Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘pendidikan’

Kem Jejak Kembara 2009

Friday, December 25th, 2009

Knock knock knock, anybody home?

Sudah lama juga ngga nulis di blog ini. Lebih dari satu bulan tanpa satu tulisan pun. Alhamdulillah pengunjungnya masih tetap setia, dengan rata-rata 250 orang pengunjung per hari. Seperti biasa, topik yang masih dibaca orang adalah tentang komputer dan beasiswa.

Kali ini, topik tulisan berkaitan erat dengan pendidikan. Sekitar pertengahan Desember 2009 saya ikut menjadi fasilitator di acara kem jejak kerjaya 2009 (Career Explorer Camp), yang diselenggarakan atas kerjasama Petrosains dan UTP. Sponsor utama tentu saja PETRONAS.

Camp ini diselenggarakan sebagai salah satu program investasi sosial korporat dari PETRONAS. Target pesertanya adalah para pelajar setingkat SMA kelas 2 yang mengambil pendalaman di bidang sains. Yang agak beda, target peserta dinyatakan sebagai yang pertengahan, antara maju dan tidak maju. Harapannya peserta menjadi terinspirasi untuk maju, dan memilih bidang kerja yang berkaitan erat dengan sains dan teknologi, terutamanya yang berhubungan dengan dunia minyak dan gas sebagai lahan pendapatan PETRONAS.

Kenapa harus sains dan teknologi? Ternyata negara maju mengakui kalau kemajuan yang mereka dapatkan adalah hasil penemuan saintis dan engineer. Contohnya: listrik, lampu, mobil, obat, pesawat terbang, bom nuklir, dan lain sebagainya adalah produk yang menunjang pencapaian sebuah negara menjadi negara yang maju. Mungkin hampir ga ada sebuah negara jadi maju karena memiliki sastra tingkat tinggi.

Karena itulah, negara maju seperti Amerika merasa khawatir karena tingkat peminatan sains dan teknik di sana mulai berkurang. Padahal selama ini mereka sangat bergantung pada penemuan baru dibidang sains dan teknologi untuk bisa terus berkompetisi. Bisa dilihat juga negara China yang mampu menyusul perkembangan sains dan teknologi di negara maju lainnya, ditambah lagi dengan kemampuan menjual yang tinggi tentu tinggal tunggu waktu saja menjadi negara adikuasa tertinggi.

Kalau sebuah negara tidak mampu berproduksi dengan sains dan teknologi, paling banter akan jadi negara konsumen dan penjual saja. Misalnya, jangan heran kalau suatu saat nanti Indonesia cuma bisa jualan baju saja karena ngga mampu memproduksi sendiri bajunya. Kalah murah oleh produk China.

Malaysia sendiri menetapkan target, 60% siswa minat ke sains dan teknologi sedangkan sisanya ke jalur sastra, ekonomi, dan lainnya. Sebuah target yang berat karena seperti juga di negara lain, orang lebih tertarik menjadi penjual, atau pengacara karena penghasilannya lebih tinggi. Apalagi dengan banyaknya program menjadi selebriti secara instant. Tentu saja menggiurkan, menjadi kaya dan terkenal dalam waktu singkat dari program-program reality show seperti idol dan sejenisnya.

Nah, PETRONAS sebagai salah satu perusahaan milik negara Malaysia ikut serta dalam program pencapaian target itu melalui Petrosains. Ternyata banyak juga ya institusi pendidikan di bawah PETRONAS ini. Selain UTP, Petrosains, masih ada lagi ALAM dan INSTEP. Malah katanya, lulusan INSTEP yang mengkhususkan di program profesional seperti diploma dan sertifikasi bidang proses kimia banyak dicari sekarang ini.

Kembali lagi ke camp tadi, Petrosains dan UTP sebagai salah dua lembaga pendidikan di bawah PETRONAS bekerja sama untuk membuat camp yang merupakan edisi kedua pada tahun ini. Tujuannya untuk memperkenalkan dunia pekerjaan dibidang minyak dan gas (oil and gas) yang menjadi tumpuan PETRONAS untuk cari duit. UTP mengerahkan sekitar 14 orang mahasiswanya, dimana 7 orang mahasiswa undergraduate dari Malaysia dan 7 orang lagi mahasiswa Master dan PhD yang semuanya dari Indonesia, sebagai fasilitator.

Have fun, memperkenalkan konsep sains dan teknologi melalui “pekerjaan tangan”. Mengingatkan masa muda saya ketika dulu aktif di Pembinaan Anak-anak Salman. Wah, jadi terharu. Mudah-mudahan programnya juga berhasil mengaitkan peserta pada karir di bidang sains dan teknologi.

Di Indonesia, bukannya ngga ada sih program seperti ini. Program yang kayak begini sudah ada, tapi ngga terdengar. Orang-orangnya senang bekerja tanpa terlihat dan terdengar, tapi terasa hasilnya. Lagi-lagi, istri saya banyak kenal dengan orang-orang seperti itu. Program pemberdayaan masyarakat yang ngga harus lewat jalur pendidikan formal. Dilakukan oleh orang-orang berdedikasi tinggi seperti misalnya di Jawa Timur oleh salah seorang pengurus Nasyiatul Aisyiah dari Muhammadiyah.  Juga di Garut Jawa Barat yang digerakkan oleh banyak alumni dari ITB, Unpad, dan lainnya yang kalau mereka memikirkan karir tentu akan dapat karir baik. Ngga cuma dibidang oil and gas, bidang apapun mereka pasti terpakai. Tapi mereka memilih tinggal di desa, membantu anak desa menemukan dunia yang lebih luas, pemuda dan lelaki pencari nafkah di sana melihat peran sains, teknologi, dan ilmu-ilmu lainnya bisa meningkatkan taraf hidup mereka.

Wow wow, kebanyakan. Udah dulu ah. Selamat berjuang orang Indonesia, selamat berjuang orang Malaysia, semoga berhasil memajukan negara masing-masing.

  • Share/Bookmark

Joki

Saturday, July 25th, 2009

Baru baru ini, media berita nasional dan juga milis yang saya ikuti diramaikan oleh tertangkapnya 14 mahasiswa ITB yang menjadi joki. Berita terakhirnya, semua mahasiswa ini dikeluarkan dari ITB. Gara-gara terbujuk 30 juta rupiah, harapan orang tua, harapan bangsa, dan cita-cita sendiri menjadi musnah (masih bisa bikin harapan baru sih).

Joki ternyata bukan cerita baru. Dalam milis juga disebutkan, bahkan dari tahun 1970 an, sudah ada perjokian. Makin ke sini, makin ganas dan makin canggih saja. Kabarnya, yang menjadi joki bukan hanya orang yang duduk menggantikan orang lain saja. Bahkan ada juga yang menjadi panitia dan memiliki akses pada soal-soal sebelum diserahkan ke peserta ujian. Kebenaran beritanya mungkin dipertanyakan karena belum ada buktinya, tapi kalau memang terjadi seperti itu, makin sempurna lah kerusakan pendidikan nasional kita. Dari mulai bocoran UN sampai ujian masuk PTN juga tersedia.

Tentang hukumannya, masih menjadi pro kontra. Ada yang setuju dengan DO dan ada juga yang ngga setuju. Alasan yang ngga setuju, masa kita mau menghancurkan masa depan harapan bangsa dengan DO. Alasan yang setuju, perbuatan joki adalah perbuatan kriminal dan ngga perlu toleransi dengan kriminal, yang salah harus menerima hukuman. Yang tidak setuju bilang, kalau ranah kriminal ya dihukumnya di luar institusi dong, bukan kewajiban institusi untuk memberikan hukuman. Yang setuju bilang, dalam institusi juga sudah memberikan peringatan agar jangan sekali-kali menjadi joki karena konsekuensinya akan dikeluarkan dari almamater.

Keputusan akhir, ya ternyata di DO juga deh. Kasihan juga, mereka yang tergiur dengan uang 30 juta tentu bukan orang berada. Masuk PTN sekelas ITB tentu adalah suatu kebanggaan dan menjulangkan harapan banyak orang. Apalagi kebanyakan yang tertangkap ini angkatan baru, yang baru satu tahun merasakan indahnya ITB. Masih terasa koq, setahun pertama itu adalah masa paling membanggakan dalam tahun-tahun belajar di ITB. Akhirnya harapan itu terbuang.

Seharusnya, yang kena hukuman bukan hanya joki saja. Yang dijokikan pun sepatutnya mendapat hukuman. Misalnya masuk dalam daftar hitam PTN seluruh Indonesia. Hukuman dari kepolisian pun bisa diterapkan. Baru saja saya baca, polisi akan mempidanakan orang yang menjual dan membeli video pemboman hotel di Jakarta, bukan masalah penyiarannya. Tapi yang dipermasalahkan adalah adanya pemberi suap dan penerima suap untuk mendapatkan film-film tersebut. Sama juga kan untuk kasus joki. Ada yang menyuap supaya diloloskan dan ada yang menjalankan aksi untuk meloloskan dengan menerima suap itu.

Masih ingat, ketika dulu tahun ketiga ada kakak kelas yang sudah duduk di semester akhir tertangkap menggantikan pacarnya ujian semesteran. Semester akhir gitu lho, tapi karena tertangkap ya dia dikeluarkan dari Jurusan Teknik Elektro ITB. Jurusan keren, PTN keren, amblas gara-gara pacar, semester akhir pula. Ga tau ya, si pacarnya di DO juga atau ga.

Kasus joki, seharusnya ga cuma orang yang menggantikan orang duduk ujian. Ada juga orang yang bekerja menggantikan orang lain untuk menyelesaikan tugasan. Misalnya, jual beli skripsi. Toh sama juga, yang kerja orang lain yang dapat kelulusan orang yang lain lagi. Tapi kayaknya yang gini belum tersentuh hukum joki. Udah ada belum ya yang di DO gara-gara jual skripsi atau mengerjakan tugas akhir orang lain?

Ga tau deh. Sekarang mah lurus-lurus aja. Usaha sendiri kalau dapat ya itu rejeki kalau ga dapat ya belum rejeki. Hidup belum berhenti ketika kita ga diterima di ITB, UI, UGM, ITS atau perguruan tinggi favorit lainnya.

  • Share/Bookmark

Kuliah di Malaysia

Saturday, May 16th, 2009

Melanjutkan sekolah ke Malaysia, ternyata jadi trend juga ya. Menurut data yang dipaparkan oleh antara.co.id, imigrasi Malaysia mencatat lebih dari 8000 pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Malaysia dari jenjang D3 sampai S3. Sebagian dibiayai beasiswa dan sebagian lagi berbiaya sendiri. Perkiraan saya sih, kebanyakan biaya sendiri.

Kenapa koq orang Indonesia banyak yang rela mengeluarkan biaya sendiri untuk sekolah di Malaysia? Apakah mutu pendidikan di Malaysia jauh lebih baik daripada di Indonesia? Atau ada sebab-sebab yang lain? Berikut ini sedikit bahasan pribadi mengenai perbandingan pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia.

Seperti biasa, perguruan tinggi milik negara akan lebih baik daripada perguruan tinggi swasta. Selain karena PTN sudah lebih dulu ada, biasanya orang yang bisa masuk ke PTN memang lebih terpilih. Apalagi PTN yang masuk jajaran 200 besar dunia yang ada di Malaysia seperti Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Universiti Sains Malaysia.

Jangan berharap bisa masuk PTN (IPTA) tersebut dengan mudah, karena warga negara Malaysia saja susah bisa masuk ke sana. Kalau melihat berita-berita tentang orang yang masuk PTN, kayaknya di Malaysia sini siapa masuk PT apa dan jurusan apa, ada yang ditentukan oleh pemerintah. Aplikasi permohonan supaya bisa diterima PTN, disatukan dalam di kementrian pendidikan tingginya. However, ini hanya duga-duga saja ya. Soalnya pernah baca di koran kalau ada lulusan sekolah menengah sini yang mengeluh mendapat jatah PTN yang jauh dari tempat tinggalnya dan jurusannya pun tidak sesuai dengan yang diinginkan. Agak beda dengan Indonesia yang menerapkan sistem seperti SPMB.

Karena itu, banyak siswa yang punya pilihan jurusan tertentu lebih memilih masuk PTS (IPTS) seperti Universiti Teknologi PETRONAS, Curtin, Taylor, UCSI, dan lain sebagainya. Orang asing yang mau masuk S1 (undergraduate) pun nampaknya hanya bisa di IPTS ini. Ada sih yang masih menerima orang Indonesia di program undergraduatenya, tapi sudah sangat jarang. Misalnya ada di USM dan UUM (Universiti Utara Malaysia). Bahkan katanya jatah penerimaan mahasiswa asing dari Indonesia sudah dikurangi.

Kalau ngga dapat beasiswa, biaya pendidikan di sini mungkin masih terjangkau oleh orang-orang tingkat menengah ke atas Indonesia. Percaya deh, orang kaya di Indonesia masih banyak. Bahkan lebih banyak daripada orang kaya di Malaysia. Karena itu ngga heran, banyak yang bersekolah di Malaysia sini dan tinggal di apartemen-apartemen yang cukup mahal.

Biaya sekolah undergraduate (S1) bervariasi antara 8juta sampai 60 juta per semesternya. Biasanya yang berkaitan dengan kedokteran akan jauh lebih mahal di bandingkan yang lainnya. Uang masuknya sendiri berkisar 2juta rupiah. Itu biasanya sudah termasuk biaya hostel alias asrama. Kalau dibandingkan biaya kuliah di PTS Indonesia, terutama yang berkelas macam Trisakti atau Unpar, mungkin sebanding ya.

Ga seperti di Indonesia, di sini sangat biasa kalau mahasiswa tinggal di dalam asrama dari tingkat awal sampai akhir. Setting kampus yang jauh dari perumahan, memang lebih mudah dan murah kalau tinggal dalam kampus apalagi kalau yang bujangan. Kelemahannya, interaksi dengan lingkungan mungkin jadi kurang. Kalau di Indonesia, biasanya mahasiswa juga aktif di kegiatan lingkungan seperti di Masjid atau RT, di sini agak jarang. Sayang juga sih, mahasiswa Indonesia yang sekolah di sini. Potensi kekurangan sentuhan jiwa sosial, cukup besar.

Biaya hidup bisa dibandingkan sama deh antara kota di Indonesia dengan Malaysia. Sekali makan berkisar Rp. 2500 sampai Rp. 20rb yang sudah dengan minumannya. Hampir sama kan dengan Indonesia?

Bagi orang dari pulau Sumatra, Kalimantan, atau Sulawesi mungkin pilihan sekolah di Malaysia jadi lebih murah dibandingkan dengan menyekolahkan anaknya ke Jakarta atau kota besar di Pulau Jawa. Waktu tempuh yang singkat juga membuat sekolah di sini jadi menarik. Bisa agak sering pulang dengan biaya yang murah. Airasia banyak lho frekuensi penerbangannya ke kota-kota di Sumatra. Dibandingkan dengan sekolah di Jawa, mungkin lebih murah ongkos perjalanannya.

Beasiswa untuk S1 juga banyak diberikan oleh beberapa IPTS, misalnya dari PETRONAS, CIMB Niaga, dan pemerintah Malaysia sendiri melalui MTCP. Kalau beruntung, ya bisa gratisan deh sekolah di sini bahkan dapat uang saku yang lumayan. Bisa dipakai pulang ke Indonesia kalau sedang liburan.

Soal mutu, sekolah di Indonesia ga kalah koq. Meskipun hampir ga ada PT di Indonesia masuk jajaran 200 besar di dunia, tapi ya wajar dengan dana terbatas. Di sini tertolong dana yang agak besar untuk publikasi di konferensi internasional dan ikut kegiatan-kegiatan kompetisi tingkat dunia. Kalau dilihat kualitas tanpa publikasi, saya menjagokan PTN Indonesia lebih baik daripada Malaysia. Jadi, gimana? Mau sekolah di sini? Sekolah di Indonesia aja deh. He he he.

  • Share/Bookmark