Thursday, April 16, 2020

generasi Z

Atta Halilintar pilih putar haluan dari jalan si ayah. Dari pengusaha jadi Youtuber. Raditya Dika ambil jalan penulis meski berkeluarga besar akademisi, dan ia pun kuliah ekonomi di Australia. Sayyidina Ali bin Abi Thalib sarankan untuk didik anak sesuai zaman. Mbah Emha Ainun Nadjib sering katakan untuk temani anak-anak zaman. Tiap masa punya kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan berbeda. Tak bisa dipukul rata begitu saja.
.
Era mbah-mbah dulu sebelum Orde Baru, terkenal dengan gemblengan spiritual hingga tahap jadi orang bermanfaat atau merusak. Ada tokoh-tokoh nasional baik maupun jahat. Masing-masing selalu miliki guru yang asah murid sampai tahap selesai. Ditemani, dibimbing, baik lewat ke-Jawa-an/kejawen, ataupun ala pesantren. Buktinya, sedahsyat apapun pencapaian duniawi, begitu ketemu guru akan tundukkan raga serendahnya.
.
Generasi ‘baby-boomer’ ada di puncak karier sebab andalkan perasaan (seniman), pikiran (ilmuan), dan tindakan (teknisi). Tak heran kita lihat senior-senior kita yang jelang pensiun begitu tekun dan serius jalani profesi. Tak keliru ketika slogan kerja keras dan cerdas demi sukses digadang-gadang dan didoktrinkan ke anak-anaknya. Itu hasil dari proses berjuang yang didapuk sebagai jerih payah sendiri.
.
Anak dari ‘baby-boomer’ adalah generasi Z. Mereka ditempa kebiasaan lebih nyaman dari generasi sebelumnya. Nostalgia ala anak 90-an lewat berbagai celah munculkan hobi serupa berdampak terjaringnya yang sefrekuensi. Slogan ‘live with passion’ didengungkan. Tak heran karir maju pun sebab berasal dari kebiasaan sedari bangku sekolah. Multi-peran bisa dilakukan seorang dokter sekaligus penulis, pemateri di media massa, dan dengan rasa suka dan ringan.
.
Jika generasi sebelumnya berjuang dari nol, generasi ini sadar bahwa ia bisa multi-talent sebab keluasaan waktu dan tenaga tidak perlu pikirkan soal kebutuhan dasar hidup dan belajar. Semua sudah difasilitasi. Efeknya, kini ada fenomena 'generasi sandwich' sebagai kesadaran balas jasa merawat orangtua sekaligus anak yang tengah sekolah.
.
Milineal kukira ada di tahap karakter. Betapa label rebahan, santuy, dan sederet bernada negatif lain disematkan. Fenomena itu lahir juga dari berbagai kemudahan dapatkan kebutuhan tersier, lapisan di luar sunnah dan mubah. Ditopang teknologi, mereka adalah karakter ultra-moderen dengan berbagai hal yang otomatis mengikuti. Tak heran di usia kanak-kanak sudah banyak puncaki dunia hanya karena karakter bawaan-nya.
.
Nasib bisa diubah dengan tahapan spiritual, perasaan, pikiran, tindakan, kebiasaan, dan karakter. Masing-masing bisa jadi representasi generasi, bisa juga sebagai jenjang di tiap individu. Dalam konteks keturunan, maka ia seperti tongkat estafet dari kakek ke orangtua kita, lantas ke tangan kita, dan kelak diberikan ke anak dan cucu kita. Menyatu dalam ikatan rantai amal jariyah secara bangsa atau turun-temurun.
.
Maka, mulai sekarang lebih berhati-hati dalam melihat hidup. Jangan pernah merasa bahwa pencapaian saat ini adalah murni dari laku kita. Siapa tahu kakek dan ayah turun serta dalam babat alas demi kesuksesan anak-cucu. Kita pun harus miliki kesadaran serupa agar tidak sewenang-wenang dalam berfoya-foya. Harapannya, keterikatan pada sejarah dan masa depan itu jadi anak panah yang melesat tepat di titik sasaran. Jadi keturunan bermanfaat berkelanjutan bagi lingkaran yang terus meluas.

0 comments:

Post a Comment