Entries RSS Comments RSS

Posts Tagged ‘renungan’

Liberty Mutual

Thursday, May 27th, 2010

Pada awalnya, cuma penasaran aja dengan e-mail dari sebuah milis. E-mail ini berisi tentang Revolusi Belajar yang dibawakan oleh Sir Ken Robinson dalam acara Ted Talks. Boleh dicari di http://www.ted.com atau melalui youtube. Saya sendiri download seluruh bagian dari kuliah 15 menit Sir Ken tersebut.

Isi kuliahnya adalah menceritakan bagaimana pendidikan di jaman sekarang sudah memakai sistem fast food. Pola pendidikan cepat yang memakai standarisasi dalam penyajiannya. Intinya berkeinginan supaya hasilnya bagus dan merata. Tapi pendidikan bagi tiap orang berbeda.

Apa yang bisa berhasil dengan baik kepada satu orang belum tentu berhasil ke orang lain. Dia kasih contoh, dia dapat gitar pada saat yang sama dengan Eric Clapton belajar gitar. Tapi hasilnya beda meski sekeras apapun dia belajar gitar ga bisa sebagus Eric Clapton.

Hal yang ekstrim lagi sekarang bahkan untuk masuk play group atau TK pun sudah pakai interview dan segala macam test. Kadang anak ga bisa dimasukkan ke sekolah yang diinginkannya hanya karena ngga berhasil lolos dari test-test yang diberikan.

Sekolah tidak lagi menyenangkan karena passion sudah dilepaskan darinya. Banyak hal yang sudah menjadi mekanistis dan dijadikan standard. Ngga standard, ngga lulus. Mungkin ini juga kali ya yang menjadi keluhan banyak orang tentang Ujian Nasional.

Isi kuliahnya menambah bingung saya sebagai orang tua, harus bagaimana membimbing anak belajar sesuai dengan passion mereka. Mau masukin sekolah yang ngga standard juga jadi masalah, karena pasti biayanya tinggi.

Anyway by the way, film yang saya download dari youtube itu berisi sekitar 20 menit. Kuliahnya sendiri sekitar 16 menit. Penasaran juga sih dengan sisanya yang sekitar 5 menit. Ternyata isinya menarik. Membuat ketawa ringan dan mendapatkan sedikit pelajaran hidup.

Apa tuh pelajaran hidupnya? Penasaran? Lihat saja sendiri di web nya. Sebelum lihat jangan lupa mampir ke http://www.tokodiskon.com lalu lihat filmnya di http://www.youtube.com dengan kata kunci ken robinson learning revolution.

Jangan komentar sebelum lihat akhir film itu ya :)

  • Share/Bookmark

Nikmat Terasa

Tuesday, January 6th, 2009

Keluarga itu nikmat

Harta itu nikmat.

Tahta itu nikmat.

Makanan itu nikmat.

Nikmat itu sebenarnya apa-apa yang sudah ada ditangan. Dicarinya susah, dengan keringat, darah, dan air mata. Baru kerasa nikmat, biasanya saat sudah akan hilang.

Ga mau ah, pinginnya kerasa nikmat ketika ada ditangan. Biar bisa disyukuri, dinikmati, dibagi-bagi (yang bisa dibagi). Walau sekedar cerita di siang bolong, atau dongeng pengantar tidur.

  • Share/Bookmark

Pertanyaan Sebelum Datangnya Kematian

Friday, November 14th, 2008

Pernah beberapa kali pertanyaan ini melintas dipikiran saya. Apa yang akan terjadi ketika saya akan meninggal? Dirunut-runut melihat pengalaman orang-orang yang meninggal, saya coba list pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan proses meninggal.

Pertama, kalo saya nanti meninggal kira-kira karena apa ya? Sebelumnya saya pernah bikin tulisan tentang memilih cara meninggal, yaitu suatu pekerjaan yang kita senangi. Ada yang senang dakwah, meninggalnya ketika berdakwah. Ada yang senang naik motor gede, meninggalnya juga saat naik motor gede. Tetapi sebab meninggalnya bukan itu sih. Misalnya Gito Rollies meninggal karena sakit keras sedangkan Sophan Sopian meninggal karena kecelakaan. Ketika saya mengantar mertua berobat ke sebuah rumah sakit, di sana juga ada yang meninggal gara-gara disantet. Ada juga yang sedang ngobrol tiba-tiba meninggal. Ngga ada tanda, ngga ada sebab. Dulu saya rindu sekali meninggal sebagai syuhada. Entah meninggalnya karena berperang atau sebab lainnya tapi bisa dikategorikan sebagai syahid. Sekarang entahlah, saya ngga tau lagi. Punya keinginan sebab mati juga ngga mungkin, tapi mudah-mudahan tidak memberatkan orang-orang yang dekat dengan saya. Kasihan kan.

Yang kedua, kalo saya sudah mau meninggal, siapa ya yang kira-kira membantu membimbing saya mengucap kalimat syahadat? Kalo lihat di film sih, banyak orang yang meninggal setelah mengucapkan kalimat-kalimat yang baik. Ada yang sebelum meninggal bersyahadat terlebih dahulu, ada yang bertakbir, ada juga yang bilang: “T t t tteruskan pp per juaangan kuuu aaaaaakkkkh”. Kalo melihat kenyataannya, tidak semudah itu mengharapkan bisa meninggal dengan kalimat terakhir yang baik. Kalo perkiraan saya, lagi-lagi berhubungan dengan kegiatan yang sering kita lakukan. Kalo kita sering berdzikir, sering bertasbih, tahmid, dan takbir, insya Allah kata-kata itu juga yang terakhir keluar dari bibir kita. Ada yang cerita seorang kenek yang terjatuh dari bisnya ketika akan meninggal malah keluar nama tempat yang biasa dia teriakkan ketika sedang menarik penumpang. Ada lagi yang katanya gerakan tangan dan tubuhnya seolah-olah sedang menghitung uang. Kayaknya kalo kita berharap ada kata-kata terakhir yang akan keluar dari bibir kita, harus sudah mulai sering kita ucapkan saat kita masih sadar. Sampai-sampai kalo kita sadarpun kata-kata itu yang akan sering keluar dari mulut kita. Beberapa orang yang saya kenal masih berkomat-kamit seperti memuji-muji Allah ketika mereka menjelang ajal. Biasanya sih, beberapa hari menjelang ajal suka sudah tidak sadar. Kecuali kalo yang matinya karena kecelakaan ya. Tapi mungkin juga sih kata-kata yang keluar adalah yang sering diucapkan ketika tidak sadar. Misalnya kalo orang yang sewaktu hidupnya terkaget-kaget mengucapkan astaghfirullah atau Allohu Akbar, kayaknya pas kecelakaan dan meninggal juga akan mengucapkan kata-kata itu. Sekarang bayangkan betapa lucunya seorang yang sewaktu hidup dan sering kaget mengucapkan nama-nama binatang, terus pas kecelakaan dan mau meninggal kata-kata itu juga yang keluar hehehe. Naudzu billah deh.

Ketiga, kalo pas meninggal siapa yang ngurusin ya? Ngerepotin ngga ya kira-kira? Kalo meninggalnya siang hari dan hari kerja, mungkin ngga nyusahin yang ngurus. Mau beli kain kafan dan kapas gampang. Mau mesen kubur juga ngga susah. Kalo meninggalnya jam 12 malam? Masa harus ditunggu sampai siang dulu sih baru diurusin. Mertua saya sudah menyiapkan kain kafan dan kapas sejak berbulan sebelum meninggal. Alhamdulillah, ketika meninggal malam hari tidak merepotkan keluarga untuk mencari keperluan pengurusan jenazah, sehingga bisa langsung diurus malam itu juga dan siap untuk dikuburkan pagi-pagi sekali. Pengurusan jenazah berkaitan dengan pemandian dan pensholatan. Meskipun saya sudah beberapa kali ikut kursus pengurusan jenazah, kayaknya tetap mesti buka kamus dulu deh untuk pelaksanaannya. Banyak yang lupa. Lah kalo keluarga ngga ada yang bisa gimana? Siapa yang mau mandikan dan menyolatkan? Bisa sih dimandikan oleh orang lain, tapi kan lebih baik kalo dimandikan oleh keluarga sendiri. Senang juga kalo anak sendiri yang bisa mengimami sholat jenazahnya.

Keempat, siapa yang akan mengantarkan jenazah dan mendoakan? Sewaktu tetangga saya meninggal, yang mengantarkan sampai ke kubur bisa dihitung dengan jari. Soalnya sudah tua dan tidak terlalu aktif di masyarakat. Kalo saya, paling ya teman kantor aja sama tetangga. Itupun kalo ada yang mau. Maklum deh, saya kan belum terasa kehadirannya oleh orang lain. Kalo orang yang sudah terasa kehadirannya, kehilangannya pun akan terasa dan orang akan memperjuangkan waktu dan tenaga untuk mengantarkan. Seperti yang saya lihat ketika uwak saya meninggal, begitu banyak orang yang datang untuk menyolatkan dan mengantarkan. Begitu juga ketika seorang aktivis meninggal, banyak kawan sesama aktivis yang ikut mengantarkan. Pak Harto, meskipun banyak yang benci ternyata banyak juga yang mengantarkan. Artinya Pak Harto adalah orang yang terasa kehadirannya. Ketika mertua saya meninggal, banyak juga yang mau ikut mengantarkan ke kubur. Tapi kebetulan tempat tinggalnya bukan berisi orang-orang berada yang punya kendaraan pribadi, sedangkan jarak ke pekuburan umum juga cukup jauh. Mau ngga mau harus disiapkan kendaraan untuk mengangkut para pengiring ini. Biasanya sih biar banyak daya muatnya disiapkan bis atau truk. Keluarga harus rela keluar uang sedikit yang penting almarhum banyak yang mengantarkan dan mendoakan. Apalagi katanya setelah 40 langkah pengiring meninggalkan kubur, maka sudah harus bersiap-siap berhadapan dengan malaikat yang bertanya dalam kubur.

Kelima, kira-kira keluarga mendoakan terus ngga ya? Menurut ajaran Islam, semua amal sudah terputus setelah kita meninggal. Ngga ada lagi usaha yang bisa kita lakukan untuk menambah pahala atau mengurangi dosa. Yang tinggal adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariah, dan doa dari anak. Mudah-mudahan anak-anak saya selalu ingat untuk mendoakan orangtuanya. Jangan sampe deh, punya anak yang cuma bisa berkelahi berebut warisan setelah ortunya meninggal. Saya setuju dengan keputusan untuk membuat masjid atau jadi tabung abadi penyantunan orang yang membutuhkan daripada sekedar diwariskan ke anak. Biar deh ditinggalkan secukupnya saja, anak juga sudah punya rejeki sendiri, ngga harus dari orangtua terus. Mudah-mudahan sempat menyiapkan anak menjadi anak yang sholeh dan ngga bergantung dengan suapan orangtua terus. Jadi ketika saya nanti meninggal, mereka bisa jadi jalan penghapusan dosa saya dan juga mereka bisa meneruskan hidup dengan baik sepeninggal saya. Aamiin. Gimana dengan anda?

  • Share/Bookmark

Sakratul Maut

Monday, October 27th, 2008

Buat setiap manusia, sakratul maut itu adalah peristiwa spesial. Yang bisa menunggui orang yang sakratul maut pun adalah orang-orang terpilih. Tidak semua orang dekat bisa menyaksikan seseorang meninggalkan dunia ini. Begini ceritanya.

Pak Tuo (Uwak, Pak De) dari istri saya adalah adik-beradik 6 bersaudara. Pada saat itu dia sedang melanjutkan studi dengan beasiswa di Amerika Serikat. Biasanya sih kehidupan berjalan biasa saja, apa lagi sudah di semester terakhir kuliah, ya kegiatan di kampus sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Tetapi entah kenapa dalam seminggu itu setiap kali akan masuk ke kelas si pintu selalu terkunci dari dalam. Ketika dia meninggalkan kelas tersebut, orang lain dengan mudah bisa masuk ke ruang kelas tanpa terkunci dari dalam. Pas dia balik lagi ke kelas tersebut pintu sudah terkunci lagi tanpa bisa dibuka. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan kejadian tersebut yang menyebabkan dia berpikir untuk segera pulang ke Indonesia meskipun sekolahnya belum selesai. Sampai-sampai supervisornya juga bertanya kesungguhan dia untuk pulang karena kalau sudah pulang dia tidak akan bisa kembali lagi ke Amerika karena tiket kembali dari program beasiswa sudah dipakai. Akhirnya dia pulang juga ke Indonesia meskipun tidak akan bisa menyelesaikan sekolahnya.

Sesampainya di Indonesia ternyata ibunya sudah sampai tahap terakhir kehidupannya. Semua kegiatan seolah-olah sudah persiapan terakhir saja. Keenam anaknya sudah berkumpul semua. Harapannya sih, semua bisa menyaksikan saat-saat terakhir si ibu, sakratul maut. Tetapi ketika saat-saat terakhir itu kondisi si ibu yang sudah payah membuat tiga orang anaknya pergi keluar untuk mencari dokter sedangkan tiga anaknya yang lain dapat mendampingi si ibu menghembuskan nafas terakhir, salah satunya Pak Tuo istri saya itu. Aneh, tapi memang nyata. Kata-kata pembuka tulisan inilah yang disampaikan oleh Pak Tuo saya ke istri saya saat pulang dua minggu yang lalu ke Indonesia karena ayahnya sudah payah.

Mengenai persiapan terakhir, biasanya di hari-hari terakhir tubuh manusia yang akan meninggal itu sudah mulai membersihkan kotoran dari dalam tubuhnya. Jalan pembersihannya macam-macam. Kasus yang pernah disampaikan ke istri saya, ada yang selalu muntah-muntah. Ada lagi seperti mertua lelaki saya pada lima hari terakhir itu selalu pergi ke toilet untuk buang air besar dan air kecil Padahal ngga makan dan ngga minum. Hari ke lima itu juga sudah mulai menyampaikan salam ke malaikat maut. “Assalamu ‘alaikum malaikat maut, selamat datang”. Begitu katanya sambil menengok ke satu arah. Padahal ngga ada siapa-siapa di arah yang dilihat oleh mertua saya itu.

Beberapa orang meninggal setelah beberapa hari tidak sadar atau pingsan. Ini yang terjadi pada Uwak saya yang kepalanya terbentur lantai setelah jatuh dari pagar. Ayah istri saya juga sudah tidak sadar sejak beberapa hari sebelum beliau meninggal. Mungkin ada baiknya seperti itu. Menurut Rasul, saat paling sakit dalam kehidupan manusia adalah saat sakratul maut. Mungkin kalau tidak sadar rasa sakit sakratul maut bisa lebih ringan sakitnya. Sayang belum ada yang bisa cerita saat-saat sakratul maut ya. Kalau ibu melahirkan, katanya itu sudah dekat-dekat sakratul maut. Sakitnya luar biasa kata istri saya.

Saat-saat sakratul maut juga penuh dengan misteri. Saat Mak Tuo (Uwak perempuan, Bu De) istri saya akan meninggal istri saya sudah berniat ingin menginap di rumah sakit. Sudah siapkan pakaian dan perlengkapan mandi segala. Tapi menjelang jam dua belas malam istri saya kebelet pulang ke rumah. Akhirnya pulanglah dia diantar ayahnya. Sesampainya di rumah ayah istri saya merasa ngga tenang dan merasa harus segera pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit hampir jam satu malam dan saat sampai di pintu kamar kakaknya sudah mulai proses sakratul maut. Untungnya ayah istri saya itu masih bisa mendampingi saat-saat terakhir kepergian kakaknya.

Ketika ayah istri saya akan meninggal, di rumah ada beberapa anggota keluarga yang ikut membaca quran. Bahkan mereka sudah datang dari subuh untuk sama-sama membacakan quran buat ayah istri saya. Sore harinya sekitar jam 7 malam beberapa orang pamit pulang. Beberapa orang keluarga lainnya juga sedang keluar membeli barang keperluan tapi tercegat macet di dekat rumah. Baru saja beberapa langkah yang pamit pulang pergi ternyata ayah istri saya meninggal. Akhirnya memang benar, hanya beberapa orang terpilih saja yang bisa ikut mendampingi sedangkan yang lainnya karena satu dan lain hal tidak akan bisa ikut.

Bagaimana sih detik-detik hembusan nafas terakhir itu? Beberapa orang yang akan meninggal sudah terasa dingin bagian bawah kakinya menjelang sakratul maut. Menurut penjelasan dalam agama Islam, nyawa memang dicabut perlahan dari bagian bawah dulu yang dikosongkan. Nafas juga cuma tinggal sekali-kali saja dan selang waktu ke nafas selanjutnya cukup lama. Mungkin sekitar 2 menitan. Ketika nyawa sudah sampai diujung, biasanya ada suara seperti ceklok. Istri saya yang menyaksikan ayahnya meninggal juga memang mendengar suara seperti itu. Setelah itu nafas berat sekali dan tenang. Alhamdulillah ketika meninggal tidak ada kejadian aneh yang berlaku. Pada saat yang tidak terlalu lama tetangga mertua saya juga meninggal. Karena ada penyakit usus, ketika sakratul maut keluar darah dari lubang-lubang tubuhnya. Misalnya dari mulut, hidung, telinga, dan bagian bawah.

Begitu saja sharing cerita sakratul mautnya. Mudah-mudahan bisa jadi pengingat karena kita pun satu saat akan segera menyusulnya. Sudah siap-siap?

In Memoriam, Mertua saya Tamerlan Tores Tahir. Meninggal dunia di Bandung, 15 Oktober 2008, jam 19.15. Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima, dosanya diampunkan, urusan kubur dan akhiratnya dimudahkan. Aamiin.

  • Share/Bookmark