Tuesday, April 14, 2020

Bidara Cina sampai Kebon Pala Jatinegara.

Sampai tengah malam mobil-mobil penyiram dan sweeper jalan bekerja hilir mudik. Wilayah yang saya amati adalah Bidara Cina sampai Kebon Pala Jatinegara.
Mandor dengan motor dinas datang dari arah kampung Melayu. Diparkirnya motor dan dimintanya awak kendaraan bergerak dalam barisan. Ia berkata jika pekerjaan harus tuntas setengah jam lagi menjelang jam tiga pagi. Jalan harus bisa dibuka normal sesuai instruksi. Anak buahnya bergegas masuk dan menggerakkan kembali kendaraannya.
Dekat jembatan Tong Tek menuju SMA 8 yang biasanya daerah ini terdampak paling besar ada saiya bertemu beberapa warga. Mereka membakar kayu dan sampah untuk memanasi diri dan membuat penerangan.
"...jaga-jaga bang takut penjarah sama curanmor."
Ia menunjuk pada wilayah yang masih gelap gulita dan motor-motor yang diparkir.
"Tadi ada tiga motor. Satu motor boncengan orang tiga. Celingukan. Ya kita siap siaga."
"Ada anak-anak FPI juga yang rondain keliling sama bagiin nasi bungkus. Lumayan kebantu kita bang. Dari pagi bersihin rumah badan cape, ngantuk juga."
Ia menawarkan satu keranjang berisi beberapa nasi bungkus. Di dalamnya nasi, bihun, oreg tempe, dan telor bulat balado. Saiya sungkan tetapi terharu. Mereka yang sedang kesulitan masih menawari kita makan seperti tamu saja.
Satu mobil storing PLN melintas jalan lumpur, berkelok menghindari sofa dan bangku-bangku yang masih digunakan sebagai penghalang jalan.
Satu dari tiga pria yang berjaga tadi berteriak pada pengemudi storing listrik. Ia meminta agar lampu jalan segera diperbaiki tetapi sebaiknya listrik rumah jangan dulu.
"Suami istri meninggal tadi malam kena kebakaran di Kampung Pulo bang. Gara-gara listrik korslet."
Seorang pemuda dengan werkpak Dinas Lingkungan Hidup memotret jalan yang gelap. Ia berkata jika tanggul yang dibuat di era Ahok sudah bagus dan mestinya dibuatkan sistem drainase lumpur. Biar lumpur cepat dibuang ke sungai.
"Kalau ini harus tunggu eskavator sama truk sampah Pak. Sekarang kita masih fokus di jalan utama dulu."
Seseorang dari pria berjaga menawarkan kopi saset dalam gelas plastik kepada saiya dan pemuda petugas dinas. Si pemuda awalnya menolak dan berkata sudah ngopi, tetapi ia pun luluh dengan paksaan. Dibawanya kopi panas tadi ke arah kawanannya di seberang jembatan.

0 comments:

Post a Comment