Rasanya saya pernah tulis di sini tentang sikap dokter Melayu yang ada di sini. Kebanyakan bersikap dingin apalagi yang bekerja di poliklinik milik pemerintah. Cool banget. Pernah ketika saya memeriksakan anak saya yang sakit si dokter ngga nanya apa-apa. Cuma diem aja dan terus menuliskan resep untuk pasien tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Ngga cuma sekali kejadian itu terjadi. Gara-gara ngga sembuh juga sakit batuk saya bawa anak ke tempat praktik dokter bebas. Di sana juga sama saja, baik pasien maupun orang tua ngga ditanya macam-macam. Dokter diem aja mendengarkan keluhan dari pasien tanpa bertanya atau memberikan saran. Ngga ada senyum sedikitpun.
Kejadiannya beda kalo kita pergi ke dokter swasta yang biasanya diisi oleh dokter India atau China. Secara alaminya keturunan non Bumiputera yang ada di Malaysia memang dibatasi untuk memasuki jurusan-jurusan tertentu termasuk kedokteran (sama juga dengan di Indonesia kali ya). Karena itu bagi mereka yang ingin menjadi dokter biasanya sekolah di luar negeri seperti di Indonesia (banyak di kedokteran UNPAD, UNBRAW, dll), India, dan Rusia. Dokter-dokter ini biasanya lebih ramah dan mau menyapa termasuk ke anak-anak. Sewaktu kami periksa kehamilan istri di rumah sakit swasta di Ipoh, anak saya juga diajak ngobrol dan diberi permen oleh dokternya langsung.
Berdasarkan pengalaman di atas, kalau harus periksa ke dokter yang bayarnya hampir sama ya kami lebih baik pergi ke rumah sakit swasta dari pada ke poliklinik. Tapi sayangnya rumah sakit swasta cukup jauh dari rumah sewa kami. Karena itu kalau ada sakit apa-apa biasanya kami langsung pergi ke apotek saja untuk nanya ke apotekernya.
Biasanya si apoteker juga punya pengetahuan tentang penyakit dan obatnya. Cukup bawa orang yang sakit dan ceritakan apa keluhannya si apoteker bisa memberikan saran obat apa yang harus dimakan dengan sekalian takarannya. Ini jauh lebih murah karena kita ngga perlu bayar si apoteker hehehe. Saya pernah bawa anak saya yang kena sakit jari akibat sering digigitin sendiri ke apotek. Di sana saya cuma ceritakan sedikit keluhan dan sebab terjadinya penyakit itu ke apoteker. Eh ternyata jawaban si apoteker jauh lebih panjang dan lebih informatif dibandingkan kalo saya pergi ke dokter. Ya udah, sekarang apotek jadi langganan saya kalo ada penyakit. Tapi mudah-mudahan ngga perlu banyak ke apotek deh. Bagaimanapun hidup sehat lebih baik dari pada sakit. Mendingan saya bayar asuransi kesehatan tapi ngga pernah menggunakannya daripada saya dapat pelayanan kelas satu di rumah sakit. Iya ngga? Biar deh orang lain saja yang menggunakan asuransi kesehatan yang saya bayar, yang penting keluarga saya sehat wal afiat.