Sebuah renungan cetek dari seorang manusia biasa di http://www.schoolofuniverse.com
Setiap manusia lahir ke dunia dalam keadaan fitrah. Bagaikan kertas putih yang siap ditulisi, oleh orang tuanya.
Tulisan ini, diharapkan ringan-ringan saja. Anggap seperti pengantar tidur, yang kalo enak dibaca membuat mimpi yang indah. Kalo ngga enak dibaca, bisa cepat membuat ngantuk, hehehe.
Seperti yang telah ditulis di atas, manusia lahir ke dunia dengan keadaan fitrah. Masih bersih dan polos. Otaknya tidak dipenuhi pikiran ngeres, juga ngga kepikiran untuk KKN. Jangankan untuk berbuat jahat, mengatasi lapar saja hanya bisa dengan menangis dan menangis. Bahkan untuk sekedar dikasih susu harus disodori, belum bisa mencari sendiri atau mengambil sumber makanannya sendiri.
Manusia ga bisa memilih orang tuanya. Dilahirkan apa adanya. Ada yang dari keluarga kaya juga keluarga miskin. Ada yang dari keturunan baik-baik ada juga yang anak penjahat. Agamanya ini, itu, juga ngga bisa dipilih.
Padahal orang tua itulah yang akan menulisi si kertas putih dengan segala apa yang dimilikinya. Hartanya, makanannya, teman-temannya, semuanya. Termasuk juga di dalamnya, keyakinan akan Tuhan. Bahkan si anak yang bagai sponge itu, akan menelan dan menerima apapun yang diberikan dari orang tua dan alam sekitarnya. Tanpa tedeng aling, tanpa pertimbangan, dan tanpa dipikirkan.
Termasuk keyakinan pada Tuhan? Ya, termasuk itu. Entah yang namanya doktrin, entah yang namanya cuci otak, atau yang lainnya. Kebanyakan manusia akan mengikuti keyakinan orang tuanya. Sangat sedikit sekali, orang yang benar-benar mencari Tuhannya dari nol. Selalu ada prasangka, selalu ada asumsi, selalu ada nilai mula bahwa keyakinan orang tuanya adalah BENAR.
Perjalanan mencari Tuhan, menjadi perjalanan mencari pembenaran akan keyakinan orang tua. Sedangkan keyakinan yang lain, akan dicari salahnya. Kata orang, pelintar pelintir. Bahkan kejadian alampun sengaja dihitung-hitung untuk sekedar justifikasi kalau ajaran yang diyakininya itu benar.
Entah apa rahasia Tuhan, melahirkan saya dari orang tua beragama Islam sedangkan teman saya yang lain ada yang Kristen, Buddha, Hindu, dan lainnya. Entah kenapa Dia memilihkan saya agama ini sedangkan ada juga yang dipilihkan agama yang lain.
Rencana Tuhan memang sungguh rahasia. Alhamdulillah, saat ini saya sampai pada kesimpulan ngga perlu cari tahu apa rahasia Tuhan. Cukup saya jalani peran saya sebagai manusia biasa sebaik-baiknya. Menjalankan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi apa yang dilarang Nya, sejauh yang saya mau dan mampu. Rahasia Tuhan memang sering ga sampai dengan logika manusia biasa seperti saya. Makanya, orang-orang alim sering menamakannya dengan iman, keyakinan pada hal-hal yang seperti itu.
Bicara iman atau keyakinan, bukan area keahlian saya. Biar saja menjadi bahan diskusi orang-orang hebat yang bertebaran di luar sana. Sementara itu, biar saya memilih menikmati peran manusia biasa saya di sini sebagai mana telah Dia pilihkan untuk saya, sejak dulu kala.
Buat istriku tersayang, maaf ya ternyata tulisan macam ini akhirnya keluar juga. Mudah-mudahan mimpi indah, bukan cepat mengantuk. Kutipan terakhir sebelum tidur
Masa lalu sudah tidak bisa dirubah, masa depan harus diciptakan