Tuesday, April 14, 2020

Agama Lawan Pancasila

Pernyataan wawancara Kepala BPIP yang baru dilantik lima hari lalu, Prof Yudian Wahyudi dengan media online Detik tentang lawan Pancasila adalah agama adalah blunder dalam komunikasi politik.
Bila kita melihatnya dari perspektif frekwensi pembicaraan maka ia boleh dibilang sukses menciptakan eksposure di media dan publik. Prof Yudian sukses menembus trending topic dan menciptakan viralnya dalam bentuk pro dan kontra. Hal yang menjadi mimpi para aktivis sosial media, youtuber, atau media influencers.
Namun bila kita melihatnya dari perspektif komunikasi politik maka ini merupakan blunder yang berbahaya. Pernyataannya ini dapat menimbulkan banyak interpretasi dan kemunduran bila tujuan dari BPIP sebagai lembaga pembinaan ternyata hanya menghasilkan polemik-polemik pro maupun kontra. Ini bisa membuat kampanye pancasila menjadi kontra produktif.
Selain bahwa pernyataan yang membenturkan agama dengan Pancasila ini dianggap kemunduran dalam pemikiran kebangsaan. Padahal dulu Ir. Soekarno telah berusaha keras menggabungkan perbedaan ideologi-ideologi kelompok pergerakan dalam semangat Nasakom (nasionalis-agama-komunis). Dimana semua pihak yang berbeda ideologi tadi diharapkan bersepakat menjadikan Pancasila sebagai pondasi dasar (groundslag) dan kesadaran bersama berbangsa dan bernegara (national-state-consciences). Soekarno gagal, tetapi ide meletakkan Pancasila sebagai dasar negara dan titik temu serta bukan lawan bagi ideologi-ideologi lain adalah usaha besar yang patut dihargai.
Lebih jauh bila keadaan ini tidak segera direstorasi, maka pernyataan Kepala BPIP ini bukan mustahil akan bergerak kepada akumulasi meta-narasi lain yang liar.
Kita ingat kasus slip of tongue Ahok Purnama yang menggigir persoalan keyakinan agama dalam pidatonya di sela kunjungan dinas Gubernur. Ia kemudian berhadapan dengan gelombang tuduhan penistaan agama dari umat islam. Yang kemudian bergerak menjadi gerakan kekecewaan kepada pemerintahan Jokowi. Ahok terjungkal dan segregasi sosial politik menguat meninggalkan luka serta saling curiga di masyarakat.
Bila ini tidak disikapi dengan bijak, maka meta-narasi lain akan bekerja. Misal munculnya asumsi bila Istana telah salah memilih orang atau sebaliknya; Yudian sengaja dipasang oleh Istana untuk menjadi ujung tombak (spearhead) pemerintahan Jokowi melawan kelompok agama. Dalam hal ini umat Islam.
Ini tentu tidak kita dikehendaki, dan untuk itu mesti akan ada brief dari istana untuk mendinginkan bola panas ini. Sifatnya mungkin pemanggilan, teguran, arahan, atau masukan-masukan agar segera mengklarifikasi atau meminta maaf bila ada kesalahfahaman. Melanjutkannya sebagai polemik terbuka hanya akan membuat asumsi-asumsi publik bila pemerintahan hari ini membenci agama -dalam hal ini umat Islam- mendapatkan pembenarannya.
Seturut hal ini tentu ke depan perlu bagi sebuah lembaga atau badan untuk memperbaiki cara mereka berkomunikasi terutama pada topik-topik sensitif seperti Suku Agama Ras dan Golongan.
Sejak lama tuan Snouck Hungronje, pakar sosial keagamaan Hindia Belanda dulu menasehati Gubernur Jendral di Batavia dalam surat-suratnya; Agar kiranya tidak sekali-kali pejabat nagari berurusan dengan persoalan agama.
Do not play with one beliefs, because you play with fire.

0 comments:

Post a Comment