Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘Indonesiana’

Waris Jari Hantu

Thursday, October 16th, 2008

Aktivitas klenik tidak hanya dikenal di Indonesia. Negara lain juga mengenalnya dengan nama yang berbeda. Salah satu contohnya adalah Voodoo yang terkenal di Afrika dan Amerika. Di Malaysia yang cukup kental ajaran agama Islamnya juga ada kegiatan klenik. Bahkan beberapa kegiatan klenik ini sudah dibuat filmnya. Kalau melihat filmnya saya bisa menebak sebenarnya kegiatan klenik untuk ras Melayu ini dibawa dari Indonesia. Ras Cina dan India tentu punya kegiatan klenik sendiri yang saya baru tahu satu saja, yaitu nasi kangkang yang membuat orang lain seperti dicucuk hidungnya setelah makan nasi yang dikangkangi ini.

Untuk ras Melayu, dikenal nama-nama seperti susuk, santet, dan ngelmu macan. Film yang sudah beredar misalnya Pontianak bercerita tentang ilmu yang merubah seseorang menjadi semacam makhluk berbadan bolong. Susuk juga sama seperti Indonesia yang bercerita tentang kemampuan membuat seseorang terlihat cantik atau menarik. Film yang sudah saya tonton dari awal sampai akhir adalah Waris Jari Hantu, yang bercerita tentang orang yang memiliki ilmu harimau.

Pada awalnya saya pikir ini macam ilmu khusus dari Malaysia. Tapi mendengar dialog pelakonnya, ilmu ini nampaknya datang dari tanah Minang. Pengamal ilmu ini mampu menyembuhkan penyakit orang seperti tulang patah, sakit kanker, dan lain-lain dengan hanya memakai kulit harimau atau jilatan lidah. Sebenarnya terdengar seperti sesuatu yang mustahil, tapi kemungkinan ilmu ini benar ada dan benar-benar bisa menyembuhkan penyakit.

Tetapi, ada suatu konsekuensi yang diterima si pengamal ilmu ini. Misalnya menurut cerita orang pengamal ilmu ini bisa menyembuhkan penyakit orang tetapi tidak akan bisa menyembuhkan penyakit keluarganya sendiri seperti istri, ortu, atau anak. Biasanya hidupnya juga tidak pernah berkecukupan. Mereka hidup miskin dengan penghasilan utamanya adalah bayaran dari orang-orang yang disembuhkan. Entah kenapa, mungkin karena pantangan.

Tidak semua pengamal ilmu seperti itu menjadi miskin. Saya juga pernah lihat di TV Indonesia bagaimana mewahnya hidup seorang ahli spiritual yang bergelar Ki. Tanah luas, rumah besar, mobil mewah, dan lain-lain tanda kekayaan. Tapi kayaknya itu cuma kasus kecil saja. Kebanyakan pengamal elmu seperti itu hidupnya tidaknya berkecukupan.

Selain itu pengamal ilmu seperti itu biasanya susah meninggal. Meskipun sudah sakit sangat keras, tidak juga meninggal-meninggal sampai ilmunya itu dilepaskan. Ilmu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Kadang harus ada pewaris yang memiliki kriteria tertentu. Misalnya harus keturunan langsung dan berjenis kelamin tertentu. Di film waris jaris hantu memang diharuskan pewaris ilmu itu harus perempuan. Belum tentu orang yang akan diwarisi ilmu itu mau. Kadang ada yang memaksakan mewariskan kepada seseorang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Jadilah orang itu terkungkung oleh pantangan-pantangan dan konsekuensi yang sebenarnya tidak dia inginkan.

Bagaimana membersihkan diri dari hal-hal semacam ini? Saya juga tidak tahu. Menurut teman yang tahu, katanya hal tersebut adalah sunatullah. Kenapa? Itu sebenarnya perbuatan jin yang jahat. Jin jahat, keturunan iblis memang sudah bersumpah untuk hidup di dunia menggoda manusia. Ilmu-ilmu semacam itu jadi godaan yang sangat menggiurkan untuk manusia. Bayangkan, bisa jadi kebal bisa meloncat tinggi, dan lain sebagainya.

Pada jaman dulu, memang ilmu seperti itu sangat diperlukan. Misalnya saja, kalau dipikir-pikir bagaimana mungkin dengan hanya bersenjatakan bambu runcing bisa mengalahkan senjata api? Bagaimana bisa mengalahkan terjangan peluru panas? Bagaimana bisa membuka lahan pertanian yang luas? Dan pekerjaan lainnya yang kalau dikerjakan oleh tenaga manusia biasa tidak mungkin terjadi. Tapi jaman sekarang apa ya manfaatnya? Tidak ada peperangan bambu runcing dengan peluru, tidak perlu lagi membuka lahan luas untuk pertanian, dan lain sebagainya.

Lebih baik kita hidup sebagai manusia biasa saja. Hidup dengan hanya bersandarkan diri kepada Allah. Minta rejeki kepada Allah, minta perlindungan kepada Allah, minta kesehatan kepada Allah. Mudah-mudahan kita selalu dijauhkan dari hal-hal yang sedemikian supaya hidup kita bisa lebih bahagia. Amin.

  • Share/Bookmark

Apa Ide Anda Untuk Indonesia Bangkit?

Thursday, September 25th, 2008

Udah deh diselesaikan saja dulu bertengkarnya. Kalau memang punya ide untuk kebangkitan Indonesia, coba kirimkan ke google melalui website ini:

http://www.project10tothe100.com/

Google akan mengeluarkan uang sebesar 10 juta dollar US untuk membiayai ide yang anda berikan menjadi kenyataan. Ide itu haruslah sesuatu yang dapat membantu sebanyak mungkin orang. Membantu di bidang apa? Ada dibidang budaya, energi, pendidikan, menolong diri sendiri dan orang lain, tempat tinggal, lingkungan, peluang, dan lainnya. 

Ini terjemahan dari http://www.project10tothe100.com/how_it_works.html

Bagaimana Cara Kerjanya

Project 10100 (diucapkan “Project 10 to the 100th”) adalah sebuah panggilan untuk ide-ide yang dapat mengubah dunia dengan menolong sebanyak mungkin orang. Begini nih cara joinnya:

1. Kirimkan ide anda sebelum tanggal 20 Oktober 2008.

Isi formulir pengiriman ide anda. Anda dapat menambahkan proposal ide anda dengan video sepanjang 30 detik.

2. Voting terhadap ide-ide akan dimulai 27 Januari 2009.

Kami akan menerbitkan seleksi dari ratusan ide dan akan meminta anda, publik, untuk memilih dua puluh semi finalis. Lalu  dewan penasihat akan memilih lima ide final.  Kirimkan saya pengingat untuk memilih.

3. Kami akan menolong ide-ide ini menjadi kenyataan.  

Kami berkomitmen untuk memberikan 10juta dolar untuk mengimplementasikan proyek tersebut, dan tujuan kami adalah untuk menolong sebanyak mungkin orang yang bisa kami tolong.  Jadi ingatlah, uang bisa menjadi batu loncatan tapi idelah yang penting.

Semoga beruntung, dan orang yang menolong lebih banyaklah yang akan menang.

Ingat, deadline 
October 20th, 2008

Panduan

Tujuan kami adalah memberikan sesedikit mungkin aturan. Tapi kami minta agar anda menempatkan ide anda pada kategori-kategiri berikut dan perhatikan kriteria penilaiannya di bagian bawah.

Kategorie:

  • Community/Komunitas: Bagaimana kita dapat menghubungkan orang, membangun komunitas, dan melindungi budaya yang unik?
  • Opportunity/Kesempatan: Bagaimana caranya kita dapat menolong orang agar mereka dapat menafkahi diri mereka sendiri dan keluarganya.
  • Energy/Energi: Bagaimana kita dapat menggerakkan dunia ini ke arah energi yang aman, bersih, dan murah?
  • Environment/Lingkungan: Bagaimana kita dapat mempromosikan ekosistem global yang bersih dan berkesinambungan?
  • Health/Kesehatan: Bagaimana kita menolong orang mendapatkan hidup yang sehat dan lebih lama?
  • Education/Pendidikan: Bagaimana kita dapat menolong orang mendapatkan akses kepada pendidikan yang lebih baik?
  • Shelter/Tempat Berlindung: Bagaimana kita bisa menolong memastikan setiap orang memiliki tempat yang aman untuk tinggal?
  • Everything else/DLL: Kadang kala ide terbaik tidak masuk di kategori manapun.

Kriteria:

  • Reach/Jangkauan: Berapa banyak orang yang akan terpengaruh oleh ide ini?
  • Depth/Kedalaman: Berapa dalam impaknya? Seberapa penting kebutuhannya?
  • Attainability/Keberjangkauan: Dapatkan ide ini diimplementasikan dalam setahun atau dua tahun?
  • Efficiency/Efisiensi: Seberapa sederhana dan efektif ongkoskah ide anda?
  • Longevity/Kelamaan: Berapa lama impak dari ide anda akan terasa? 
Udah siap? Yak kirimkan saja. Mudah-mudahan kalo di implementasikan di Indonesia bisa membantu Indonesia bangkit. 
Ayo buruan ikutan. Sebarin ya ke yang lain.
Tambahan untuk pengiriman ide, ada pertanyaan ini:
1. Satu kalimat apa yang sangat baik menjelaskan ide anda (max 150 karakter)
2. Jelaskan ide anda lebih dalam (max 300 kata)
3. Masalah atau isu apa yang dituju oleh ide anda (max 150 kata)
4. Jika ide anda menjadi kenyataan, siapa yang akan meraih keuntungan dan bagaimana? (max 150 kata)
5. Apa langkah pertama agar ide ini bisa diimplementasikan? (max 150 kata)
6. Jelaskan outcome optimal ketika ide anda dipilih dan diimplementasikan. Bagaimana cara mengukurnya? (max 150 kata)
  • Share/Bookmark

Kenangan Pulang Kampung

Tuesday, September 23rd, 2008

Dulu, perjalanan pulang kampung semasa idul Fitri dan Idul Adha adalah pekerjaan rutin setiap tahun buat keluarga kami. Hari raya di Jakarta boleh dihitung dengan jari sebelah tangan deh, karena saking seringnya kami pulang kampung.

Awalnya kami pulang kampung naik kereta api. Tapi setelah layanan kereta api dihentikan, kami harus naik bis sambung-menyambung. Dari rumah naik angkutan kota ke Cililitan, terus naik bis ke Pangandaran atau Banjar, lalu naik bis lagi ke Cijulang. Belum kepikiran macet, karena dapat bisnya saja belum tentu cepat. Kadang nunggu berjam-jam di terminal bahkan pernah terpaksa pulang lagi ke rumah setelah sehari semalam ga dapat bis juga.

Setelah punya mobil sendiri, baru deh ngitung-ngitung macet. Jenderal perjalanan harus mikirkan waktu yang paling tepat untuk berangkat supaya tidak terjebak oleh macet di jalan. Waktu favorit yang dipilih untuk berangkat adalah malam takbiran karena cenderung lebih lancar. Tapi ternyata orang lain juga makin pintar, mereka memilih waktu yang sama. Akhirnya ya lama-lama macet juga.

Dulu, sekali pulang kampung orang sekampung ikutan juga. Mobil kecil hijet 1000 bisa dipenuhi oleh tiga keluarga. Sering kami tambahkan bagasi di atas mobil supaya bagian dalam bisa untuk orang saja. Malah ditambahkan kursi jongkok supaya semua tempat lowong bisa digunakan dengan sebaiknya. Lama-lama makin sepi yang ikut karena orang sekampung semakin membaik ekonominya.

Pulangnya dari kampung juga bawa orang banyak, ditambah oleh-oleh yang aneh. Mosok bawa ayam hidup dari kampung sampai di Jakarta. Manusia aja teler, apalagi ayam. Kasian deh tuh ayam. Lagian juga, ngapain sih orang ngasih ayam hidup. Mau ditolak ngga enak. Akhirnya manusia, ayam, sayur, kelapa, beras, semua dimasukkan ke dalam dan di atas mobil.

Paling enak kalo perjalanannya berhenti-henti. Soale ngga tahan sama mabok darat. Kalo berhenti bisa meluruskan pinggang sebentar, narik-narik urat sebentar, sambil menikmati jajanan yang ada disepanjang jalan. Apalagi kalo jalannya siang dan lagi puasa. Seger deh bisa mandi dan kumur-kumur, hehehe.

Sekarang, sudah hampir ga pernah pulang kampung. Karena ternyata ongkosnya berat banget. Apalagi kalo cuma perjalanan sendiri. Mending uangnya buat beli beras di Bandung. Keluarga di sana pun sudah hampir ngga ada. Kebanyakan sudah pindah ke kota-kota seperti Bandung dan Jakarta. Tanah sudah dijual dan rumah ngga ada yang nempati. Dipinjamkan saja sama orang.

Di sini, saya kangen pulang ke Indonesia. Udah tiga kali Ramadhan saya habiskan di sini. Idul Fitri sepi karena penduduk kompleks pun pada pulang kampung. Mahasiswa Indonesia yang ngga bawa keluarga biasanya pulang ke Indonesia sedangkan yang bawa keluarga tetap ada di sini. Sedih tapi mau gimana lagi. Mudah-mudahan tahun depan saya sudah kembali lagi ke Indonesia. Jadi bisa pulang kampung lagi. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Rakyat Indonesia Tidak Miskin

Monday, September 22nd, 2008

Beberapa waktu lalu koran dan tv Malaysia menyiarkan berita dengan headline ditulis besar-besar di halaman depan kalau banyak warga yang tewas karena berebut zakat yang nilainya ngga sampai RM 20 (Rp. 30rb ya katanya). Ditambah lagi, situs berita Indonesia yang membuat berita kalo peristiwa seperti itu adalah potret kemiskinan rakyat Indonesia. Betapa sedihnya ya?

Tapi saya melihat, itu bukan potret kemiskinan. Saya merasa yakin, kalau dari sekian banyak orang yang antri zakat itu banyak diantaranya bukan orang miskin. Saya yakin mereka yang tidak miskin itu ikut mengantri zakat yang tidak seberapa besar (kalo dibandingkan dengan UMR Jakarta) karena kemaruk harta. Kesempatan mendapatkan uang sedikit rasa malu pun dibuang jauh-jauh.

Hal seperti ini sudah tidak aneh. Banyak berita yang menampilkan bukti yang menguatkan. Misalnya ada orang yang rela dimasukkan dalam kategori orang miskin agar mendapatkan uang JPS. Ada juga yang masih mampu shopping di Mall, tapi ketika beli beras maunya dapat jatah raskin. Ada lagi yang maunya menyunat bantuan, bahkan rela menjual daging kurban karena dia menjadi panitia inti idul adha. Ngga aneh kan?

Saya percaya kebanyakan rakyat Indonesia itu masih hidup berkecukupan. Lha wong dari dulu sudah biasa hidup susah tapi masih bisa beli bakso untuk cemilan. Di tempat saya waktu dulu di Jakarta bisa dibilang kebanyakan orang hidup susah. Rumah masih sewa seharga seribu rupiah sehari. Kerja cuma jadi kuli angkut di pasar Induk Kramat Jati. Tapi setiap hari jajan yang lebih mewah daripada saya, yang kedua orangtuanya bekerja penuh. Mosok anak SD sudah jajan Burger dan Bakso lima ribu rupiah sehari? Itu sih bisa buat makan sehari keluarga saya (waktu itu ya). Jadi apanya yang salah?

Di tempat istri saya dulu juga sama. Kalau masalah pakaian, ngga mau yang jelek. Pokoknya yang bagus. Isi rumah harus furnitur yang wah, dengan aksesoris perangkat elektronik seperti DVD player dan TV minimal 20 inchi. Anaknya ngga sekolah karena katanya ngga punya uang untuk bayar sekolah bulanan. Aneh.

Teman saya punya pembantu yang setiap bulan pinjam uang, katanya untuk membiayai keluarga. Padahal gajinya dia tabung untuk beli HP sedangkan uang pinjamannya yang dipakai membiayai keluarga. Ngga bohong sih, memang pinjam untuk membiayai keluarga. Tapi ….    jadi gimana gitu. Aneh aja cara berpikirnya.

Mungkin dari kecil kita harus belajar mengatur keuangan dan menentukan prioritas. Potensi bangsa Indonesia untuk maju sangat besar. Kekayaan alam masih ada, orangnya pintar, kreatif, inovatif, dan tahan banting. Apalagi yang diperlukan supaya maju? Buktinya Pendapatan Domestik Bruto Indonesia itu sudah menjadi nomor 20 terbesar dunia. Dua kali lipat dari PDB nya Malaysia. Cuma setelah dibagikan ke seluruh penduduk Indonesia (PDB per kapita), Indonesia jadi peringkat 115, setengahnya peringkat Malaysia hehehe.

Mudah-mudahan dapat pemimpin yang dapat menggerakkan rakyatnya menjadi melek finansial. Insya Allah kebanyakan rakyat Indonesia ngga miskin koq. Dengan melek finansial negara Indonesia bisa jadi negara super power. Aamiin.

  • Share/Bookmark