Tuesday, April 14, 2020

Gap kompetensi Anak Muda

Sebagai orang dari generasi aktif 90an saiya merasakan jika gap kompetensi dengan generasi masa kini (00-10) semakin tipis saja. Sebagian bahkan melampaui dan ini adalah tanda-tanda yang di tengah mesti pindah ke samping.
Ya, nyonya Irma berkata jika mereka yang merasa senior kini tanpa kuasa harus bergeser ke samping sebagai pier pendamping. Era hari ini adalah era yang muda dan tua saling belajar.
Di acara Rakernas Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) di Surabaya saiya bertemu mereka, junior-junior mahasiswa dengan kompetensi luar biasa tadi.
Ketika tuan Togi bertanya tentang ketua pelaksana sekaligus sekertaris umum acara maka ada disebut nama Sahat Sinurat. Saiya belum klik sampai satu WA panitia membalas.
"Saya Sahat bang, Geodesi 06."
Baru faham jika ia junior mahasiswa di Bandung. Ia menemui saiya di restoran hotel. Sahar datang tidak lama kemudian.
Bersamanya ada si Michael pengusaha milenial sektor infrastruktur listrik dan beberapa lagi anak muda hebat. Michael masih muda sekali, tetapi pandai dan terbuka dalam diskusi.
Saiya bertanya pada pemuda tadi sambil tertawa bagaimana mereka membangkitkan lagi GAMKI yang sudah mati tersalib GMKI. Kawan-kawannya ikut tertawa dan mereka menjawab dengan riang pula. Sahat kata mereka pemimpin, organisatoris dan manajerial yang luar biasa.
"...dia ubah cara pandang anak-anak GAMKI yang inward looking keluar."
Salah satu berkata dan dilanjutkan yang lain.
"Ya," kata saiya.
Sambil mengingat ada rencana hadir mendampingi acara yang mirip yang diadakan GMKI di Salatiga.
"...sekarang kami berani bilang meski belum seratus persen. Kami sudah naik tingkat selevel kawan-kawan di GMNI dalam berorganisasi. Meski masih di bawah HMI sih ha ha ha."
Mereka bercerita tentang kegiatan-kegiatan GAMKI yang populer, charitas, pelayanan sosial, dan diskusi-diskusi antar elemen untuk mendorong energi positif. Saya suka mendengarnya dan mereka pun sepertinya terbuka untuk tiap masukan.
Saiya ingat dulu zaman kuliah di tempat mereka di Taman Sari Bandung ada berdus dus buku-buku kiri, tengah dan kanan yang bermutu. Dengan tema ketuhanan, kemanusian, politik, manajemen dan kebudayaan
"Abang mesti kenal yang satu ini. Kader PMII milenial".
Tuan Togi sejak pagi membicarakannya. Sahat datang bersamanya dari arah lobby. Amin Ma'ruf, dalam jaket merah mendekat dan tersenyum lebar. Ia yang kini berkantor di Setneg sebagai Staf Khusus Presiden datang bersama Aufa. Gerakan santri milenial mereka cukup berkontribusi dalam pemenangan pilpres lalu. Ia mendapatkan posisi yang dulu perlu diraih dengan intrik orang besar.
Saiya benar-benar merasa gap yang tipis tadi semakin lebar. Anak-anak muda ini dengan naluri mudanya dapat membaca arah politik dan kebudayaan baru yang tumbuh dimasa mereka. Aksesibilitas, kanal, jejaring kepada kekuasaan mereka dekati dengan cara yang 180 derajat berbeda dengan cara-cara konvensional.
Tuan Sahat meminta satu sesi foto wefie bersama di depan lift lobby hotel.
Saiya semakin yakin bahwa ini saatnya yang tua mundur ke belakang. Biarkan anak anak muda maju ke depan menunjukkan dada mereka.
Ya, selain cara foto ini cukup efektif menyembunyikan kelebihan kita

0 comments:

Post a Comment