Tuesday, April 14, 2020

Bekas Mersenaries ISIS Indonesia

"Teroris dan ideologi takfiris itu seperti permainan game komputer. Berapa pun lawan yang berhasil kita bunuh maka akan ada proses generasi untuk menciptakan teroris-teroris baru. "
(Presiden Assad)
Tidak ada cara lain untuk mengetahui bagaimana menangani radikalisme dan mersenaries lokal maupun asing dalam perang anti-teror kecuali belajar dari pengalaman Suriah.
Pengantar
Suriah sejak 2011 akhir diobrak-abrik terorisme internasional namun perlahan tapi pasti, pemerintahan Assad di Damaskus mengembalikan stabilitas dan kemudian mengambil kembali tanah dan kota-kota mereka yang dikuasai milisi asing.
Konflik Suriah bolehlah kita sebut sebagai medan pertempuran terlama dalam perang mengatasi terorisme. .
Yang menarik adalah menelaah apa dan bagaimana kebijakan yang diambil Damaskus di bawah kepemimpinan Presiden Bashar Assad.
01. Mengenali Aktor
Pertama pemerintah Damaskus memisahkan aktor-aktor dan menghitung kadar resistensinya. Di sini diperoleh beberapa aktor utama konflik Suriah;
a. Kepentingan invasi Barat yang ingin mendorong pergantian pemerintahan dalam rangka menguasai sumber alam Suriah.
Mereka adalah pasukan organis dari negara-negara tadi yang masuk dengan melanggar kedaulatan negara dan mengabaikan konvensi perang. AS dan sekutu baratnya adalah negara-negara hipokrit yang akan mengambil berbagai cara untuk tindakan unilateral.
Melawan kelompok super power ini akan menghabiskan sumber daya Suriah. Selain tujuan akhir dari kelompok ini sudah dapat difahami, yaitu akses ke gas dan minya serta distribusinya. Pemerintah Assad menempatkan mereka sebagai kelompok paling tidak prioritas ditangani dalam waktu dekat dan mustahil pula mereka menghadapi perang koalisi kecuali dengan membangun koalisi perlawanan juga.
b. Milisi jihadis yang dikirim negara-negara sekutu Barat di kawasan.
Meliputi kelompok jihadis binaan Saudi dan kelompok yang dibina oleh Qatar. Ideologi mereka adalah purifikasi Islam dengan menempatkan pemeluk islam lainnya sebagai kafir, dan murtad. Secara cita-cita mereka sebenarnya mempunyai garis doktrin berbeda tetapi cara mencapainya sama-sama destruktif dan menyerang secara fisik penganut fahaman dan agama yang berbeda.
Kelompok ini adalah yang paling mudah ditangani karena Damaskus akan mendapatkan dukungan dari masyarakat yang terganggu dengan kehadiran dan tindak tanduk mereka. Mereka dapat dikenali karena perbedaan wajah dan bahasa serta tidak akan jauh kecuali berperang untuk menguasai kota-kota di Suriah. Urban warfare bukanlah keahlian kelompok ini selain mereka tidak memperoleh dukungan penduduk setempat dalam teknik gerliya kota.
c. Milisi jihadis lokal yang didukung Turki dan mereka sebenarnya lebih condong kepada gerakan politik. Mereka dari kelompok terafiliasi dengan Partai Persaudaraan Muslim (Brotherhood) Yaitu membalas dendam kepada partai baath sebagai partai dominan di Suriah.
Kelompok ini adalah yang tersulit kedua untuk diatas, mengingat Suriah dan Turki berbagi perbatasan dan sumber daya air minum (Tigris dan Eufrat bermata air di Turki). Sehingga pertimbangan berbenturan dengan pasukan Turki akan memperlambat rehabilitasi negara.
Hanya saja Assad faham bila lawan alamiah dari kelompok ini sebenarnya adalah kelompok Kurdi yang juga ikut bermain dalam perang ini. Dengan menempatkan Kurdi berhadapan pro Turki maka sedikit banyak Assad menghemat waktu serta tenaga.
d. Yang terakhir adalah milisi lokal. Mereka adalah yang didanai untuk perang atau mereka yang kecewa dengan kebijakan pembangunan Assad. Mereka adalah yang paling penting untuk dirangkul ketimbang dihabisi. Alasannya adalah perang bagaimana pun menghabiskan SDM dan tentara organis Suriah. Assad membutuhkan tenaga baru dalam perang ini.
Awalnya mereka adalah kelompok yang digunakan untuk Memulai Arab Spring di Suriah. Melalui serangkaian aksi demontrasi yang kelak berubah menjadi kerusuhan maka mereka adalah aktor pertama dari konflik di lapangan. Sebelum akhirnya datang tentang Amerika, Jerman, Inggris, Kanada, Turki dan milisi asing ke pentas Suriah.
0.2 Memilih cara penanganan
Apa yang dilakukan kemudian cukup menarik untuk kita kaji.
a. Assad menawarkan rekonsiliasi sejak awal perang kepada milisi jihadi baik lokal maupun asing.
Kepada yang bersedia ia menawarkan para jihadis asing opsi untuk dievakuasi ke wilayah-wilayah yang ditentukan atau pengembalian ke negara-negara asal. Sementara bagi jihadis lokal ia menawarkan pengampunan penuh atau evakuasi ke wilayah yang ditentukan.
Di sini terlihat bahwa ia seminal mungkin mereduksi korban perang dan kemungkinan perpanjangan yang dampaknya akan mendevastating kota-kota. Assad akan membutuhkan lebih banyak hutang untuk membangun kembali kota pasca perang. Ia menghindari jebakan Pareto ini.
b. Assad membangun.... bersambung

0 comments:

Post a Comment