Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘Pemilu’

Harapan Golput di Pemilu Presiden

Tuesday, July 7th, 2009

Pemilu di luar negeri, memang agak beda. Ngga seperti pendaftaran pemilih yang melalui RT/RW, kami didaftar melalui sms, online, maupun data TKI.

Pemilihan legislatif kemarin, saya dan istri mendaftar secara online. Seharusnya kedua nama kami ada dalam DPT dan kami mendapatkan dua surat suara. Tetapi yang datang ke rumah hanya satu surat suara saja. Akhirnya hanya saya saja yang mencontreng.

Pencontrengan dilakukan seperti biasa. Tetapi untuk verifikasi data, surat suara disertakan dengan surat keterangan pemilih. Saya ngga tau apa yang dilakukan oleh panitia pemilihan di KBRI terhadap data saya. Takutnya, sudah tidak jadi rahasia lagi data saya dan pilihan saya.

Ini mungkin terjadi, karena siapapun bisa lihat data saya dan pilihan saya begitu amplop surat suara dibuka. Apakah orang yang membukanya sekalian mencatat, siapa memilih dan siapa yang dipilih. Kalau seperti itu kan ngga jadi bebas rahasia jujur dan adil lagi.

Apalagi, setelah pemilu legislatif itu, nama saya tiba-tiba menghilang dari DPT. Beberapa nama kawan saya juga hilang. Apakah mungkin, setelah memilih calon legislatif kemarin orang-orang yang tidak memilih caleg “pilihan panitia” akan dihilangkan dari daftar DPT?

Yah, ga tau deh. Memang sih, katanya saya tetap bisa memilih di TPS yang sudah ditetapkan. Tapi, TPS itu ada di Kuala Lumpur yang cukup jauh. Dari tempat kami hanya ada bis dan kereta api yang berangkat jam 9 pagi . Dengan perjalanan 3 jam, maka baru akan sampai jam 12 siang. Belum ditambah perjalanan dari stasiun bis/kereta ke KBRI yang perlu dua kali ganti bis dan memakan waktu. Jangan-jangan, sampai di sana TPS sudah ditutup. Selain itu, siapa yang akan membayari ongkos ke sana? Bukan uang sedikit lho, apalagi kalau saya pergi ke sana, sekeluarga harus dibawa.

Jadi, naga-naganya bakalan golput nih dalam pemilu presiden sekarang. Mudah-mudahan meskipun kehilangan suara saya, Indonesia tetap mendapatkan presiden terbaik. Saya percayakan sepenuhnya kepada bangsa Indonesia untuk membuat pilihan dan percaya pilihannya itu yang terbaik.

Aaamiiin.

  • Share/Bookmark

Pemilu 2009

Saturday, April 11th, 2009

Hajat besar bangsa Indonesia sudah hampir berakhir. Pemilu legislatif 2009 sudah dilaksanakan disebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ada juga yang belum bisa memberikan suaranya di pemilu kali ini dengan banyak alasan. Salah satunya saya hehehe.

Sebagai warga negara yang baik, tentu saya ingin ikut serta memberikan pilihan saya. Karena itu, begitu ada pemberitahuan pendaftaran pemilih lewat web, saya langsung daftar. Sudah sejak lama saya sebagai pemilih di web pendaftaran tersebut dan seharusnya masuk dalam DPT. Tapi sampai hari ini, Sabtu 11 April 2009 saya belum dapat surat suaranya. Katanya sih akan dikirimkan lewat pos, dan nanti contrengannya juga dikirim kembali pakai pos.

Setelah saya konfirmasi ke teman yang menjadi panitia, ternyata surat suara baru dikirim lewat pos berlangganan pada tanggal 8 April 2009. Wah kapan sampainya ya? lagi pula kan ada batas terakhir surat suara itu harus sampai di KBRI. Kalo suratnya baru datang minggu depan, kapan saya bisa kirim ke KBRI biar ga terlambat? Kalo terlambat lagi, ya percuma aja deh ikut mencontreng, dianggap ngga sah juga suaranya.

Lihat diberita, katanya juga banyak masalah di DPT dan surat suara ini. Mungkin katanya ini pemilu yang paling kacau. Sudah kaya hasil ramalan aja. Padahal kan kita ngga boleh percaya pada ramalan. Eh ini udah mirip dengan ramalan. Mudah-mudahan ngga kacau banget deh.

Sedikit cerita mengenai petugas pemilu di Malaysia. Dulu di awal tahun sudah diumumkan penerimaan petugas dengan syarat umur lebih dari 25 tahun. Ngga semua teman di sini yang merasa ingin ikut serta. Saya sendiri sih, sudah membayangkan kerepotan menjadi panitia. Dulu sewaktu tahun 2004 pernah jadi petugas di TPS. Petugas biasa saja sudah lumayan menyita waktu, apa lagi yang jadi ketuanya.

Di Malaysia sini, yang jadi panitia ngga semua di TPS. Ada yang bertugas untuk membawa surat suara dan drop box ke kantung-kantung populasi orang Indonesia seperti pabrik dan asrama karyawan. Tempatnya juga jauh-jauh dengan jumlah panitia yang ngga begitu banyak. Karena itu, kurang tertarik juga walaupun ada tawaran bayaran yang sama seperti panitia di Indonesia.

Beberapa teman memang akhirnya mendaftar menjadi panitia, tentu dengan alasan-alasan sendiri. Ada yang memang ingin ikut serta mensukseskan pemilu, ada yang ingin cari koneksi di pusat kekuasaan Indonesia di KL, ada juga yang memang ingin cari duit.

Ternyata jadi panitia lumayan juga tunjangannya. Setiap pergi ke tempat pemilih, akan dapat tunjangan transportasi, tunjangan makan, dan tunjangan penginapan. Jumlah aslinya ngga tau, tapi kayaknya sih ngga kurang dari RM 200 seorang. Sekitar Rp. 650 ribu.

Mudah-mudahan memang kerjanya bagus. Jadi pemerintah ngga sia-sia ngeluarin uang, dan panitia juga senang kerjanya dihargai dengan pantas. Tapi kemarin ada teman yang ngeluh karena salah satu panitia ada yang pulang jam 11 siang sedangkan yang lain pulangnya sampai malam. Enak bener ya kerjanya kayak gitu, bayaran penuh, kerjaan ngga sampe kelar. He he he. Meureun saya juga kayak gitu kali ya.

Btw, mudah-mudahan hasil pemilu kali ini adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia meskipun ngga terbaik buat beberapa partai. Pemilu presiden juga mudah-mudahan lebih baik biar ngga banyak yang kecewa seperti sekarang. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Selamat Jalan dan Selamat Bekerja

Friday, April 3rd, 2009

Hari ini, di Malaysia, terjadi pergantian pemimpin negara. Di negara federasi yang terdiri dari beberapa negeri (ada yang berupa kerajaan dan ada juga yang tidak), negara dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Pergantian dilakukan dari Tun Abdullah Badawi kepada Datuk Sri Najib Abdul Razak dengan perkenan dari Yang Di Pertuan Agong.

Jabatan perdana menteri yang disandang Pak Lah (panggilan akrab Abdullah Badawi) hanya sekitar 5-6 tahun saja. Termasuk salah satu yang tersingkat dalam sejarah perdana menteri di Malaysia. Jabatan ini dipegang sejak Tun Dr. Mahathir Muhammad mengundurkan diri di tahun 2003.  Pak Lah juga digantikan sebagai perdana menteri setelah mengumumkan tidak berminat untuk dipilih pada pemilihan presiden UMNO, organisasi politik terbesar di Malaysia.

Berbeda dengan di Indonesia, pemimpin negara atau pemimpin daerah dipilih berdasarkan mayoritas kursi di wakil rakyat. Di sini setiap etnis memiliki partai yang akan mewakili di House of Representatif tingkat nasional dan daerah. Karena kuatnya pengaruh kaum dan tidak mungkin meraih mayoritas kursi, maka beberapa partai dari etnis-etnis tersebut akan bergabung. Misalnya di sini ada gabungan Barisan Nasional (BN) yang diikuti oleh UMNO (Melayu), MCA (Cina), MIC (India), dan beberapa partai minoritas seperti perwakilan orang Dayak di bagian timur Malaysia. Gabungan satu lagi sering dinamakan pembangkang yang dalam bahasa Indonesianya Oposisi (Opposition) yang dimotori oleh PKR (pimpinan Anwar Ibrahim), PAS (Islam), DAP (Cina) dan beberapa partai lainnya. Bila satu kumpulan memiliki mayoritas di suatu daerah maka dia berhak untuk mengajukan nama calon pemimpin daerah tersebut. Misalnya seperti nama calon Gubernur atau Presiden di Indonesia.

Calon yang diajukan itu akan dipilih kemudian oleh raja di negeri bersangkutan (kalau yang punya raja). Kadang antara nama orang yang dicalonkan atau dibeking kuat oleh partai dengan yang dipilih raja bisa berbeda seperti kasus yang terjadi di negeri Terengganu beberapa waktu lalu. Anyway by the way, selamat jalan Pak Lah dan selamat bekerja Datuk Seri Najib.

Indonesia juga sebentar lagi mau milih-milih nih. Tanggal 9 April, jangan lupa nyontreng ya. Pilih wakil rakyat terbaik yang bisa membawa kesejahteraan buat rakyat Indonesia. Udah bosen kan hidup susah.

  • Share/Bookmark

Partai Golongan Kaya dan PDI Peruangan

Friday, March 6th, 2009

Pemilu sebentar lagi. Bahang panasnya sudah sampai ke seluruh dunia. Bahkan sampai ke pelosok Malaysia seperti tempat saya sekarang ini.
Malaysia, adalah tempat pemilihan luar negeri yang paling banyak jumlah daftar pemilih tetapnya. Pendaftarannya ngga seperti di Indonesia yang pakai sistem RT/RW. Di sini pemilih mendaftarkan diri melalui sms atau lewat internet. Jadi, ada ratusan ribu orang yang terdaftar di sini.
Ratusan ribu orang itu, tentu tidak akan cukup ditampung TPS-TPS yang jumlahnya cuma sedikit di KBRI KL, Konjen, dan sekolah-sekolah Indonesia. Tadinya jumlah TPS mau ditambah dengan pendekatan pribadi Dubes yang mantan Kapolri, balai Polis di beberapa daerah akan dijadikan TPS. Ternyata, kemungkinannya susah juga. Soalnya jumlah pemilih dan jumlah TPS yang diijinkan tidak akan seimbang. Akhirnya ya pakai sistem undi pos juga.
Undi pos memang rawan kecurangan. Misalnya kartu suara dikirimkan ke pabrik atau kebun tempat bekerja TKI. Lalu kartu suara itu diambil oleh satu orang dan dicoblosin semuanya berdasarkan keinginan sipengambil kartu. Dikirimkan balik ke KBRI, jadilah suara sah untuk partai tertentu saja.
Sekarang ada model baru untuk mengurangi kemungkinan curang, yaitu dengan sistem jemput kartu suara. Kartu yang disampaikan harus diantar langsung oleh pemilih kepada penjemput. Harapannya, kecurangan pemilu dapat dikurangi.
Yah, mudah-mudahan saja pemilu sekarang di Malaysia dapat berjalan dengan baik. Jangan sampai panitianya malah jadi obyek pemeriksaan karena kasus pemalsuan kartu suara.
Sekedar mengingat masa lalu, ketika dulu cuma ada 3 partai yang ikutan pemilu. Saat itu Golkar adalah partai penguasa, katanya mewajibkan pegawai negeri untuk memilihnya. Bahkan setiap pegawai negeri harus memastikan keluarganya juga mencoblos Golkar. Jangankan keluarga, guru di sekolah saya pun dulu mewanti-wanti agar siswa yang menjadi pemilih pemula supaya mencoblos nomor 2 yang berwarna kuning.
Sekarang pilihan lebih banyak, puluhan malah. Entah pemilih jadi bingung atau tidak. Terkadang ngga bingung, karena katanya suara bisa diberikan kepada pembeli terbesar. Beberapa kawan yang datang untuk sosialisasi pemilu di sini pun sudah ditanyakan, kaos dan bayarannya berapa. Padahal bukan tukang kampanyeu lho.
Ada calon pemilih yang meminta uang dan ternyata ada juga caleg yang mau memberikan uang. Ini sih dari partai manapun, namanya adalah caleg partai Golongan Kaya atau PDI peruangan karena mampu menghamburkan uang sedemikian banyaknya hanya agar gambarnya dibolongin atau kotaknya dicorat-coret. Sayang ya uangnya. Coba kalau digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, misalnya memberi saya beasiswa sekolah sampai selesai S teler.
Perubahan yang terjadi setelah selesai pemilu pun ternyata katanya tidak seperti harapan. Banyak janji yang diingkari oleh orang yang terpilih (katanya). Akhirnya menyebabkan beberapa orang menjadi apatis, memilih untuk tidak memilih karena merasa perbuatan memilih adalah perbuatan sia-sia.
Di sisi lain, ada lagi yang mengharamkan perbuatan tidak memilih atau yang lebih dikenal sebagai golput. Sampai-sampai keluar fatwa. Hebat-hebat.
Yah, saya sebagai rakyat jelalatan eh jelatawan cukup mengikuti saja perjalanan pemilu sekarang. Kalau sempat memilih, ya ikut milih. Kalau ngga sempat, ya mau gimana lagi. Mudah-mudahan siapapun yang terpilih, lebih banyak yang menginginkan kebaikan bagi Indonesia daripada yang menginginkan kebaikan bagi diri pribadi. Dengan begitu pas saya pulang, Indonesia sudah menjadi negara yang jauh lebih baik. Aamiin.

  • Share/Bookmark