Wednesday, April 15, 2020

Giliran berkuasa malah lebih sadis dari sebelumnya

"Wuo, asu! Negara mancla-mencle! Waktu gak berkuasa sok membela warga, melawan apapun keputusan penguasa. Giliran berkuasa malah lebih sadis dari sebelumnya. Tai kucing!" Umpat seorang gadis anak nelayan di Warung Tegal.
"Hush, nanti sampean bisa disate sama para pembela ikon negara baru ini lho, Yu! Hati-hati, sekarang pemerintahannya orang suci semua, punya umat banyak, loyal pula!" Tegur Kang Kuat, meletakkan telunjuknya pada bibir lawan bicaranya.
"Asu! Lagi misuh kok malah sampean modusi! Asal gak ada intel nguntitin, atau disebarluaskan di dunia maya, pasti aman. Yang penting tetap beradab. Toh ini dilindungi undang-undang. Hak berwarganegara lho! Ngomong sak penake asal tetap dipikir dulu isi omongannya." Bela si gadis dengan mulut manyun, menepis kegenitan Kang Kuat.
"Okelah, lanjutkan saja terapi misuhnya, Yu. Kusiapkan telingaku mendengar keluh kesahmu. Mari sini, tumpahkan kegundahanmu kepadaku." Rayu Kang Kuat, menyodorkan segelas es teh pada sosok hitam manis di depannya.
"Negara macam apa yang tak ingin menyejahterakan warganya? Kapitalis! Negara macam apa yang memusuhi kapitalis? Sosialis! Negara kita dengan pemerintahan nan suci itu di mana? Di selangkangannya! Kapitalis sejatinya, sosialis pura-puranya! Asu! Mencla-mencle kayak ingus! Tai!" Dengus si gadis ayu berparas pribumi itu.
"Oh manisku, rona wajahmu begitu elok melukiskan cintamu pada negerimu. Mari sini, tak usahlah kau pedulikan nabi-nabi beragamakan dolar itu. Sini-sini, rengkuhlah pelukanku." Tukas Kang Kuat terpesona pada kharisma sang bunga desa.
"Pulang dari menjilat pantat para majikan, demi dipuji-puja, dituruti apapun titahnya. Termasuk menyengsarakan saudara-saudaranya sendiri. Yang demi seliter bensin rela tak makan, yang demi makan harus antri seliter bensin berjam-jam. Maka, keasuan mana lagi yang ingin sampean ingkari? Sudah begitu, para nabi itu menyamakan mereka yang bisa makan kalau punya bensin, para tukang ojek, pedagang kecil, atau nelayan, dengan begundal pengepul bensin. Kurang khusyuk bagaimana keasuan mereka itu? Asu seasu-asunya adalah ia yang menjilat ludahnya sendiri! Tengik!" Si gadis berbibir tipis makin meradang, menjumpai si pewawancara ternyata malah menggodanya.
"Lho, mana berani mereka menolak kehendak para tuan, sayang. Apalagi yang jelas-jelas perintah langsung demikian. Bisa digulingkan dan diganti dengan yang lebih penurut, cinta. Lagian, hanya orang bodoh yang menolak keselamatannya sendiri. Negara adalah lingkaran setan atau malaikat, terus menerus, tak bisa keluar kecuali mati. Beruntung kalau lingkarannya malaikat, masuk surga. Lha kalau lingkaran setan? Keluar darinya berarti membawa nama juga martabak, eh martabat, yang dibusukkan. Malah ada yang ditembak kepalanya saat menaiki sedan mulusnya, kan? Ups, yang terakhir cuma bercanda, lho." Ujar Kang Kuat menenangkan sosok maskulin di hadapannya. Dengan genit, dikerlingkannya mata kanannya.
"Kampret! Harusnya mereka malu! Asu saja tak berani masuk rumah tanpa seijin tuannya. Belum lagi kebijakan serba cepat itu. Iya sih rakyatnya penginnya yang serba instan, tapi takutnya justru bikin cacat. Berapa ratus proyek bernilai trilyunan rupiah itu mangkrak karena tak jelas perhitungannya? Karena saking inginnya balik modal kepada makelar-makelar kuasanya? Grasa-grusu ngejar apa? Setoran penghargaan berharga ratusan juta itu? Asu! Sudah berapa banyak wong kere mati kelaparan setahun belakangan ini? Asu!" Ucap sosok berambut sepunggung diikat ekor kuda itu.
"Sudahlah, manis. Mari kita tutup terapi ini dengan ucapan syukur. Setidaknya, ya meski dengan perih sekali mengucapkannya, kita masih punya ketenangan dari peperangan. Kita masih bisa makan meski sawah sering kekeringan, meski benih susah didapatkan, meski solar untuk melaut melonjak ngeri, dan sejuta meski lainnya. Selalu saja ada yang bisa disyukuri, kan? Setidaknya, ya hanya bisa berujar begini untuk menghibur diri, kita masih bisa berlapang dada menghadapi negara yang semakin tak peduli rakyatnya. Sedihnya, kita belum pernah punya negara yang peduli tanggungjawabnya. Kita, rakyat, masih sekarat, sejak merdeka mungkin kelak hingga kiamat." Hibur Kang Kuat, sembari menepuk pundak gebetannya itu.
"Iya sih, Kang. Misuh hanya bertahan sementara, harus ada tindak nyatanya. Kalau sekadar misuh tapi tetap berpangku tangan, ya seperti punguk merindukan bulan. Ya, setidaknya lebih baik misuh marah-marah sembari berkaca diri, daripada menangis sesenggukan berputus asa pada hidup. Iya to, Su?" Desah si pemilik tubuh feminin maskulin kekar khas anak pantai itu. Digenggamnya tangan si pemuda di hadapannya, lantas ditimpakannya gelas es teh dengan penuh gemas. "Itu hukumanmu karena seenakmu sendiri memegangku. Aku punya harga diri, Asu!" Tegasnya.

0 comments:

Post a Comment