Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘jalan jalan’

Jalan-jalan ke Petaling Street dan Petronas Twin Tower II

Monday, June 29th, 2009

Petaling Street adalah tempat jualan souvenir murah meriah. Letaknya dekat dengan stasiun bis puduraya. Untuk ke tempat ini dari KLCC saya sarankan naik bis atau taksi saja. Eh dari tempat yang lain juga ding, soalnya LRT nya jauh banget. Atau kalau mau sambung gitu lah, naik LRT terus naik bis/taksi.

Dari KLCC bisnya nomor 103, sedangkan dari KL Sentral lumayan banyak. Rasanya setiap bis yang pake B di depannya, lewat sini. Lokasi di dekat Petaling Street dikenal dengan nama kotaraya karena ada gedung pertokoan bernama kotaraya. Waktu tempuh dari KLCC sekitar 30 menit sedangkan dari KL Sentral lebih cepat, karena lebih dekat.

Pasar souvenir hanya buka jam 6 sore sampai 10 malam. Kalau pagi dan siang, tempat ini ya jalan biasa saja yang dilalui oleh kendaraan umum. Jangan pikir kios yang di dalam lebih murah daripada yang di mulut jalan. Soalnya yang dalam malah pasang harga mengambang, yang harus ditawar, dan kadang lebih mahal. Di mulut jalan ada kios-kios yang pasang label harga mati. Murah meriah dari mulai 1 ringgit sampai paling mahal ngga lebih dari 50 ringgit.

Di sekitar jalan ini juga banyak penginapan murah, dari mulai RM 80 sampai RM 150. Tentu saja, harga week end lebih mahal daripada week day. Kalo yang pakai online, biasanya sudah jelas berapa yang harus dibayar karena otomatis menghitungkan surchargenya.

Selain petaling street, sebenarnya tempat ini juga dekat dengan Masjid Jamek, Pasar Seni, dan Medan Merdeka. Tapi tujuan saya ke sini cuma untuk beli souvenir saja, kalau tempat lainnya ya standar gitu aja deh. Kurang menarik.

Bule punya pojokan sendiri, buat minum-minum bir dan makan-makan. Biasanya yang beredar di kios-kiosnya adalah turis dari negeri Arab sana, buat beli tas-tas imitasi, jam imitasi, dan perhiasan imitasi hehehe.

Turis Indonesia kayak saya, beli souvenir gantungan kunci, kaos, hiasan meja, dan hiasan dinding aja deh. Kalo barang imitasi mah, di Indonesia juga banyak dan lebih murah.

Petronas Twin Towernya, di tulisan yang lain aja ya.

  • Share/Bookmark

Jalan-jalan ke Petaling Street dan Petronas Twin Tower I

Monday, June 29th, 2009

Dua hari lalu saya pergi ke KL untuk menjemput mertua dan adik ipar yang berlibur ke Malaysia. Dengan dana terbatas, inginnya sih dapat tempat menginap yang cukup menyenangkan dan bisa jalan-jalan ke beberapa tempat penting di Kuala Lumpur. Targetnya adalah Jalan Petaling, Petronas Twin Tower Sky Bridge, dan Petrosains.

Jalan Petaling adalah jalan berkumpulnya pedagang kaki lima souvenir. Harganya sangat miring dibandingkan tempat lain. Contoh gantungan kunci yang harganya RM 5 di tempat lain, di jalan ini bisa didapatkan dengan harga RM 1 saja sebuahnya. Selain itu kaos, tas imitasi, jam imitasi, juga banyak dijual di sini. Sayangnya hanya buka dari jam 6 sore sampai jam 10 malam.

Petronas Twin Tower Sky Bridge adalah jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar Petronas. Tiketnya diberikan percuma alias gratis. Tempat masuknya masih di dalam KLCC yang merupakan tempat bagi petrosains juga. Selain petrosains, juga ada Dino trek dan wahana lainnya.

Oke, perjalanan standar kalau dari semua daerah di Malaysia atau yang dari luar negeri, pergi saja ke KL Sentral yaitu stasiun kereta api terbesar di Malaysia. Kalau dari Bandara naik Aerobus atau Sky bus dengan ongkos hanya RM 8 – 9. Dari KL Sentral kami harus menuju hotel The Zon on The Park yang terletak dekat Kuala Lumpur City Center (KLCC).

Naik bis adalah pilihan yang murah karena tiket bis yang dibeli bisa dipakai lagi untuk bepergian ke tempat lain pada hari yang sama. Harga tiket bis per orang adalah RM 2. Sayangnya bis menuju ke KLCC datangnya tidak dapat ditebak. Kadang harus menunggu lebih dari setengah jam untuk mendapatkannya. Kasus saya, sudah menunggu lama tidak datang juga jadi harus memikirkan alternatif angkutan lain.

Dari KL Sentral ke KLCC juga bisa ditempuh dengan LRT Kelana Jaya. Tiketnya berharga RM 1.6. LRT adalah pilihan transportasi ke KLCC yang paling cepat. Perjalanan ditempuh dalam waktu yang kurang dari 15 menit. Menunggunya pun ga lama, cuma sekitar 5 menitan saja. Tapi kalau bawa barang banyak ke hotel, tentu lebih gampang pakai taksi. Apalagi The Zon ini letaknya agak jauh dari terminal bis ataupun LRT. Taksi dari KL Sentral ke hotel The Zon hanya RM 10 saja, tapi kalau ada tas yang ditaruh di bagasi perlu tambahkan RM 1 setiap tas.

The Zon adalah hotel termurah di dekat KLCC. Bisa pilih yang satu kamar atau dua kamar. Biasanya yang dua kamar dilengkapi dengan dapur, ruang makan, dan ruang keluarga. Saran saya, booking kamarnya melalu sistem reservasi online dari situs hotel the Zon, harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan agen perjalanan atau bahkan datang langsung ke hotel.

Kenapa pilih hotel ini? Pertama tadi, hotel termurah di sekitar KLCC. Terus ada dapur yang bisa dipakai untuk masak sendiri, terutama kalau anda mau tinggal lama. Dapur dengan kompor gas, rice cooker, pemasak air listrik, microwave, kulkas, dan peralatan makan yang lengkap. Sarapan diberikan gratis. Ada kolam renang yang lumayan buat anak-anak. Dekat Masjid Asy Syakirin. Pemandangannya juga langsung ke taman KLCC dan bisa melihat menara petronas langsung dari kamar.

Pada saat kami datang, kamar belum siap. Memang sih waktu check in adalah jam 2 siang sedangkan kami datang jam 1 siang. Jadi kami pergi dulu ke taman bermain anak di Taman KLCC sambil saya pergi sholat jum’at. Selesai sholat kami ke hotel dan kamar sudah siap.

Tidak seperti hotel berbintang empat lainnya, lobby hotel kecil saja. Mungkin hanya sekitar 70 meter persegi. Masih kalah besar dengan ruang 2 kamarnya yang 145 meter persegi. Karena pengunjungnya banyak, maka kadang kita ngga terlalu diperhatikan juga. Setidaknya pas saya check in dan check out, selalu ada pelanggan yang menunggu taksi yang datangnya terlalu lama. Malah, ada pelanggan yang diminta berjalan saja ke jalan raya yang jaraknya sekitar 300  dari lobby. Bayangkan kalau tamunya bawa barang besar, banyak, dan berat.

Gang menuju lift atau kamar juga tidak besar. Mungkin hanya cukup untuk 2 orang berpapasan saja. Kalau dibandingkan dengan gang di replica inn, ngga beda jauh lebarnya. Kata orang sih kurang nyaman. Liftnya juga kecil, hanya ada dua di tiap bagian. Lift hanya cukup untuk 9 orang. Tapi kan kita ngga tinggal di lift hehehe.

Kamar cukup besar, ada ruang kosong yang lega untuk sekedar sholat dalam kamar. Atau kalau mau gelar kasur supaya bisa muat lebih banyak orang juga bisa. Kamar mandinya kecil, tapi masih lebih besar daripada hotel di jalan Petaling. Mungkin karena ada bath tubnya. Tapi bath tub terlihat tua karena warnanya sudah agak gelap. Secara kebersihan sudah bagus karena di bawah kasur ngga ada kotoran. Saya pernah menginap di hotel berbintang lima, terkaget-kaget karena di bawah kasurnya banyak debu, sampah, dan bekas makanan. Di The Zon ini lumayan bersih.

Kamar Utama The Zon

Kamar Utama The Zon

Oh iya, karena cukup luas, 145 meter persegi, maka dua kamar juga cukup besar. Ditambah lagi seperti yang saya sampaikan tadi, ada dapur, ruang makan, dan ruang tamu. Kalau mau bawa bahan mentah makanan juga bisa, atau beli bahan mentahnya di KLCC.

Ruang Tamu

Ruang Makan

Ruang Makan

Dapur

Dapur

Kolam renang ada 3, 2 yang rendah, dan 1 yang dalam. Satu buah kolam renang ada fasilitas seperti ombak, yang kalau dipakai anak-anak cukup menghibur. Kayaknya sih kolam renang ini buat orang dewasa berendam ya, biar ada sensasi semburan air dari bawah. Tapi karena sudah diokupasi oleh anak-anak, jadi ngga ada orang dewasa yang main ke sini hehehe.

Ada juga ruang bermain untuk anak-anak. Ada mainan tempel-tempelan, menggambar dan aktivitas lainnya. Seharusnya sih gratis untuk pengunjung, sayang saya belum sempat coba karena terpepet waktu.

Restoran lumayan lengkap. Ada makanan melayu dan barat. Kalau sarapan, lebih baik datang lebih pagi misalnya di bawah jam 8 karena hotel ini sering dipakai orang yang pelatihan. Jadi pas dekat jam 8 tuh, ramenya minta ampun.

Makanan utama versi melayu bisa berganti-ganti. Kadang nasi goreng, nasi putih, atau dari mi-mi an. Nasi lemak juga disediakan. Agak beda denga Puteri Pacific yang menyediakan Nasi lemak setiap hari saat saya menginap di sana. Jus buah standar dan susu segar juga disediakan. Buah-buahan cukup lengkap.

Apa lagi ya? Kayaknya sudah cukup banyak. Tulisan tentang jalan-jalannya akan saya sampaikan dalam tulisan yang lain. Terlalu banyak kalau semua dimasukkan dalam satu tulisan. Foto? He he he, bandwidth terbatas nih, kalau upload foto, habis deh. Untuk foto silahkan lihat di situsnya trip advisor.

  • Share/Bookmark

Pulau Penang

Monday, March 23rd, 2009

Penasaran mengunjungi berbagai tempat wisata di Malaysia. Pemerintah Malaysia gencar sekali melancarkan kampanye wisata di luar maupun dalam negeri. Kali ini kami sekeluarga mengunjungi Pulau Penang, pulau yang katanya banyak peninggalan sejarah dan di set seperti Singapura.

Langsung ke tujuan wisata aja ya. Begitu datang ke Penang langsung menuju ke Bukit Bendera. Bukit bendera ini sudah buka dari jam 7 pagi. Bagus datang pagi sih karena mungkin masih sepi. Kami datang agak siang, tempat parkir penuh. Perlu putar-putar sekitar setengah jam untuk mencari tempat parkir saja. Belum lagi ketika mengantri tiket kereta bukit, ternyata dapat jatah untuk dua jam lagi. Harga tiket murah, RM 4 untuk dewasa dan RM 2 untuk anak-anak. Itu untuk perjalanan pulang pergi.

Kereta bukit di Penang adalah kereta bukit pertama buatan kerajaan Inggris di seluruh jajahannya. Dibangun tahun 1882, merupakan kereta yang ditarik kabel. Jalan kereta sangat curam. Mungkin kemiringannya sekitar 60 derajat. Perjalanan dari bawah sampai ke puncak bukit memakan waktu sekitar setengah jam dengan dua kali naik kereta. Tinggi puncak bukit itu sekitar 420 m di atas permukaan laut.

Di puncak bukit ada tempat penerowongan. Mungkin jaman dulu bukit ini dijadikan tempat pengintaian ke laut. Selain itu ada kuil Hindu dan juga Masjid yang tidak seberapa besar. Di depan kuil Hindu ada sebuah meriam tua. Tempat lain di bukit ini belum sempat saya kunjungi karena saat itu cuaca sudah hampir hujan.

Selepas itu kami pergi ke Georgetown untuk mencari penginapan. Dalam perjalanan mencari penginapan kami sempat melewati tempat wisata Fort Cornwallis dan Masjid Kapitan Keling. Tempat yang lain kurang menarik karena secara bangunan biasa saja. Bangunan tua seperti itu juga banyak di Ipoh, dekat tempat tinggal saya.

Kami menginap di Berjaya Hotel Georgetown. Ini hotel bintang empat, tapi kami dapatkan harga yang cukup murah dari agen perjalanan. Untuk anda yang senang bepergian, cobalah pesan hotel dari agen perjalanan karena anda bisa dapatkan harga yang jauh lebih murah dari hotel-hotel tempat anda menginap. Saya dapatkan diskon hampir 70% untuk kamar hotel saya.

Pagi hari kedua, kami pergi ke Gurney Drive, tempat pelancongan jalan kaki di tepi pantai. Sayang pantainya sudah tidak menarik lagi. Airnya kotor dan pasirnya sudah banyak berwarna hitam. Selepas Gurney Drive kami pergi ke Pantai Batu Feringghi. Ternyata pantai ini mirip dengan Pantai Teluk Batik baik dari pasirnya maupun kualitas airnya. Jauh lebih baik pantai di Pulau Pangkor. Akhirnya cuma 1,5 jam saja kami di sini. Kami langsung kembali ke hotel untuk check out.

Sewaktu di Gurney Drive, mobil kami mengalami kerusakan. Akinya yang sudah berumur lebih dari dua tahun tampaknya harus diganti. Untung ada pengurus travel di depan hotel yang baik hati meneleponkan bengkel langganannya untuk mengganti aki mobil saya. Padahal hari itu hari Minggu, yang kebanyakan bengkel di sini sedang tutup. Kalau anda punya masalah dengan mobil anda di Penang, saya sarankan telepon saja orang ini di 0164451490 untuk mendapatkan bantuan. Very helpful.

Akhirnya kami bisa pulang dengan naik mobil lagi. Kalau dihitung tanpa kerusakan aki, mungkin biaya satu keluarga berkunjung ke Penang sekitar RM 300. Biaya itu untuk bensin, tol, penginapan, makan, dan tiket kunjungan situs wisata. Tapi kalau di nilai 0 – 10, istri saya membandingkan Penang dan Yogya, maka Yogya dapat 8 atau 9, Penang dapat 2. Lalu kenapa Malaysia jadi tujuan wisata yang lebih baik dari Indonesia? Ngga tau tuh.

  • Share/Bookmark