Wednesday, April 15, 2020

Gak Rapuh, Anti Angkuh

Gak Rapuh, Anti Angkuh
.
Oleh Kapimoda
.
Alasan di balik second-account, alter, atau anonim adalah kebebasan mbacot. Tanpa kuatir kena resiko dighibahin, citra diri terjaga, dan sejenisnya. Intinya ketakutan pada diri yang terimbas begitu terasa dengan konten yang 180 derajat berbeda. Satunya alim sekali, bijak berjilbab, eh, di akun kedua begitu binal dan hobi dugem. Gak salah sih, Cuma darimana sih sumbernya?
.
Patut dicurigai perilaku semacam itu apa yang disebut Sigmund Freud sebagai pelampiasan ego, supergo, dan id. Lo bisa gogling sendiri lah penjabarannya. Sekali-kali mikir kan gak masalah. Hahaha.... Ketika lo ngrasa pengetahuan dan pengalaman oranglain tentang lo gak seperti diri lo yang sebenarnya. Lo berhati pink tapi tunjukin tampang punk biar gak dicap lemah.
.
Berarti kan lo belum siap dinilai oranglain, bahkan jadi sumber ghibah apalagi fitnah. Santai, gak masalah. Kalau memang sadar kekuatan mental, bagus. Cuma klo kelamaan di zona nyaman beranonim itu, ati-ati, ntar malah bisa jadi jatuhnya ke munafik alias bermuka dua. Di tiap film atau game kan selalu ada karakter yang begituan, kan? Di depan bilang A di belakang bilang B. Si Brutus aja bunuh Julius Caesar pake itu, Judas ke Isa juga serupa.
.
Lo gak mau kan seumur idup lo dilabeli sebagai pengkhianat atau bermuka dua? Pepatah yang sebut sepinter-pinter tupai melompat bakal kepleset juga, atau bau bangkai pasti tercium tuh perlu jadi peringatan. Bahwa pada momennya, semua akan terkuak. Pastiin bahwa di momen itu muncul, lo udah jadi orang yang tangguh, dilukai gak rapuh. Ketika dipuji pun gak bakal angkuh.
.
Ketika momen itu datang, lo harus siap ngelepas semua topeng hipokrit yang dipakai selama ini. Jadi momen di akun kedua atau anonim dipakai untuk belajar menahan atau bereaksi sesuai karakter lo yang sebenarnya. Harus ada kesadaran buat ngelepas semua zona nyaman itu dan munculin di kehidupan sehari-hari. Bisa jadi di psikologis itu disebut fase unjuk diri, setelah momen “denial” ketika lo stres, dan “accepting” lewat penerimaan di akun kedua.
 

0 comments:

Post a Comment