karena ada teman saat pergi dan pulang sekolah.

Beli barang pun, cari diskonan. Apalagi kalo yang diskon gede-gedean, sampe 70% misalnya. Ngga sayang harus bayar iuran tahunan kartu anggota supermarket atau swalayan. Soalnya kalo hitung punya hitung, jumlah diskon buat anggota ternyata jauh lebih besar dari biaya tahunan. Apalagi kalau barangnya rutin dibeli seperti keperluan bulanan, beras, susu, dll.

Di Jakarta, beberapa tahun lalu juga terjadi kebakaran. Korban kebakaran akhirnya berpatungan untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti makanan, sabun, dan keperluan rumah tangga lainnya. Ternyata kalau belinya banyak, harganya pun bisa jadi lebih murah. Lumayan kan.

Tambah apa lagi ya yang bisa ngirit?

  • Share/Bookmark