Thursday, April 16, 2020

Fenomena klitih

“Kanjeng Nabi duduk awasi para sahabat tengah berlatih perang. Biasanya, para komandan dengan tatapan sangar dan gestur tubuh arogan berseliweran dengan tangan memegang tongkat. Tapi, Kanjeng Nabi malah lantas ajak Sayyidatina Aisyah berlomba lari! Remaja belasan tahun itu dipicu bersaing dengan alasan siapa yang lebih gendut akan kalah. Merasa tertantang, si gadis berlari sumringah di antara para pria yang letih berlatih.
.
Bahkan saat sedang solat, sebuah momen paling ‘serieus’ dalam Islam versi pro kofar-kafir, Kanjeng Nabi tetap santuy. Hasan dan Husain naik kuda-kudaan ketika sujud lama itu paksa beberapa sahabat sampai angkat kepala pastikan keadaan, barangkali pegel juga lehernya. Demi tak membuat trauma para cucu pada aktifitas solat. Perbuatan ini bisa jadi adalah dalih dan qiyas anak-anak boleh berlarian dalam masjid.
.
Ustad Adi Hidayat kemudian modifikasi boleh berlarian asal di wilayah dan di momen tertentu. Kalaupun bablas ya dibiarkan saja. Jadi, Kanjeng Nabi mem-pause solat tidak hanya seperti saat Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak mau 'nyalip' seorang Yahudi renta yang berjalan bak Sloth. Sekhusyuk apapun solat, tetap ada aspek sosial dan psikologis yang diperhatikan.
.
Momen epik saat Kanjeng Nabi diusir penduduk Thaif, doa mohonkan hidayah bagi keturunan kota itu pun terkabul. Dari tanah itu lahir generasi-generasi muda haus ilmu dan full-hijrah. Persis seperti anak-anak lawan bebuyutan Nabi di Mekah yang pilih berlainan pihak dengan keluarga besar demi masuk Islam. Etika tetap dikedepankan, tidak lantas main gorok seperti ISIS yang halalkan sembelih ayah ketika beda pendapat atau mengiris payudara ibu hanya gara-gara tidak tutupi diri saat sedang menyusui.
.
Cukup 'flashback'-nya, mari agak mikir sebentar. Siapa kita sih di negeri ini? Punya kuasa juga enggak, harta serba pas-pasan di akhir bulan, kadang cinta juga sering berbuah kecewa. Dari keseharian bergelimang derita, maka ke mana kita luapkan amarah? Lantaran tak berani sewot di depan atasan, akhirnya ngumpatin bawahan. Kalaupun mau jaga 'imej' serba santun, pelariannya di medsos.
.
Di dalam rumah juga. Anak susah protes ke orangtua ketika gak cocok selera. Kalau sudah tahu resep ‘minggat’ daripada jawab ‘ah’, atau cukup ‘iya’ tapi gak dilakuin juga sah saja. Tak sedikit minggat ke ‘klitih’ yang sudah ada rekam jejaknya dari jaman Dilan sering dicemberutin Milea. Remaja dan pembuktian diri ditengahi model titipkan anak ke guru-guru jasad dan ruh sedari usia 9 tahun. Ini baru kutahu dalam wedaran Kitab Nashoihul Ibad yang diampu Kak Yai Agung di SurauKami.
.
‘Win-win solution’ sih ya. Orangtua cueki marah ketika anak berontak, si anak terhindar efek durhaka sebab jatah hukuman diberi guru. Ketika bertemu orangtua-anak, yang ada hanyalah rindu. Setidaknya begitu simpulanku melihat kisah-kisah senior penempuh jalur tersebut. Sedangkan aku sendiri alami fase pemberontakan gila-gilaan di saat cinta monyet butakan mata.
.
Fenomena klitih sebenarnya ada di mana-mana. Termasuk di ibukota dengan tren tawuran antar sekolah sedari era Imam Darto, Omesh, dkk, berkostum putih abu-abu. Pengakuan di Podkesmas tentang kenakalan remaja diamini podcast serupa dan dibumbui kisah nyata dari kawan-kawan dan senior. Darah muda memang harus dikekang seperti moge bermesin jumbo harus tahu cara kendalikan gas, rem, serta emosi.
,
Buya Syakur dalam kajian Kitab Fathur Rabbani karangan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berikan beberapa resep. Salahsatunya adalah biasakan anak-anak berkegiatan sedari usia dini. Ini klop dengan metode Montessori yang utamakan kemandirian anak. Ketika paham tanggungjawab, otomatis akan lebih eling dan waspada. Cocok dengan pesan Ronggowarsito. Konsep puasa dalam pengertian paham batasan, dipadupadankan kesadaran otentik yang muncul otomatis.
.
Lebih lanjut, pembiasaan habiskan energi sehari-hari untuk luapkan tenaga bertambah. Anjing tak diajak jalan-jalan pasti akan stres dan cenderung agresif, kan? Dugaanku, remaja punk menjamur itu disebabkan butuh penguras energi seperti Nabi adu balap vs Aisyah. Aktualisasi diri, seperti kata Abraham Maslow melalui teori kebutuhan dasar, bisa berwujud pujian ketika Aisyah menangi lomba.
.
Film The Grizzlies di tahun 2019 kisahkan kejadian nyata di kota bermayoritas Suku Indian. Ketika remaja terbengkalai, disisihkan fitrah psikologis dan fisik, yang terjadi malah kerapuhan. Angka bunuh diri melonjak drastis dan seringkali hanya karena alasan sepele. Itu kisahkan generasi milineal dengan kemajuan teknologi dan tuntutan kekinian yang di luar nalar pola pikir serba instan.
.
Olahraga mampu tekan masalah itu dan lahirkan pioneer-pioneer bersemangat tinggi. Ini buktikan wejangan sang Gerbang Ilmu, 'jangan didik anak seperti didikan orangtuamu'. Mbah Emha Ainun Nadjib mengistilahkan dengan 'anak-anak zaman'. Maka, Nabi biarkan Hasan-Husain bermain di masjid, dengan terus dikawal doa dan dekatkan pada tindakan baik.
.
Di Jepang ada fenomena ‘Hikikomori’ yang jumlahnya makin mengkuatirkan. Tren terbaru dalam 10 tahun ini setelah bunuh diri di Kaki Gunung Fujiyama. Dua tindakan putus asa ini karena tenaga melonjak remaja bukannya diarahkan dengan mimpi, malah dipecut terus dengan ancaman dan hukuman. Untunglah tidak sampai separah bunuh diri yang juga menerpa Korea Selatan, tapi mengisolasi diri secara sadar bertahun-tahun tunjukkan kegagalan masyarakat termaju di dunia itu kelola serah terima tongkat estafet.
.
Yai Rahmat di SurauKami sering sekali ingatkan agar tidak marahi apalagi pukul anak. Cegah anak kabur dan idolakan pelaku ‘semau gue’ juga disarankan Gus Baha di banyak kajian kitab. Jika memang tak bisa lepas anak dengan alasan beragam di usia 9 sampai 15 tahun, setidaknya orangtua harus betul-betul berperan sebagai orangtua bagi rohani atau setidaknya psikologis anak. Semakin ke sini makin menggila tantangannya.
.
Hasilku berseliweran di jagad kaum abg kekinian temukan fenomena edan di luar nalar. Betapa ngeri dunia yang akan dimasuki bahkan sudah diselami remaja. Standar merusak diri seperti ‘hikkimori’, sex bebas ala fwb-an mutualan juga bunuh diri, bisa berakibat lebih mengerikan seperti klitih, tawuran, dan sejenisnya yang seolah dilanggengkan dan dibanggakan senior hingga puluhan tahun kemudian. Dari lingkaran Om Imam Darto, Omesh, cs, itulah sepenuhnya aku paham.
.
Siapa lagi yang akan stres selain orangtua, keluarga terdekat, tetangga, dan orang-orang di sekitar? Di Surabaya, Bonek berhasil gerakkan warga kota untuk jegal fenomena seperti klitih. Gema slogan ‘jaga Surabaya’ disambut reaksi cepat, tepat, dan akurat, terbukti mampu tekan kenakalan remaja di tataran represif. Kukira upaya preventif di wilayah keluarga, senioritas, peer-group, sampai pengajian umum harus di-upgrade agar lebih mengena seperti dalam film ‘The Grizzlies’ itu.
.
Bayangkan ya, aparat anti teror kita tempati posisi pertama sebagai teladan di tingkat dunia. Tak heran uang mengalir deras demi kerjasama pelatihan lintas negara dan lembaga. Kutu di kepala teroris saja bisa ketahuan selama kepentingan politik tidak main mata lho ya. Kok ngejar koruptor, eh, remaja klitih, gak bisa? Budaya kekerasan dalam struktur pendidikan kita memang ada, kan? Apalagi di dunia penuh kedisiplinan. Kuharap bukan itu salahsatu sumber kenakalan remaja gak kelar juga.
.
Kukira, solusi paling ampuh adalah mulai bersihkan hati orangtua dan pihak terkait di sekeliling anak. Sesepele mampu kendalikan emosi, nggibah, buang-buang waktu nongkrong gak jelas juntrungan, sampai hindari iri, dengki, hasud, yang bersumber dari buruk sangka. Ketika teko air bersih dan berisi air bening, maka yang keluar darinya adalah kejernihan. Gelas penerima pun meski ada bekas kerak teh, tetap berisikan air bersih.
.
Siapa sih kita berharap mampu bereskan oranglain jika diri sendiri belum kelar diberesi. Menolong pun butuh persiapan, kan? Agar tak malah repotkan oranglain, yang ditolong juga dapat bantuan. Proses ini sangat panjang dan berlaku seumur hidup, tapi lebih baik terlambat daripada mbolos, kan? Asal terus berusaha, berkumpul dengan yang sudah lewati tahapan itu, masalah bisa selesai juga pada akhirnya. Kita selaku yang lebih tua butuh bimbingan dari yang lebih bijak dan senior juga secara usia. Mentoring juga ada di soal beginian.
.
Prinsip hanya Gusti Allah-lah Maha Pembolak-balik Hati harus dipegang terus. Ibaratnya kenakalan remaja adalah anjing yang kejar kita, tinggal mengadu pada yang punya si anjing. Siapa lagi penguasa takdir selain Tuhan? Cuma, kita tetap butuh usaha ambil kayu untuk bela diri, cari rute lari, sampai panjat pohon agar tak dikoyak si anjing.
.
Ini lebih mendesak daripada ribut feminisme, LGBT, narkoba, eks-ISIS, apalagi soal Formula-E yang gak berwawasan lingkungan sedikitpun itu. Mau berbusa-busa di isu itu, kalau di jalan sudah dipepet remaja, ambyar sudah semua teori. Ada skala prioritas, jika memang negara dan aparaturnya tak mampu atau bahkan sekadar mau pun enggan, warga sipil harus ambil kendali. Seperti kata Yai Anwar Zahid, ‘aku lebih takut ketemu remaja ngamuk daripada preman di usia tua. Sebab remaja belum sempurna menalar, orangtua pasti punya pertimbangan’.
.
Jadi, mari lihat sekeliling kita. Turun dari menara gading perdebatan menahun. Angkat lengan baju, cingkrangkan celana, dan bergotongroyonglah selesaikan masalah ini. Bagaimanapun, anak-anak muda ini adalah penerus negeri. Ketika mereka dilabeli tersesat, mari bahu membahu temani mereka menuju jalan benar. Jika memang pelaku klitih itu adalah kriminal menyaru anak remaja dan gengnya, kukira dari geng remaja harus turut bantu bersihkan citra.
.
Sungguh, percuma kita diskusi apa saja jika tidak ada yang implementasi. Bergeraklah, bergembiralah, dan berakrab-akrablah dengan realita di sekitar kita!” Ujar Kang Sabar di depan beberapa sosok paruh baya berwajah selow dan sibuk bermain hape.

0 comments:

Post a Comment