Dulu sewaktu rajin ikutan kegiatan di Pembinaan Anak-anak Salman, salah satu acara rutin yang kami lakukan adalah mengunjungi rumah adik-adik binaan. Yang jauh maupun yang dekat kami sambangi. Tujuan utamanya adalah silaturahmi, merekatkan ikatan batin antara adik, kakak, dan juga orangtua. Tujuan lainnya adalah peningkatan gizi. Maklum bagi pembina yang kebanyakan anak kost, kunjungan ke rumah adik adalah momen berharga untuk mendapatkan makanan yang beda. Masakan rumah gitu lho. Selain bisa makan banyak, kami juga kadang bisa bawa pulang. Lumayan lho, sering kami ngga perlu pusing mikirin makanan sahur karena sudah ada bingkisan dari rumah adik.
Salah satu rumah adik yang saya kunjungi waktu itu berada di tepi jalan besar dekat rumah sakit terkenal di Bandung. Dibandingkan dengan rumah disekitarnya, rumah itu biasa saja. Hampir ngga ada penanda kalo rumah itu ada. Salah satu pengingat keberadaan rumah itu adalah sebuah mobil Daihatsu Hijet berwarna gelap.
Saya masih ingat, saat itu adalah ramadhan tahun 1997. Belum begitu terasa panasnya krisis ekonomi, sehingga kami masih bisa tertawa-tertiwi dengan riangnya. Buku-buku pun sering saya beli karena masih terjangkau dengan dompet saya. Lagipula, saya belum memikirkan nafkah sendiri, jadi belum begitu terasa susahnya mencari uang.
Beberapa bulan kemudian, saya dan teman bermaksud mencari rumah itu lagi. Alasannya sih, sudah kangen koq ngga pernah kelihatan aktif lagi di Masjid Salman. Berdua dengan teman, saya putar-putar jalan itu tapi masih ngga ketemu juga yang mana ya rumahnya. Mau tanya juga susah karena bukan daerah yang banyak penghuni rumah. Akhirnya kami gagal menemukan rumah adik tersebut.
Tak sangka akhirnya kami berhasil bertemu dengan orangtua si adik di jalan. Kami ngobrol sebentar karena nampaknya si Bapak agak sibuk. Kami tanya tentang kondisi keluarga, rumah, dan juga usaha kami mencari tempat tinggal mereka beberapa waktu lalu. Jawabannya sungguh mengagetkan karena sebagian harta benda keluarga itu sudah dijual. Pilihannya memang berat, punya sesuatu tapi tak bisa makan, atau jual.
Setelah krisis ekonomi tahun 97, kondisi keuangan memang agak berat. Dulu, yang namanya krisis itu terasa banget, maklum terbiasa dengan kondisi yang tenang dan ekonomi “terjamin”. Tapi sekarang saya tanya dengan teman-teman, krisis itu ya sudah biasa saja nampaknya di Indonesia. Mungkin karena sudah terbiasa dengan berita krisis yang berkepanjangan.
Entahlah bagaimana dengan krisis yang mulai ada sekarang ini. Soalnya yang kena krisis ternyata ngga cuma negara di Asia saja. Sekarang krisis ekonomi mulai mendunia. Pemerintah sudah bilang fondasi ekonomi kita kukuh sehingga tidak perlu khawatir, tapi saya tetap ada khawatir juga. Meskipun kita ngga boleh putus harapan dengan rejeki dari Alloh, kita harus tetap waspada dengan kondisi yang ada di depan.
Boleh jadi, kita tidak terkena hajaran krisis. Tapi bahaya krisis bukan saja datang dari krisis yang terjadi pada kita. Kalau krisis itu terjadi pada orang lain, kita pun bisa terkena getahnya. Kita jualan, yang beli kena krisis ya kita juga kena. Di Malaysia sini malah mulai khawatir dengan tingkat kejahatan yang diperkirakan semakin tinggi. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi di Indonesia.
Kena hajar krisis? Kalo bisa sih, kita hajar balik. Sukses buat anda semua semoga badai krisis akan berlalu.