Thursday, April 16, 2020

‘jagad ageng’ dan ‘jagad alit’

“Kok tadinya rebutan kursi, sekarang jadi lempar kursi? Terus 2 pemilu antar kubu musuhan sampai bawa SARA, sekarang kok mesra berdampingan? Lha itu Lucinta Luna jualan kopi aja kokk bisa digerebeg polisi? Lalu partai terkenal sebagai 'basecamp' aktifis agama kok usul ganja dijadikan komoditi dagang? Mungkin semua itu wujud bahwa tak ada yang abadi di dunia ini? Semua bisa ditukar, dikompromi, pada titik jenuh atau nadirnya?
Tuhan ciptakan semesta raya disertai hukum alam. Api membakar, air membasahi, tanah menumbuhkan, angin menghantarkan, besi mengokohkan, dan elemen-elemen lain. Bahkan kata Stephen Hawking, tubuh manusia tersusun dari bahan penyusun alam semesta. Tak heran teori evolusi secara acak masih relevan di benak para ilmuwan.
.
Di Jawa, konsep itu diikat dengan istilah ‘jagad ageng’ dan ‘jagad alit’. Semesta sampai langit tingkat 7 miliki tatanan dan aturan main, di dalam jasad manusia juga ada struktur berpola gerak sama. Kalender muncul dalam peradaban manusia kemudian dijadikan pondasi membaca pola kehidupan. Di Cina ada shio, di Jawa lahir primbon yang membedah Kitab Hikam, pertapa Hindu dan Budha munculkan juga, belum lagi para shaman di suku-suku pedalaman.
.
Kalau Kanjeng Nabi memberi panduan melalui ‘Quran berjalan’ lewat teladan baik, di kalangan peneliti khusus pembersihan batin, semua laku itu dibedah lebih rinci. Pola dibaca berdasarkan banyak indikator dan gejala, disesuaikan dengan gerak semesta. Misal, kecenderungan diri mencelakakan oranglain di jam pagi sebab terburu-buru harus diakali dengan berangkat lebih awal dan senandungkan sholawat di sepanjang jalan.
.
Pencarian serupa muncul juga di dunia serba raga ala Barat. Partikel High-Boson atau Partikel Tuhan dilatarbelakangi mencari pemersatu tiap unsur di dalam semesta. Ketika ditemukan se-dzarrah itu adalah gravitasi, glorifikasi ketiadaan Tuhan dikumandangkan. Sama seperti ketika kaum pemuja logika itu menimbang bobot tubuh sebelum dan setelah mati. Selisih sekian gram itu dianggap sebagai ruh yang tinggalkan jasad. Banyak ahli biologi kaji metabolisme tubuh secara akurat. Siklus Sinkardian, dst, adalah upaya cari titik tepat-akurat di tengah kehidupan serba materi.
.
Tuhan berikan perbedaan untuk saling melengkapi. Para ilmuwan Islam abad pertengahan yang dibanggakan sekarang ini di masa hidup terus diburu penguasa atas arahan agamawan. Perselisihan sikapi Quran-Hadis jadi dasar penumpahan darah. Sebaiknya, bagi orang macam kita, meninggalkan perdebatan serupa lebih bijak. Termasuk benturkan Barat dengan Timur, perlambang materi versus spiritual.
.
Sedari kanak-kanak sampai sekian tahun lalu, kukira semua benda tanpa nafas bukan termasuk makhluk Tuhan. Batu, tanah, air, motor, hape, semua tak berarti, ‘meaningless’. Dalil ‘hewan di akherat akan jadi debu’ terngiang di kepalaku. Agak terhenyak dengar tafsir al Misbah di MetroTV, saat Habib Quraish Shihab paparkan bahwa tembok dan jendela sekalipun berzikir pada Tuhan.
.
Di SurauKami, Yai Rahmat, Yai Agung, Yai Azwar, dan Yai Munir sering singgung untuk merawat benda di sekitar. Tempatkan secara tepat agar makin manfaat. Itulah peran kekhalifahan yang didapuk di pundak manusia. Bayangkan, kelihatan sepele tapi malaikat, jin, juga gunung-gunung pun tak sanggup pikul. Rumput di pot cabai akan kurangi produktifitas cabai, maka dipindah ke kandang kambing agar dimakan.
.
Kanjeng Nabi sarankan untuk pindahkan duri dan halangan di jalan. Selain lancarkan kegiatan oranglain, juga tidak buat batu, duri, atau paku sebagai objek umpatan. Paku disalahkan penunggang motor non-tubeless saat menancap. Padahal benda-benda mati itu tak memiliki kehendak dan kemampuan tempatkan diri. Kehadiran benda mati atau hewan, mengutip Om Budi Maryono, adalah semata-mata untuk uji diri si manusia.
.
Dulu, waktu mesin kuda besiku hanya 125 CC, cita-citaku adalah menggeber ribuan CC. Sebab belum mungkin secara logika, maka kucari cara merasakan sensasi itu. Ikuti konvoi moge jarak jauh bukanlah perkara gampang. Puas, produk Jepang bisa imbangi rakitan Jerman, Itali, juga Paman Sam dalam waktu berjam-jam, berjarak tempuh ratusan kilometer. Fokus tepat posisi, aerodinamis, momentum gas-rem, dan memotivasi si bebek jadi andalan.
.
Aku pernah praktek dari teknik tukar guling atau konsep Sumur Jalatunda ala Nashoihul Ibad wedaran Yai Agung SurauKami. Nasib jelek di masa depan ketika tengah lemah diminta untuk dijalani hari ini ketika sedang kuat. Studi kasus terakhirku saat berkeseharian dengan bebek Jepang 125 CC dirasa kurang joss untuk topang kebut-kebutan di jam berangkat kerja. Agenda upgrade ke 250 CC atau 150 CC muncul. Tentu mustahil bawa ribuan CC di kemacetan pagi dan pulang kerja di sore hari.
.
Ketika di jalan si 125 mampu terus tak tersalip para penunggang 150 bahkan 250, entah matic atau tipe Sport, keinginan upgrade mundur teratur. Taktik ganti spare-part untuk jenis ‘sprint’ dipakai. Indikator kebutuhan tercukupi: tidak telat setor jempol dan mampu meliuk gesit, keinginan ganti motor pun luntur. Apalagi sampai isi 2 carport di rumah dengan gerobak besi berpajak tahunan total 10 juta, sudah berat di hati dan belum kebutuhan mendesak. Hadir berkali-kali pun ditolak sebab banyak mudharat daripada manfaat.
.
Kenapa sih akhirnya ‘downgrade’ dari 1200 cc ke 125 cc dan merasa cukup di situasi ini? Bagiku di masa lalu, mesin besar memang sangat nyaman dipakai untuk jarak jauh. Teknologi mutakhir dan gengsi tentu saja dinikmati tiap melesat jauh dari siapapun. Tapi kini, ketika jarak jauh cukup ditempuh nyaman dengan bebek spesifikasi touring, untuk apa pelihara berkapasitas 10 kali lipat? Soal punggung kumat, pantat panas, kaki ngilu dan seabreg sambatan lain, bukannya derita adalah argumen dasar maniak Harley-Davidson sejati?
.
Apakah ini bentuk menyerah pada keadaan? Kukira tidak. Imam Ghazali sebut sebuah benda dinilai sia-sia jika tak dipakai dalam waktu 2 minggu. Kuakui, beberapa barangku memang begitu. Tapi rasa kemelekatan melepas sekadar menjual pun berat. Ini dirasakan Raditya Dika dan gitar kesayangan. Begitu konsultasi ke psikolog dan browsing, ketemulah solusi dari rasa melekat itu. Difoto dan dipajang untuk dapatkan kepuasan setara memiliki.
.
Cara di atas adalah teknik psikologi terkini untuk tukar guling nasib. Istilah kekiniannya mungkin saja move-on. Kenangan dengan suka-duka tentu mustahil dilupakan, tapi mantan tetap masih bisa didoakan kebaikan, kan? Jangan sampai doa sakinah, mawaddah, dan warahmah ditambahi bisikan ‘wal bubrah’ ketika mantan menikah. Yai Rahmat mengistilahkan momentum ini dengan ‘sejarah rasa’. Bagi supir truk di Pantura diejawantahkan dengan ‘lupa nama, ingat rasa’.
.
Bagiku, rasa tunggangi moge sama saja dengan bebek. Entah ditanjakan macet, jalan lurus sepi, atau turunan bertikungan tajam. Pakai di bawah 125cc dalam waktu sebentar, dan matic juga sekilas, jadi tak bisa bandingkan. Ketika miliki benda, sudah bertemu tiap hari, akan muncul perasaan biasa saja. Awal berbunga-bunga, lama-lama bosan juga. Tak kusangka bakal muncul pada benda-benda yang dianggap sebagai pencapaian.
.
Ada kawan secara finansial mampu koleksi Lamborghini. Tapi, mobil tetap Innova jadul, rumah sederhana, tapi perusahaannya terus menghidupi ribuan karyawan. Pemegang saham bahagia dengan deviden rutin dibagi, besaran pun terus bertambah. Keuntungan mengalir tambah modal. Berkalilipat makmurkan karyawan, syukur-syukur makin kurangi pengangguran.
.
Bagi kawanku, Lamborghini bukanlah pencapaian. Pernah punya pun, hanya betah beberapa bulan di garasi. Lantas dijual, dialihkan masuk investasi saham untuk hidupi perusahaan teman lain. Apakah bakhil dan kikir? Tidak juga menurutku. Dalam standar minimal pembersihan hati, ia simpan tidak untuk diri sendiri tapi pastikan pabrik oranglain terus berproduksi lancar.
.
Jual Lamborghini demi investasi saham hidupkan perusahaan itu juga bentuk tukar nasib. Dari foya-foya timbulkan banyak efek negatif, menuju kesederhanaan dengan manfaat meluas. Jalan ini tidak populer di tahun-tahun ketika moge dan mobil mewah jadi cita-cita. Apalagi demi insta-story dan bikin teman seangkatan iri, duh!
.
Nge-kos tapi motor atau mobilnya seharga rumah, adalah salahsatu contoh paling tidak masuk akal bagiku. Di antara kawan-kawan pemotorku, moge didapatkan dari ‘achievement’ usai kebutuhan primer, sekunder, dan dana pensiun sudah aman. Generasi tren ban depan ‘jumping’ atau ‘wheelie’ tinggalkan semua patokan itu dan habiskan gaji untuk nyicil moge, bahkan mobil!
.
Jadi, ini bukan klenik macam pengobatan alternatif di tivi atau channel Yutub. Jin memang bisa pindahkan sakit seperti santet, cinta lewat pelet, untung melalui pesugihan, dan seterusnya, tapi itu bukan yang dikehendaki Tuhan. Menurut Quran yang dilakoni keseharian Kanjeng Nabi, menukar nasib boleh dan bisa lewat takdir yang bisa diubah. Tapi, syarat dan ketentuan berlaku.
.
Awal aku tahu konsep ini, langsung praktek tanpa konfirmasi ke Yai Agung selaku pemberi ilmu soal konsekuensi logis dan aturan mainnya. Himpitanku sebulan ke depan kuminta minggu ini, kebetulan minggu ini pas sedang lemah. Jadilah ambyar. Sudah ‘cut-loss’ 80% di satu emiten andalan gara-gara terlalu berbaik sangka, eh, istri sewot butuh plesir, anak juga kebetulan mriang, dan masuk angin menerpa ragaku. Walah, berat, Nda!
.
Maka, memang betul prinsip para koruptor itu. Semua bisa dinegosiasikan. Bahkan benda yang sehari-hari tak kita pedulikan.” Ujar Kang Syukur di WarungKami.

0 comments:

Post a Comment