Tuesday, April 14, 2020

Kebijakan Publik di Krisis Korona

Baiklah, ini hal serius yang kami perbincangkan dengan beberapa kolega penggiat manajemen dan kebijakan publik terkait merebaknya krisis Korona di Wuhan Cina.
Pertama
Kebijakan Lockdown (isolasi) satu wilayah dengan jumlah penduduk lebih dari 11 juta dan beberapa kawasan terkait dengan total penduduk 40 juta jiwa menunjukkan bentuk kebijakan publik khas Cina yang terpusat (centralized/otoritarian).
Meskipun terlihat pemerintahan pusat mengakselerasi proses otonomi (desentralisasi) kepada pemerintah local untuk mendorong pertumbuhan setara antar provinsi, dalam kasus merebaknya krisis manajemen penanganan virus Korona maka pemerintah pusat kembali menjadi dominan.
Ini terlihat dari bagaimana pemerintah mengontrol pemberitaan, dan mengambil alih penanganan krisis dari pemerintah local dengan membangun RS karantina penderita Korona berkapasitas 1000 orang dalam waktu singkat dan mengisolasi 40 juta jiwa dalam kawasan yang masif.
Hal ini tentu menjadi dilemma bagi kemandirian daerah, tetapi pada saat ini dianggap yang paling tepat oleh pemerintah pusat. Wajar bila sebagian ada yang berprasangka jika Korona muncul dari kebocoran sampel di lab biologi Wuhan. Virus ini konon tidak berasal dari hewan tetapi laboratorium perang biologi Cina. Ini sebab pemerintah pusat mengambil alih.
Kedua
Pemerintah Cina mengetahui jika sebelum kebijakan isolasi ada lebih dari 5 juta orang keluar dari Wuhan dengan berbagai moda transportasi. Mereka melacak dan menandai pergerakannya.
Ini tidak terlalu menyenangkan bagi masyarakat dan pemerintah local yang mendorong terjadinya human-good flow untuk menggerakkan sector-sector ekonomi. Tetapi seperti kebanyakan warga Cina, sejauh mereka tidak berurusan lebih jauh dengan pemerintah pusat maka mereka menerimanya.
Ketiga
Pemerintah Cina sepertinya akan memanfaatkan penggunaan IA secara intensif dalam kasus ini. Beberapa yang telah dilakukan selain melacak keberadaan 5 juta warga yang keluar sebelum terjadinya lockdown kota Wuhan, mereka mengembangkan sistem pendeteksi panas yang akan diaplikasikan di seluruh sistem CCTV dan pemindai di berbagai bangunan dan fasilitas publik.
Sistem ini akan dikembangkan kepada pengenalan demam yang lebih spesifik mengarah kepada penyakit yang akan dideteksi.
Keempat
Cina memanfaatkan kejadian ini untuk mengembangkan teknologi anti-virus bagi keperluan mereka. Sebagai negara epidemi setelah kasus flu babi satu decade silam, Cina benar-benar melindungi hak kekayaan intelektual dan hak kepemilikan dari sampel virus. Artinya mereka akan dominan dalam pengembangan kesehatan dan anti virus.
Kelima
Kembali kepada persoalan Artificial Intelligence, pemerintah Cina akan menerapkan sistem informasi dalam peredaran perdagangan hewan liar yang dikonsumsi masyarakatnya.
Konten informasi yang dapat diimbuhkan ke dalam sistem ini meliputi; informasi asal hewan liar, informasi peternak, pemburu, pedagang, pasar dan pembeli. Termasuk di dalamnya informasi kesehatan standar, mutu baku, dan kemungkinan terjadinya permasalahan kesehatan seperti pada kasus Korona ini. Singkatnya mereka mencoba mencari cara bagaimana proses pengisolasian menjadi lebih efektif dan sekaligus membangun mekanisme preventif terjadinya kasus serupa.
Noted tambahan saja
Sebetulnya pada 2012, saiya pernah melihat saya system yang seperti ini untuk melacak tingkat kehalalan satu produk daging di Jerman. Si daging dapat dipastikan asal, waktu pemotongan dan bahkan di peternakan pun mereka tidak terkontaminasi dengan unsur dari hewan non halal.

0 comments:

Post a Comment