Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘Indonesia’

Nikmatnya E-Government

Sunday, September 13th, 2009

Ini tulisan khusus untuk teman-teman di Jurusan Teknik Komputer Politeknik Negeri Bandung yang katanya sedang menjajagi kerja sama kuliah e-government dengan pegawai Pemda. Sebuah cerita tentang pengalaman menikmati e-government di negara tetangga, Malaysia.

Di Indonesia, KTP itu adalah barang murahan. Asal ada uang, mau punya berpuluh KTP juga bisa. Bahkan pernah disiarkan dalam berita di detik.com bahwa seseorang yang melek hukum saja punya lebih dari 2 KTP.

Sewaktu prajabatan dulu juga sama. Kebetulan kawan-kawan banyak yang atlet dan mereka bercerita bagaimana gampangnya mereka mendapatkan KTP, bahkan ga perlu bayar. Cukup tunggu pesanan daerah yang memerlukan atlet, mereka akan dibuatkan oleh daerah pemesan mereka. Jadi ngga heran satu orang bisa punya beberapa KTP.

Isu Single Identity Number, masih jadi sekedar isu karena penerapannya masih jauh dari jalan yang benar. Selama ngga ada sesuatu yang melekat, maka kartu pengenalan bisa dibuat kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja, asal mau bayar atau mau dibayar.

Di Malaysia, kartu pengenalan mengandung informasi biologi, Bio Metric gitu deh. Meskipun saya ngga tau informasi apa yang dikandung dalam kartu itu, tapi setiap pembuatan account memerlukan pemeriksaan sidik jari dari pemegang kartu. Kalau sudah pakai sidik jari, seharusnya sih bisa jadi single identity ya karena sidik jari setiap manusia kan unik. Lah, terus yang ngga punya jari gimana? ngga tau tuh, mungkin ada metoda verifikasi lain yang bisa dilakukan misalnya sidik buku jari, jari kaki, retina, atau yang lainnya. Verifikasinya juga dilakukan secara online, kartu identitas cerdas tinggal dimasukkan ke dalam alat, dan di alat itu juga disediakan scanner sidik jari, langsung diperiksa secara online.

Pengurusan yang lain pun mudah. Selain KTP tadi, ada juga pengurusan pajak online (udah ada juga kali ya di Indonesia), imigrasi online, dan lainnya.

Layanan yang sudah pernah saya pakai atau teman saya pernah pakai diantaranya adalah pendaftaran akte kelahiran. Pada saat daftar, cukup bawa surat keterangan lahir dari Rumah Sakit / klinik tempat melahirkan, bukti pemeriksaan kesehatan dan identitas orang tua ke kantor catatan sipilnya. Dalam 10 menit, akte kelahiran sudah keluar dengan tanda tangan digital dari pejabat berwenang. Gratis.

Bandingkan dengan Indonesia. OK sama pakai surat keterangan lahir dari RS. Terus, ke RT/RW, kelurahan, setelah itu ke catatan sipil. Proses di RT/RW, kalau orangnya amanah, ngga akan ada uang keluar. Kadang ada juga yang minta sumbangan untuk RT/RW. Setelah itu di kelurahan pun sama, keluar uang untuk tanda tangan. Belum lagi di catatan sipilnya. Selain perlu bayar di atas 100 ribu, kita juga harus menunggu 1 minggu sampai 1 bulan untuk bisa mendapatkan akte kelahiran. Lah, diapain lagi emangnya tuh dokumen sampai lama banget.

Ada satu pengalaman ngga enak. Setelah memasukkan dokumen dan bayar, saya ditetapkan untuk datang lagi diwaktu lain. Pada hari yang sudah ditetapkan saya datang, tapi akte belum ditandatangani juga oleh pejabat berwenang. Katanya, sedang dapat kunjungan. Entah siapa yang mengunjungi akhirnya sampai mendekati waktu tutup kantor akte kelahiran anak saya belum selesai juga. Akhirnya harus datang lagi besoknya. Ternyata sampai ketika saya datang, belum selesai juga. Enteng aja jawabnya, Bu Kepala sedang ada tamu. Halaaaah.  Disuruh datang lagi besoknya saya ngga mau, enak aja emangnya yang punya kerjaan nandatangan cuma dia.

Itu di Bandung, tahun 2003. Entah sekarang sudah seperti apa. Mudah-mudahan sudah lebih baik. Soalnya saya nanti pas balik ke Bandung harus mengurus akta kelahiran anak ketiga saya. Yang pasti harus siap biaya dan waktu lagi, kalau-kalau sistemnya masih seperti itu.

Selain itu sistem pembaruan pajak STNK juga gampang. Tinggal bayar asuransi secara online, terus pergi ke kantor pos, bayar pajaknya langsung dapat deh surat pajaknya. Dulu di Indonesia semua yang mau bayar pajak kendaraan harus pergi ke kantor polisi. Antri dengan yang lain, tak jarang ditawari calo. Sekarang mungkin sudah lebih baik karena ada pengurusan SIM dan STNK berjalan katanya. Mudah-mudahan saya pulang nanti sudah bisa ikut menikmati.

E-government bukan cuma sekedar memberikan interface penduduk untuk melakukan urusan layanan publik. Seharusnya juga bisa jadi media pengawasan dan mengurangi pungli. Enak kan, misalnya belajar dari layanan kurir. Dengan nomor resit, kita bisa pantau barang kita sudah sampai mana dan apa yang sedang terjadi.

Misalnya beberapa waktu lalu saya kirim barang lewat kantor pos, pake EMS. Kita dapat nomor yang ternyata di Malaysia pun bisa dicari barang sudah sampai mana. Tertahan di bea cukai (kastam kalau di sini), tau. Sejak kapan dan diapakan barang kita pun tau. Sudah sampai di kantor pos pusat nya Malaysia, tau. Di kantor pos Perak, tau. Bahkan sampai di kantor pos terdekat dengan rumah pun sudah ketahuan lewat internet.

Coba bayangkan, kalau mengurus bikin kartu keluarga. Sudah masukkan dokumen ke kantor kelurahan, tau. Terus bisa periksa, apakah sudah diproses di kelurahan atau belum. Sudah sampai di kecamatan atau belum. Sudah ditanda tangan atau belum. Kan enak, kalau semua bisa diperiksa lewat internet. Kalau bisa, pembayaran-pembayaran pun dilakukan secara online. Entah di bank, lewat ATM, atau lewat internet. Kan enak bisa mengurangi pungli. Fungsi pengurusan dokumen dan pengurusan uang dilakukan terpisah, biar ga ada lagi pungli.

Yah gitu dulu deh, mudah-mudahan sistem di Indonesia bisa jadi lebih baik. Kalau sistem makin baik, maka saya yakin dalam 10 tahun kedepan Indonesia bisa menjadi negara maju, mengalahkan Malaysia dan Singapura. Bantuan e-government, memang sangat diperlukan.

  • Share/Bookmark

Beasiswa PETRONAS Untuk Lulusan SMA

Thursday, July 30th, 2009

Beasiswa lagi nih, untuk lulusan SMA yang merasa pintar-pintar tapi belum berhasil juga dapat sekolah. Beasiswanya katanya sih lumayan, setidaknya bisa untuk hidup sehari-hari ditambah pulang pergi ke Indonesia kalo pas liburan.

Beasiswa ke Universiti Teknologi PETRONAS. Jurusan yang ditawarkan adalah:

  • Teknik Kimia
  • Teknik Elektro
  • Teknik Mesin
  • Teknik Sipil
  • Teknik Perminyakan
  • Teknik Informatika
  • Sistem Informasi Bisnis
  • Perminyakan dan Geosains

Pengumuman dalam bahasa Inggris, ada di harian kompas tanggal 26 Juli 2009, halaman 33. Yang di sini terjemahan bebasnya saja. Batas terakhir pengiriman berkas adalah 7 Agustus 2009. Syaratnya, umur ga lebih dari 23 tahun, belum menikah, lulus SMA (atau mungkin yang mau lulus juga bisa), bisa boso Inggris karena bahasa pengantarnya English. Kirim berkas penting seperti fc ijasah/raport, kemampuan english, formulir aplikasi dari website utp, 2 foto 4×6, dan dokumen pendukung lainnya ke:

Petronas Representative Office Indonesia
Level 27, Citibank Tower
Bapindo Plaza
Jl. Jend Sudirman Kav 54-55
Jakarta 12190

UTP sudah ada sejak tahun 1997. Mahasiswa di Indonesia di sini ada hampir 200 orang, terdiri dari S1, S2, S3. Dosennya juga ada yang dari Indonesia, bahkan imam masjid UTP adalah orang Indonesia.

Letaknya cukup jauh dari Kuala Lumpur, sekitar 3 jam. Kalau dari lapangan terbang KLIA atau LCCT ya sekitar 5 jam deh. Jauh dari kota karena wilayah sekitarnya masih dalam perkembangan. Kalo mo serius belajar, OK banget deh. Tapi kan, mahasiswa juga manusia perlu hiburan. Kota terdekat sekitar 1 jam kalau naik mobil pribadi. Siapkan waktu sekitar 2 jam kalau naik bis kota.

Tempatnya sekitar 40 km dari Ipoh dan 50 km dari Lumut. Lumut adalah kota transit ke Pulau Pangkor, salah satu tempat wisata terkenal di Malaysia.

Semua mahasiswa S1 diasramakan. Ga bayar lagi. Dapat uang saku sekitar RM 500 sebulan kalo ga salah. Biaya makan sehari-hari sekitar RM 10 – RM 20. Berarti cukuplah uang segitu. Malah kalo masak sendiri bisa jadi lebih murah. Biasanya dapat juga allowance untuk buku dan laptop (kalo ga salah ya hehehe).

Oh iya, jangan terlalu berharap banyak dapat kerjaan di Malaysia setelah selesai karena biasanya recruitment di kampus diutamakan untuk orang Malaysia. Tapi UTP sudah terakreditasi dan ijasahnya diakui Dikti. Bisa dipakai cari kerja di Indonesia. Beberapa mahasiswa lulusan S1 di sini bahkan ada yang langsung masuk program pasca sarjana di Malaysia dan negara-negara Eropa.

Agak beda dengan Universitas lain, kerja praktek di sini waktunya panjang. Sekitar 8 bulan. Udah kayak kerja beneran deh, karena dapat gaji juga. Bahkan dari kampus juga dapat allowance untuk hidup di tempat kerja. Karena itu biasanya ga susah lulusan sini (orang lokal) untuk dapat kerja karena sudah terbiasa dengan lingkungan kerja.

Karena banyak mahasiswa Indonesia, kadang atase pendidikan KBRI datang juga ke sini, nengokin. PPI nya lumayan jalan, tapi yang aktif sih banyakan S1.

Olahraga OK, karena fasilitasnya lengkap. Ada kolam renang, lapangan tenis, bulutangkis, voli, basket, rugby, kayak, silat, bahkan ada fitness center nya juga. Semua gratis, kecuali kalo peralatan macam raket dan cock harus beli sendiri.

Saat ini, mahasiswa Indonesia senang olah raga bareng. Yang paling sering bareng adalah renang, bulu tangkis, dan makan duren (lho makan duren olah raga toh?). Biasanya patungan untuk beli cock. Apalagi kalo menjelang tujuh belasan, suka ada pertandingan olah raga antar mahasiswa Indonesia.

Kehidupan sosial, mungkin agak terbatas karena semua kegiatan dalam kampus. Ga seperti di Indonesia yang bisa kost di luar kampus dan berinteraksi dengan masyarakat hampir tiap hari. Di sini, ya gitu-gitu aja deh. Tapi bukan berarti menutup pintu jodoh, karena ternyata banyak juga yang jadian antar mahasiswa Indonesia. Bahkan ada yang sudah menikah juga.

Kalo ada yang berminat untuk sekolah di sini, silahkan kasih pertanyaan atau komentar. S1, S2, dan S3 juga boleh tanya.

  • Share/Bookmark

Sistem Pertahanan Indonesia

Monday, July 13th, 2009

Sebagai negara kepulauan yang luas dan juga banyak warga negaranya tentu sistem pertahanan yang baik sangat diperlukan. Menjaga kedaulatan bangsa dan juga melindungi bangsa Indonesia dari ancaman dalam dan luar negri adalah beberapa tujuan dari sistem pertahanan yang baik.

Sedihnya memang, banyak peralatan sistem pertahanan belum bisa diproduksi sendiri di dalam negeri. Perangkat militer seperti radar, pesawat tempur, roket, satelit, dan juga berbagai macam senjata masih harus diimpor dari luar negeri. Susahnya lagi kalau terkena embargo peralatan tempur, maka kita akan kesulitan bahkan untuk sekedar memperbaiki peralatan.

Beberapa waktu lalu juga ramai diberitakan tentang banyaknya korban dari pihak militer Indonesia akibat kegagalan fungsi peralatan seperti pesawat latih dan helikopter. Ngga cuma Indonesia sih yang seperti itu, Malaysia juga mengalami hal yang sama. Tapi karena banyak uangnya, tentu Malaysia mampu beli pesawat dan heli yang baru. Malah sekarang Malaysia sudah punya kapal selam yang dibeli dari Perancis.

Untungnya, Indonesia masih punya sumber daya manusia yang hebat. Meskipun sekarang uangnya belum banyak, tetapi dengan berjalannya waktu insya Allah kemampuan untuk menyediakan sendiri sistem pertahanan di Indonesia akan semakin baik. Berikut ini beberapa contoh produksi alat yang berpeluang besar menjadi pendukung sistem pertahanan.

Panser

Beberapa saat setelah pemilu, PT Pindad yang ada di Bandung menyerahkan sebagian panser buatan sendiri untuk militer Indonesia. Ini adalah panser pertama yang berhasil dibuat di dalam negeri. Memang kehandalannya belum teruji di medan perang sungguhan, tapi saya yakin produk ini sudah mengalami pengujian ketat dalam waktu yang lama sehingga bisa diluncurkan sebagai kendaraan perang resmi. Berita agak lengkap bisa dibaca di Kaltim Post.

Roket

Akhirnya Indonesia mampu meluncurkan roket medium. Memang diameternya ga lebih dari setengah meter, tapi jarak jangkauannya lumayan jauh. Kalau benar bisa dikendalikan maka bisa dipakai menembak sasaran dari jarak 100 km.

Roket ini dibuat oleh LAPAN oleh bangsa Indonesia sendiri. Selain berpotensi untuk peluru kendali, roket juga bisa dipakai untuk keperluan eksplorasi antariksa. Menurut rencana, tahun 2014 atau lima tahun setelah tulisan ini dibuat Indonesia sudah bisa meluncurkan satelitnya sendiri dengan roket buatan sendiri.

Satelit

Satelit terutama dibutuhkan dalam telekomunikasi tapi bukan tidak mungkin bisa dimodifikasi untuk kebutuhan sistem pertahanan. Sistem pertahanan Amerika yang menggantungkan informasi dari GPS juga bukan tidak mungkin suatu saat nanti bisa dibuat oleh bangsa Indonesia.

Selain itu, satelit juga bisa dipakai untuk kegiatan mata-mata, melakukan pengintaian ke tempat-tempat yang dicurigai sebagai pengancam kedaulatan negara. Contohnya adalah program google earth yang kadang dipakai juga untuk merencanakan penyerangan ke tempat-tempat tertentu.

Indonesia rasanya sudah punya kemampuan untuk bikin satelit. Beberapa anak bangsa yang sedang sekolah di luar negeri juga sudah dikenal mampu membuat satelit sendiri. Misalnya yang ditunjukkan mahasiswa Indonesia di Belanda yang merancang nano satelit yang akan diluncurkan tahun 2010 untuk keperluan telekomunikasi.

Radar

Radar biasanya digunakan untuk mendeteksi adanya kendaraan-kendaraan asing di laut dan udara. Penting juga untuk sistem pertahanan misalnya seperti yang dilihat di film pearl harbour. Padahal sudah jelas ada pesawat musuh yang masuk dalam wilayah radar, tapi akibat kecuaian akhirnya pearl harbour hancur lebur diserang Jepang.

Mungkin radar buatan Indonesia seperti yang diberikan di kompas, belum bisa mendeteksi pesawat siluman. Tapi tetap ini adalah suatu perkembangan yang baik bagi sistem pertahanan Indonesia. Dengan kemampuan memproduksi radar sendiri maka diharapkan Indonesia mampu menjaga batas-batas terluar negara dari masuknya ancaman-ancaman luar negri. Ancaman ga selalu dalam bentuk ancaman militer. Nelayan asing atau penyelundup juga ancaman, yang mungkin dengan adanya radar bisa dideteksi dengan lebih baik.

  • Share/Bookmark

Pemilu 2009

Saturday, April 11th, 2009

Hajat besar bangsa Indonesia sudah hampir berakhir. Pemilu legislatif 2009 sudah dilaksanakan disebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ada juga yang belum bisa memberikan suaranya di pemilu kali ini dengan banyak alasan. Salah satunya saya hehehe.

Sebagai warga negara yang baik, tentu saya ingin ikut serta memberikan pilihan saya. Karena itu, begitu ada pemberitahuan pendaftaran pemilih lewat web, saya langsung daftar. Sudah sejak lama saya sebagai pemilih di web pendaftaran tersebut dan seharusnya masuk dalam DPT. Tapi sampai hari ini, Sabtu 11 April 2009 saya belum dapat surat suaranya. Katanya sih akan dikirimkan lewat pos, dan nanti contrengannya juga dikirim kembali pakai pos.

Setelah saya konfirmasi ke teman yang menjadi panitia, ternyata surat suara baru dikirim lewat pos berlangganan pada tanggal 8 April 2009. Wah kapan sampainya ya? lagi pula kan ada batas terakhir surat suara itu harus sampai di KBRI. Kalo suratnya baru datang minggu depan, kapan saya bisa kirim ke KBRI biar ga terlambat? Kalo terlambat lagi, ya percuma aja deh ikut mencontreng, dianggap ngga sah juga suaranya.

Lihat diberita, katanya juga banyak masalah di DPT dan surat suara ini. Mungkin katanya ini pemilu yang paling kacau. Sudah kaya hasil ramalan aja. Padahal kan kita ngga boleh percaya pada ramalan. Eh ini udah mirip dengan ramalan. Mudah-mudahan ngga kacau banget deh.

Sedikit cerita mengenai petugas pemilu di Malaysia. Dulu di awal tahun sudah diumumkan penerimaan petugas dengan syarat umur lebih dari 25 tahun. Ngga semua teman di sini yang merasa ingin ikut serta. Saya sendiri sih, sudah membayangkan kerepotan menjadi panitia. Dulu sewaktu tahun 2004 pernah jadi petugas di TPS. Petugas biasa saja sudah lumayan menyita waktu, apa lagi yang jadi ketuanya.

Di Malaysia sini, yang jadi panitia ngga semua di TPS. Ada yang bertugas untuk membawa surat suara dan drop box ke kantung-kantung populasi orang Indonesia seperti pabrik dan asrama karyawan. Tempatnya juga jauh-jauh dengan jumlah panitia yang ngga begitu banyak. Karena itu, kurang tertarik juga walaupun ada tawaran bayaran yang sama seperti panitia di Indonesia.

Beberapa teman memang akhirnya mendaftar menjadi panitia, tentu dengan alasan-alasan sendiri. Ada yang memang ingin ikut serta mensukseskan pemilu, ada yang ingin cari koneksi di pusat kekuasaan Indonesia di KL, ada juga yang memang ingin cari duit.

Ternyata jadi panitia lumayan juga tunjangannya. Setiap pergi ke tempat pemilih, akan dapat tunjangan transportasi, tunjangan makan, dan tunjangan penginapan. Jumlah aslinya ngga tau, tapi kayaknya sih ngga kurang dari RM 200 seorang. Sekitar Rp. 650 ribu.

Mudah-mudahan memang kerjanya bagus. Jadi pemerintah ngga sia-sia ngeluarin uang, dan panitia juga senang kerjanya dihargai dengan pantas. Tapi kemarin ada teman yang ngeluh karena salah satu panitia ada yang pulang jam 11 siang sedangkan yang lain pulangnya sampai malam. Enak bener ya kerjanya kayak gitu, bayaran penuh, kerjaan ngga sampe kelar. He he he. Meureun saya juga kayak gitu kali ya.

Btw, mudah-mudahan hasil pemilu kali ini adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia meskipun ngga terbaik buat beberapa partai. Pemilu presiden juga mudah-mudahan lebih baik biar ngga banyak yang kecewa seperti sekarang. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Ketahanan Energi

Wednesday, April 1st, 2009

Kebutuhan energi di Indonesia dipenuhi dari berbagai macam bentuk asal seperti Minyak Bumi, Gas Alam, Batubara, Hidro, atau dari yang sedang ngetrend sekarang, bio fuel. Dari berbagai macam bentuk asal tersebut, dirubah lagi menjadi bentuk energi siap pakai yang utama seperti BBM dan listrik. Bentuk energi siap pakai inilah yang digunakan untuk menggerakkan roda ekonomi bangsa Indonesia dari mulai industri sampai ke rumah tangga.

Mulai tahun 2004, Indonesia sudah tidak bisa memenuhi semua kebutuhan minyak bumi dari produksi sendiri. Mungkin 10 – 20% kebutuhan minyak Indonesia didapatkan dari mengimpor. Kebutuhan bentuk energi asal yang lain seperti Gas Alam dan Batubara alhamdulillah Indonesia masih memiliki produksi yang lebih banyak dibandingkan kebutuhan dalam negeri. Lagi pula cadangannya jauh lebih banyak dibandingkan cadangan minyak bumi. Mungkin masih cukup untuk beberapa puluh tahun ke depan.

Tapi sayangnya, meskipun produksinya lebih banyak dari konsumsi, sebagian besar gas alam Indonesia dipakai untuk ekspor ke luar negeri. Karena itulah beberapa industri di Indonesia sudah mulai kelimpungan mencari bahan bakar gas untuk keperluan produksinya. Misalnya yang sedang perlu banget adalah industri pupuk.

Sebenarnya pemerintah sudah melakukan keputusan yang baik dengan memprioritaskan kebutuhan gas alam dalam negeri. Tetapi karena gas alam ini harganya murah, maka negara lain pun susah payah ingin mendapatkannya dari Indonesia. Misalnya Jepang yang membutuhkan gas alam dalam jumlah banyak untuk industri pembangkitan listriknya. Dengan memakai bahan bakar gas yang murah dari Indonesia, mereka bisa memproduksi listrik dengan biaya yang lebih rendah.

Bagaimana dengan Indonesia? Industri listrik Indonesia katanya kurang bisa berkembang akibat terlalu besar subsidi. Apalagi dengan beberapa kasus pembangkit swasta yang menjual listriknya ke PLN dengan harga di atas harga jual PLN ke konsumen. Akibatnya PLN sering jadi sumber pemorotan keuangan negara. Padahal, kata teman-teman yang kerja di PLN, mereka masih sanggup koq memproduksi listrik dengan harga murah tanpa perlu bantuan pihak swasta.

Coba baca berita di koran kompas hari ini (31 Maret 2009) di mana Dubes Jepang untuk Indonesia menyurati Presiden sambil “mengancam” kelangsungan investasi Jepang di Indonesia akibat terkatung-katungnya proyek gas alam untuk industri listrik mereka. Bagaimana ya keputusan pemerintah? Apakah akan mengalah demi industri luar negeri mendapatkan biaya murah pembangkitan listrik atau lebih mementingkan industri dalam negeri?

Sewaktu supervisor saya masih orang Indonesia, beliau bercerita tentang istrinya yang diundang oleh Perdana Mentri Malaysia. Biasalah, perusahaan energi di Malaysia ada yang tertarik untuk mendapatkan hak mengusahakan gas alam di Indonesia. Untungnya orang PERTAMINA sekarang masih mementingkan kepentingan rakyat Indonesia. Bayangkan, jumlah penduduk miskin Indonesia saja lebih besar daripada jumlah penduduk seluruh Malaysia. Tapi perusahaan Malaysia masih ingin juga untuk bisa mengelola gas alam di Indonesia untuk kesejahteraan rakyat Malaysia.

Coba kita lihat keputusan apa yang akan diambil pemerintah. Apa bisa seperti pemerintah Malaysia dan Jepang, yang bersedia bahkan untuk mengambil sumber daya di negara lain demi kesejahteraan rakyatnya? Kalau bisa, maka layaklah orang itu kita pilih jadi pemimpin bangsa Indonesia untuk 5 tahun ke depan.

  • Share/Bookmark

Ketika Jumlah Orang Masih Sedikit (Catatan Perjalanan Wisata)

Friday, March 27th, 2009

Di Malaysia, jumlah orang masih sedikit. Se Malaysia itu jumlahnya cuma sekitar 27 juta orang yang mungkin sama dengan tumplek blek nya Jakarta di hari sibuk. Karena itu tempat wisata di sini ngga pernah terlalu penuh (setidaknya tempat yang sudah pernah saya kunjungi). Bukan cuma orang lokal yang berkeliaran seperti penjual atau tukang parkir, pengunjungnya juga tidak terlalu penuh.

Kunjungan pertama ke peninggalan kapal korek di daerah Kampar, Perak. Pengunjungnya cuma rombongan kami. Tidak ada penjaga, tidak ada penjaja. Meskipun demikian tempatnya bisa dibilang bersih. Mungkin juga karena tidak pernah ada pengunjung jadi tetap bersih hehehe.

Selanjutnya ke air terjun (Lata) Kinjang. Yang datang boleh dihitung dengan jari. Paling banter di luar rombongan kami hanya ada 10 mobil lagi. Penjaga hanya minta uang parkir sedangkan masuk ke tempat wisatanya gratis. Ngga ada orang yang sibuk nawar-nawarkan barang. Pengunjung bebas seperti berkunjung ke kampung sendiri.

Tempat yang lain juga seperti itu. Hampir ga ada biaya sama sekali, ngga ada yang gangguin dengan menawarkan bermacam-macam barang. Semua penjual adalah berlisensi yang ngga pernah ngintilin pengunjung sambil memaksa untuk membeli. Beda dengan cerita di perencanakeuangan.com tentang wisata ke Borobudur yang asyik diganggu oleh tawaran barang, tawaran cuci mobil, yang bahkan ketika kita bilang tidak pun mereka tetap mengikuti kita atau mencucikan mobil kita yang sedang diparkir.

Pengunjung tempat wisata di Malaysia memang lebih nyaman, tidak merasa terganggu, dan juga merasa lebih aman. Apalagi dengan banyaknya polisi yang berjaga di sekitar tempat-tempat berkumpulnya orang. Apakah di Indonesia bisa seperti itu? Berat deh kayaknya dengan jumlah orang sebanyak ini. Apalagi dengan semangat memiliki yang sangat tinggi, setiap orang merasa memliki tempat dan memiliki hak untuk berusaha mendapatkan uang. Tidak dengan mencuri, tidak dengan korupsi, tapi dengan pasang badan di depan calon pembeli sampai barangnya terjual. Bahkan mengerjakan apa yang tidak dibutuhkan orang lain agar dapat uang. Pembeli dan pelanggan tidak lagi menjadi raja. Perjalanan wisata menjadi menyebalkan gara-gara gangguan yang tak perlu. Lalu akhirnya ya wisatawan asing jadi malas datang lagi.

Kembali lagi ke wisata di Malaysia, terutamanya di Pulau Penang. Ada hal menarik yang mungkin bisa dijadikan pelajaran. Pada satu masa dulu, Pulau Penang adalah tempat yang menarik wisatawan terutama wisata pantainya. Kalau melihat foto-foto yang diupload oleh wisatawan mancanegara tahun 2004 an, terlihat pasir yang berwarna putih dan air yang biru. Indah sekali. Tapi kemarin saya pergi ke Pantai Feringghi, tidaklah lebih menarik dibandingkan pantai di dekat tempat saya tinggal. Pantai Teluk Batik  terlihat lebih cantik dengan penataan yang lebih baik.

Menurut penjaga kamar tukar baju berenang, dalam beberapa tahun terakhir memang jumlah wisatawan asing yang datang ke Pantai Feringghi jauh berkurang. Lagi, menurut supir taksi yang mengantar saya pulang dari pantai, Gurney Drive dan beberapa pantai lainnya di dekat kota Georgetown sudah tidak layak lagi untuk disentuh airnya karena sudah butek, kental, dan kadang berwarna hitam. Suatu hal yang tidak bisa dihindari karena Pulau Penang juga ingin maju di bidang lain. Akhirnya jumlah penduduk makin banyak, perumahan juga, industri berkembang, akhirnya yang jadi korban adalah alam. Habis mau bagaimana lagi, limbah dari rumah tangga dan industri ya larinya ke laut juga.

Saya membayangkan apa yang akan terjadi pada wisata alam di Indonesia. Apakah akan bernasib sama seperti Pulau Penang? Kalau memang ingin maju dari pariwisata ya mungkin harus melupakan maju dari Industri. Keseimbangan alam juga harus dijaga supaya tarikan keindahan alam tetap bisa terjual ke wisatawan. Atau apakah kita bisa seperti negara Eropa yang mampu menjaga kelestarian alamnya disamping memajukan industri lainnya?

Pertanyaan yang belum bisa saya temukan jawabannya. Mungkin hanya waktu yang bisa, satu saat nanti.

  • Share/Bookmark

Amerika Ga Mau Kalah Sama Indonesia

Thursday, March 12th, 2009

Sori, jadi gatel mau nulis ini. Ini tentang Chris John. Sekali lagi, tentang Chris John, Super Champion kelas featherweight WBA. Super Champion, yang artinya berhasil mempertahankan sabuk juaranya sebanyak 10 kali berturut-turut. Ga cuma di Indonesia, ternyata CJ mampu mempertahankan gelar juaranya di luar negeri, bahkan di Amerika Serikat.
Pertandingan terakhir adalah melawan Rocky Juarez di Houston, tempat asal lawan CJ ini. Selaku tuan rumah, RJ diuntungkan oleh wasit katanya. Saya belum tonton, tapi insya Allah akan saya tonton pertandingannya di youtube.
Beberapa media dan forum tinju juga mengakui kalau CJ, petinju Indonesia dengan logat Jawa ini yang menjadi pemenang pertandingan malam itu. Coba lihat statistiknya: 344 pukulan masuk berbanding 206 dari lawannya, 155 – 122 powershots, 29% – 26% akurasi, yang kesemuanya dimenangkan oleh CJ. Tapi wasit dari Amerika sono memberikan angka seri 114 – 114, meskipun dari wajah bonyok Juarez sudah jelas CJ yang menang.
Ini ga bohong, coba lihat ulasannya di sini dan di sini. Bahkan penontonnya sendiri heran dengan keputusan seri ini. Dasar Amerika ga mau kalah sama Indonesia, merampok kemenangan orang pun dilakukan wasit.
Ya sudahlah, sekarang yang penting CJ tetap memegang sabuk juara dan akan semakin menanjak karirnya. Selamat selamat, dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, saya merasa bangga dengan prestasimu.

  • Share/Bookmark

Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

Friday, January 23rd, 2009

Biasanya, tingkat kesejahteraan secara ekonomi dari suatu negara dilihat dari GDP per Capita. Hitung-hitungannya adalah GDP negara itu dibagi ke jumlah penduduknya. Kalau dilihat dari daftar, Indonesia memiliki GDP nomor 20 terbesar sedunia. Tetapi setelah dibagi jumlah penduduknya, maka dari daftar juga, Indonesia jadi peringkat nomor 115 dunia. Artinya, jumlah penduduk itu yang menjadi penentu. India saja yang punya GDP hampir 3 kali lipat Indonesia ada di peringkat 134 dunia pendapatan kotor per kapitanya. Kalau Indonesia mau mengejar kesejahteraan lewat peningkatan pendapatan, harus berusaha berkali lipat lagi deh kayaknya. Dengan pertumbuhan GDP yang seret belakangan ini, ya bisa dibilang susah deh.

Setelah pengumuman krisis dunia di akhir tahun 2008 kemarin, saya penasaran dengan kondisi di Indonesia. Apa sih pengaruhnya buat yang tinggal di Indonesia? Saya tanya-tanya ke beberapa teman yang ada di sana. Jawabannya hampir sama, ya gitu aja deh ngga ada yang aneh. Biasa aja dengan krisis, malah beberapa bilang kalau dari segi pendapatan sih sekarang jauh lebih baik daripada tahun 2003. Di mall-mall, masih penuh dengan orang berbelanja. Jalanan masih macet dengan mobil-mobil terbaru. Lalu, apa pengaruhnya angka-angka tadi dan juga krisis ekonomi?

Apa saya yang salah. Maksudnya, saya nanyanya sama orang-orang yang ga terpengaruh oleh krisis (Atau berarti saya juga sudah masuk kalangan yang ngga terpengaruh ya hehehe, aamiin). Soalnya saya lihat juga, orang-orang yang mengeluh tentang krisis ini, sebenarnya “punya” tapi sebenarnya disimpan untuk keperluan yang lain. Misalnya ada kawan yang mengeluh kurang uang untuk bayar anak sekolah, untuk makan seadanya, tapi sebenarnya uangnya dipakai untuk mencicil rumah ke tiga. Weleh, ini sih bukan kekurangan, tapi mengurangi yang satu untuk dapat yang lain.

Di koran-koran memang sering diceritakan betapa orang-orang “kecil” semakin menjerit karena himpitan ekonomi. Tapi masih saya lihat juga, orang-orang “kecil” yang jajannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan makanan mingguan saya. Misalnya, tetangga di Jakarta, memilih makan pakai bakso yang harga satu mangkoknya sekali makan itu cukup untuk makan sekeluarga saya sehari. Rumahnya ngontrak dibuat dari bilik tapi ada TV dan DVD, sedangkan saya dulu cuma punya TV saja.

Kesejahteraan mungkin tidak seharusnya dihitung dari jumlah uang yang didapat saja. Buktinya, saya disini ditanya oleh penjaga kedai orang Malaysia berapa pendapatan saya sebulan. Ketika saya jawab dengan satu angka, dia bilang mana cukup uang segitu? Wah, padahal dengan uang segitu saya masih bisa nabung lebih banyak dibandingkan ketika ada di Indonesia. TKI di sini juga dibayar dengan gaji yang lebih kecil, tapi saya lihat sekali kirim bisa 3 kali lipat gaji saya di Indonesia (saya bukan TKI, jadi belum bisa ngirim 3 kali gaji saya di Indonesia hehehe).

Jadi ngga penting tuh kelihatan angka-angkanya. Yang penting terpenuhi kebutuhannya. Mungkin pemerintah Indonesia ngga perlu menghitung jumlah pendapatan yang harus didapat oleh rakyatnya. Tetapi lebih baik, kebutuhan dasar apa saja yang harus terpenuhi. Kalo ngga bisa dipenuhi oleh pendapatan si rakyat, ya dipenuhi oleh pemerintah saja.

Rakyat ngga perlu subsidi BBM. Yang diperlukan adalah saat mau pergi dari satu tempat ke tempat lain, dia bisa melakukannya dengan biaya terjangkau. Yang diperlukan adalah saat mau masak, ya ada energi masaknya. Terserah gimana caranya. Ketika bis yang disubsidi ternyata ongkosnya lebih mahal daripada beli motor sendiri, akhirnya orang pakai motor meskipun harus kredit baru. Ketika pakai kompor gas ternyata susah, ya balik lagi ke minyak tanah atau kayu bakar.

Kebutuhan dasar ini agak jarang dibahas dalam literatur. Pajangan angka saja yang banyak ditampilkan. Kalau melihat angkanya, kadang ngga kepikir gimana ya caranya. Misal, pemerintah cukup kaget karena setelah kenaikan harga BBM tahun lalu koq konsumsi BBM meningkat. Ternyata ya rakyat berubah metoda bepergiannya dari memakai angkutan umum menjadi angkutan pribadi karena menurut hitungan lebih murah. Pemerintah rugi juga karena harus “mengeluarkan” subsidi tambahan. Mungkin, kalau pemerintah menyediakan solusi angkutan yang murah, jumlah uangnya lebih sedikit daripada “mengeluarkan” subsidi.

Bagi banyak pemerintah negara lain, kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi selain sandang, pangan, dan papan adalah pendidikan dan kesehatan. Sistem asuransi nasional memungkinkan rakyat mendapatkan pelayanan kesehatan dengan murah. Harga obat, harga dokter, harga RS, boleh saja mahal. Tapi karena ditanggung oleh asuransi maka harganya jadi tidak ada lagi. Pemerintah ngga perlu mikirkan subsidi obat lagi. Jujur saja, saya rela membayar asuransi asalkan saya dan keluarga ngga sakit meskipun uangnya hangus. Daripada saya masuk rumah sakit di kelas VVIP, mendingan saya sehat dan bisa beraktivitas dengan leluasa.

Pendidikan juga bukan sesuatu yang murah. Tetapi saya sudah melihat, TPA TKA, pesantren, sekolah minggu, dan lainnya itu koq bisa jalan-jalan saja dari dulu. Sejak kecil saya ikutan pengajian di Masjid, ada yang bayar ada yang gratis. Pendidikannya jalan sampai sekarang masih ada pengajian di Masjid.  Mungkin model sekolah terbuka bisa diadopsi juga. Ada yang bilang proses itu penting, tapi kenyataannya sekarang dinilai dari hasil. Artinya ya sudah nilai dari hasil saja, prosesnya terserah mau bagaimana. Mau belajar otodidak, belajar di sawah, di lapangan, atau di mana saja, test di tempat ujian. Kalo lulus, ya berarti pada saat itu dia sudah memiliki kelayakan. Kalau belum lulus, ya test lagi aja kapan-kapan.

Tapi percaya lah, banyak orang pintar di atas sana. Hal-hal tersebut bukannya ngga dipikirkan dan dirancang solusinya. Kalo ada ide, ya silahkan majukan biar jadi bahan pertimbangan orang-orang pintar itu. Kalo saya sih, mikirkan gimana caranya ya supaya meskipun pengeluaran saya meningkat tetap ada sumber-sumber pundi uang untuk membayarinya hehehe. Dasar.

  • Share/Bookmark