Tuesday, April 14, 2020

Iran menyerang pangkalan militer AS di Irak

Beberapa waktu lalu Iran menyerang pangkalan militer AS di Irak sebagai balasan atas terbunuhnya Field-Marshal Kasim Sulaiman.
KSAU Iran menyebutkan jika serangan 13 rudal Iran tidak diarahkan untuk menyerang personel tetapi mesin perang. Meski demikian ia menyebut jumlah korban yang tidak dapat dihindari yaitu 80 tewas dan 200 an lainnya cidera. KSAU juga menyebutkan bagaimana mereka dipindahkan dan di rumah sakit mana saja.
Untuk serangan terinci seperti itu maka Iran mesti memiliki kompleks pertahanan negara yang integral.
0.1
Pertama mereka mempunyai sistem aktif yang memindai kawasan. Artinya sangat dimungkinkan bila operasi AS sudah terpantau sebelum kejadian, tetapi Iran tidak mengira jika akan ada operasi pembunuhan atas Kasim.
Kedua, sistem aktif tersebut bersifat identikal. Artinya seri pesawat, operator dan lokasi dimana pesawat atau drone yang terlibat dalam pembunuhan Kasim diketahui Iran.
Ketiga dalam eksekusi balasan, tidak satu pun alat pertahanan udara AS di pangkalan yang bekerja.
Ada dua argumen untuk ini. Yang pertama, AS sengaja membiarkan Iran membalas pembunuhan Kasim dengan proporsional agar tidak terjadi eskalasi perang. Hanya saja argumen ini tidak mudah diterima, karena Presiden Trump mengatakan tidak ada korban jiwa dan semua dapat diatasi. Selain hal ini hanya akan membuktikan jika sistem pertahanan udara AS yang canggih itu hanyalah omong kosong saja.
Yang kedua, Iran melaksanakan perang digital untuk merusak sistem kendali dan pertahanan udara AS. Mereka pernah melakukannya pada drone-drone dan kapal patroli perang AS di Teluk Parsi. Nulifikasi (kelumpuhan) ini dikerjakan dengan meretas sistem informasi pertahanan lawan.
Keempat, serangan ini sudah diantisipasi Iran dengan adanya kemungkinan perang besar. Ini tentu membuktikan jika Iran paling sedikit mempunyai arsenal mandiri yang dapat digunakan untuk perang empat-enam tahun ke depan.
Menyimpulkan poin-poin ini tentu ada gunanya juga bila kita melihat rencana Menhan Prabowo membeli skwadron Sukhoi. Yang menjadi pertanyaan apakah pembelian itu mempunyai watak pengembangan ke depan.
Sejak pengalaman perang Iran-Irak, Iran mengembangkan kemandirian pertahanan. Mereka sadar sekali jika selalu saja ada negara yang mempunyai watak ingin invasi dan tidak rela ada negara lain yang kuat. Artinya kemandirian alutsista tidak dapat dikompromiskan. Yang pertama mereka buat adalah teknologi pemantauan-pemindaian dan kemudian roket.
Sekarang mereka mempunyai sistem pertahanan udara maju dengan rudal berdaya jelajah menengah-jauh dan ketepatan pin-poin. Sementara Sukhoi, barangkali perannya hanya bagus untuk atraksi di HUT TNI.

0 comments:

Post a Comment