Tuesday, April 14, 2020

elemen penekan untuk dapat mengimplementasikan penjarakkan sosial

Saiya berkeliling kota dan melihat beberapa titik jalan dijaga oleh gabungan satuan pamong praja, satpol PP, kepolisian dan militer. Apa yang dilakukan pemerintah DKI sudah tepat. Mesti ada elemen penekan untuk dapat mengimplementasikan penjarakkan sosial di masyarakat.
Bila kita bandingkan mengapa kota Wuhan dengan jumlah populasi tinggal melebihi Jakarta yaitu 11 juta jiwa dapat melaksanakan 60 hari lockdown secara efektif itu antara lain karena melibatkan aparatus penekan. Selain beberapa faktor menguntungkan:
1. Pemerintah Pusat Beijing segera mengambil alih tanggungjawab Pemkot setelah menaikkan status menjadi -state in emergency-. Alasannya karena ini adalah gejala baru yang tidak ditemukan pada kasus wabah sebelumnya (flu babi, flu hongkong, flu burung). Kemenhan dengan departemen bio-kimia warfare mensimulasikan skenario bio-teror. Merekomendasikan segera negara dalam keadaan darurat.
2. Pemerintah daerah menemukan, kenaikan jumlah pasien berobat secara masif (satu klinik didatangi lebih dari 100 orang dengan gejala influensa) dengan laporan mereka menkonsumsi ikan pada perayaan hari raya tahun Cina. Laporan ini berbeda dengan laporan media AS bila virus berasal dari kelelawar.
3. Pemerintah pusat memerintahkan menutup pasar-pasar di Wuhan. Mencurigai beberapa kandidat hewan tetapi berakhir pada ikan. Ikan tidak memiliki sejarah penyebaran virus flu. Sehingga opsi adanya serangan teror tetap diambil.
4. Kemenhan mengkoordinir beberapa kementerian (kemenhan mempunyai akses previlese ke Komite Sentral). Mengeluarkan beberapa edaran antara lain pembagian masker gratis ke warga, membuka hotline aktif untuk menghubungi setiap warga yang diduga paling besar berhubungan dengan pasien.
Memerintahkan Menaker menggerakkan pekerja dari banyak provinsi lain untuk ke Hubei membantu produksi alat-alat kesehatan, membangun pusat-pusat distribusi makanan, dan infrastruktur terkait.
Memerintahkan kemenkoinfo cina membangun kontens yang dibutuhkan publik dari sosialisasi sampai hiburan bagi warga terisolasi.
Membuat jinggle Cia Yo Wuhan, Cia Yo Cina (Ayo Wuhan, Ayo Cina)
5. Membagi tiga jenis pusat penanganan kesehatan;
Memindahkan penderita berat dari RS dan klinik ke Leishensan Hospital (rumah sakit yang digarap kurang dari 2 minggu setelah lockdown.
Mengisoasi penderita sedang ke rumah sakit darurat yang memanfaatkan ruang pamer dan stadiun Hongsam untuk penderita gejala sedang dalam 24 jam setelah diberlakukannya lockdown.
Membuka ruang-ruang periksa komunitas (semacam puskesmas, dan perkumpulan warga) sebagai tempat pemeriksaan orang dengan gejala ringan.
6. Berbeda dengan DKI yang terbentuk secara organik dari kampung-kampung sampai distrik-distrik maka pembangunan kota Wuhan sudah terbentuk by design. Mereka tinggal di rusun-rusun dan apartemen dengan identifikasi komunitas. Setiap komunitas ini mempunyai akses-akses ekslusif untuk keluar-masuk. Mirip dengan kartu akses apartemen mahal di Jakarta. Pemberlakuan lockdown lebih mudah.
Setelah melihat apa yang dikerjakan Pemda DKI saiya harus mengatakan cukup bangga juga. Sense of community itu ada sedikit muncul. Beberapa warga dengan bantuan ketua RT/RW dan koordinasi Lurah mengadakan ronda menjaga portal-portal jalan. Mereka memang dikenal sebagai akomsi (anak kampung sini) yang sudah turun-temurun tinggal. Mereka mengenali siapa yang masuk dan keluar karena sudah saling mengetahui. Tentu berbeda dengan Wuhan yang menggunakan sistem pengenalan digital.
Saiya tidak faham benar, tetapi kondisi pandemi korona ini sebenarnya sedikit banyak menjelaskan siapa sebenarnya penduduk Jakarta yang benar-benar disebut sebagai pemukim (dweller). Jakarta hari ini mirip dengan kondisi mudik lebaran yang para penghuni (stayer) yaitu kaum pendatang bergerak keluar.
Desain kota itu benar-benar berpengaruh besar bagi penanganan wabah.

0 comments:

Post a Comment