Tuesday, April 14, 2020

Analisis Politik Elit

Sekedar menjawab sembarangan pertanyaan terbuka kawan-kawan Hmi terkait kondisi politik elit hari ini dan ke depan.
1. Pertama bahwa Jokowi sebagai presiden di periode ke dua akan memasuki fase decrease, menukik turun untuk landing.
Ada protokol yang harus dilakukan sebelumnya. Yaitu menginformasikan kepada penumpang, kru, dan menara pengawas.
2. Landing yang seperti apa yang diharapkan? Turbulen,
sedikit guncangan, angin ekor, atau darurat? Tentu ia maunya soft and safety landing. Tidak ada gejolak dan tuntutan setelahnya.
3. Lalu di run way berapa dan pada apron mana ia akan memarkirkan pesawat dan membongkar bagasi-bagasi bawannya itu adalah pertanyaan-pertanyaan politis selanjutnya.
3. Bila pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ia membangun sendiri home-base bandara dan runwaynya yaitu Partai Demokrat. Gus Dur dulu mendarat di PKB dengan gejolak dan Megawati tentu tetap dengan rumah PDIPnya.
4. Jokowi tidak mempunyai home-base partai. Meskipun diklaim sebagai petugas dan kader partai PDIP, tetapi ia bukan orang partai dalam pengertian karir politik. Ia faham, tentu tidak akan ada jabatan yang pantas sebagai former presiden di PDIP sebagai ketua dewan pembina atau dewan pengarahnya.
5. Seperti halnya Anies Baswedan dan SBY, Jokowi maju sebagai diri yang independen non partai. Baru kemudian namanya masuk frekwensi sering dalam percakapan politik dan publik maka barulah partai-partai tadi merapat. Ia sejak awal memang tidak terlalu merasa perlu kepada partai dan relasi dengan partai hanya dalam keadaan mengharuskan adanya pertukaran kepentingan.
6. Artinya, Jokowi dan clubnya mesti sudah berhitung dimana akan mendarat selain di partai dan bagaimana.
7. Bila kita melihat sejarah komposisi kabinet, maka baru di era Jokowi ini mobilisasi kaum pengusaha (konglomerat) ke lini-lini Kementerian, Lembaga dan Badan Negara dilakukan secara besar-besaran.
Ambil contoh terakhir dalam komposisi Kementerian dimana ia merekrut trilyuner online bisnis Nadim, dan makelar muda Eric Thoir dalam komposisi kabinet. Sementara itu old bussinessmen dia rekrut untuk menempati jabatan di Wantimpres. Arifin Panigoro, Tahir, dan banyak pengusaha lainnya dia tempatkan di badan dan unit kerja kepresidenan.
8. Jokowi mempersiapkan bahan bakar besar dalam proses decrease. Ia tidak mengharapkan orang-orang yang dapat menggerakkan kerja dengan mengandalkan APBN. Siapa saja yang menurutnya dapat menggunakan dana sendiri itu adalah kawannya. Mengingat hari ini APBN bukan hanya menyedihkan tetapi beresiko menjadi temuan BPK dan KPK.
Ia tidak berharap ada guncangan sebagaimana terjadi dalam kasus SBY dengan Demokrat.
9. Sebagai konsensi melawan angin kebiasaan ini, ia membuka begitu saja wacana Swasta dapat berbisnis di sektor-sektor public-goods. Bandara, Terminal, Stasiun, air minum, listrik, dan mungkin bulog akan diserahkannya kepada proses privatisasi.
10. Termasuk di dalamnya mendorong terbitnya UU Omnibus Law. Yang bagi kebanyakan aktivis buruh dan tenaga kerja dianggap sebagai cikal bakal undang-undang yang akan pro pemodal daripada pekerja.
11. Jika bukan partai sebagai home-base pendaratannya maka satu-satunya pilihan Jokowi adalah home-base almamaternya. Yaitu UGM.
12. Jokowi pun tidak terlalu peduli dengan prasyarat partai-partai dalam penyusunan kabinet. Santai saja dia memasukkan staf-staf khusus dari grup-grup yang bukan mainstream seperti partai, ormawa seperti Hmi, dan ormas kebanyakan (buruh, HAM). Ia lebih enjoy dengan nama-nama yang tidak terlalu populer di dunia politik elit tetapi populer sebagai influenser.
13. Jika menurutnya ia akan lebih nyaman mendarat sebagai misalnya alumni kehormatan atau ketua majelis wali amanah UGM setelah tidak lagi menjadi presiden maka itu akan ditempuhnya mati-matian.
14. Menara Pengawas di PDIP tentu sudah membaca arah turun ini. Artinya mereka akan memaklumi jika ke depan tidak akan ada relasi Jokowi-PDIP. PDIP pun akan mempersiapkan kandidat lain, barangkali Tito dari Polri atau seseorang dari dalam partainya sendiri.
15. Jokowi tentu akan berhitung bila ia mendarat di UGM maka untuk memastikan bandara home-basenya ini akan tetap ramai ia mesti mendukung pula seseorang dengan latar almamater yang sama.
16. Jokowi tidak mustahil akan memindahkan bagasi dari pesawatnya untuk mendorong pesawat Anies Baswedan.
17. Bisa saja dibangun asumsi bila selama ini Anies bermain seolah-olah dengan dengan kelompok Islam tetapi pada akhirnya sebagai politisi ia sah saja meninggalkannya dan berkomitmen dengan kealmamaterannya.
18. Irisan kealmamateran ini cukup rasional. Ini adalah satu irisan bersama antara Jokowi dan Anies yang paling dimungkinkan. Bagi Jokowi, mendukung Anies sebagai sesama alumnus dan komitmen membesarkan jejaring kampusnya jauh lebih murah dan memungkinkan. Ketimbang ia harus bertaruh di partai, berafiliasi dengan alumni himpunan, atau identitas keagamaan.
"Jadi, sebetulnya saiya mau ngomong saja ke kawan-kawan ini yang adalah alumni Hmi. Berhentilah mengislam-islamkan atau mengh-hmi-hmi kan Anies."
Rasional saja begitu kata saya.

0 comments:

Post a Comment