Tuesday, April 14, 2020

IMF shift dalam Krisis Korona

Nah ini yang akhirnya yang akan dikeluarkan IMF: 1 Trilyun US Dollar untuk bail-out krisis kesehatan ke negara-negara yang akan tersungkur ke dalam krisis setelah serangan Corona.
Natur ini tentu menjadi sesuatu yang baru bagi kebanyakan pengamat kerjasama internasional, tetapi tidak bagi saiya.
Yang disebut dengan creative destruction of capitalism (penghancuran creative dalam sistem kapitalis) itu akan menggunakan apa saja cara untuk menjebol halangan bagi mengalirnya dana-dana hutang internasional. Bila tidak dengan isu demokratisasi yang berakhir dengan coup de etat atau pergantian pemerintahan maka dengan embargo, trade-barriers dan man-made crisis.
Sebelumnya tentu kita lebih mengenal IMF sebagai institusi pemberi pinjaman spesialis krisis moneter-finansial, tetapi kini mereka akan memainkan secara terbuka bantuan bagi krisis kesehatan.
0.1
Bila ingin bicara secara teori ke belakang, maka bunga rampai dari semua kerjasama internasional adalah bagaimana pihak yang berduit akan menggunakan seluruh daya upayanya untuk mengambil alih sebesar mungkin dari pihak yang dipinjaminya.
Hanya saja ini tidak mudah dilakukan. Pertama, ada argumen kebutuhan yang mengharuskan orang untuk benar-benar tunduk pada statuta. Artinya betul-betul terjadi krisis tanpa opsi. Menciptakan krisis ini tidak mudah dan murah, sama sulitnya dengan menyelesaikannya. Tetapi prinsip utama statuta ini adalah; how to create problems to sell the solutions.
Pada krisis seperti Arab Spring di Libya, Yaman, Suriah, lalu Latin Venezuela, Colombia dan Bolivia, tidak ada pemerintahan yang bertahan yang dapat meneken pakta kerjasama.
Kedua ada banyak donor-donor mandiri yang bekerja secara independen di luar organisasi semacam IMF. Cina, Singapura, Korea, Rusia, Brazil adalah beberapa nama yang dipercaya. Mereka tidak seperti lembaga-lembaga keuangan tadi, bekerja dengan prinsip yang lebih fleksibel tanpa banyak persyaratan (conditional).
Cina sejak era Cho Enlai sudah memperkenalkan 8 prinsip kerjasama internasional (Enlai Anthologi), di antaranya menerapkan prinsip setara dan cuan untuk semua dan tidak mencampuri urusan domestik. Sederhananya Cina hanya ingin mengajak mitra kreditor sebagai mitra dagang saja. Hari ini Cina adalah donor raksasa dengan ratusan ribu proyek di seluruh dunia.
Ketiga, front-front yang mendapatkan bantuan tidak dapat diikat dengan banyak persyaratan. Selalu akan ada celah untuk bentuk-bentuk kerjasama lain dari negara penerima. Pada kasus krisis moneter (1998) di China, India, Malaysia, talangan dana bantuan tadi diteruskan dalam bentuk utang baru bagi negara penerima ketiga.
Konsep yang awalnya dianggap brengsek oleh IMF tetapi belakangan dianggap efektif dan melahirkan jenis perjanjian pihak ketiga. Yang kita sekarang mengenalnya dengan Model Triangular Cooperation.
0.2
Bila kini IMF mulai bergerak secara transparan untuk masuk melalui krisis kesehatan global (WHO: Global Pandemic Cov-19) itu tentu bukan tanpa alasan. Persoalan Korona mau tidak mau selalu akan diamati dari perspektif marxian; ekonomi dan politik.
Misalnya Cina adalah negara yang pertama kali membuat drama Korona ini mendunia. Kemampuan mereka melakukan skenario lock-down dan membangun rumah sakit dalam waktu singkat adalah sebuah pertunjukan kemampuan yang menakjubkan. Sebagai konsekeunsinya membuat hampir seluruh bandara menyiagakan diri -termasuk melengkapi dengan peralatan pendeteksi panas, tes kit, dan kamera-kamera pengawas. Cina adalah produsen terbesar dari barang-barang ini.
Selanjutnya Korona di Iran. Dimana Iran adalah negara yang paling awal meminta IMF untuk membail-out terutama dipenyediaan obat dan alat-alat kesehatan. Mereka mengatakan bahwa lambatnya penanganan Korona karena embargo alat-alat dan obat-obatan oleh AS.
Hanya saja yang perlu diamati adalah apakah ini benar-benar sebuah permintaan atau bagian dari strategi politik-ekonomi Iran untuk mengambayarkan embargo dagang AS di negara mereka. Bila atas nama kemanusiaan dana talangan kesehatan ini diturunkan, maka secara fakta Iran akan menembus trade barriers lain yang disanksikan kepada negeri mereka.
Sementara Serbia dan Italia yang mulai terdampak krisis Korona merasa tidak akan memperolehnya. Alasannya adalah pertimbangan psikologis jika mereka adalah bagian dari Eropa. Ini dapat menimbulkan turunnya kepercayaan kepada OECD sebagai donor. Kasus krisis Yunani dan Irlandia adalah contoh bagaimana hipokritnya EU untuk membantu sesama kerabat eropanya. Belakangan Presiden dan Perdana Menteri kedua negara mulai mempertanyakan secara ekonomi dan politik: apa untungnya kami tetap bekerjasama dalam kerangka kerjasama eropa.
0.3
Yang menjadi pertanyaan kita adalah, apakah Indonesia akan mengajukan dana bala bantuan IMF ini? Selain dana ini akan menjadi dana pakai habis karena dipergunakan bagi krisis kesehatan tentu akan ada proyek pengadaan barang dan jasa lainnya. Berbeda dengan dana pinjaman infrastruktur yang berbunga dan barangnya tetap ada, dana seperti ini agak gimana gitu ngelacaknya.
Lagi pula mumpung ada yang mau meminjamkan hutang dan pilkada serentak sudah dekat masalah kesehatan pada akhirnya akan ditarik juga ke persoalan politik-ekonomi. Soal pembayaran biar anak cucu saja yang mikirin.
Demikian ditulis Tuan Andi Hakim peneliti di desk bi-multi cooperation OECD yang belum terkenal.

0 comments:

Post a Comment