Wednesday, April 15, 2020

Ketakukan hanyalah produk dari pikiran

"Ketakukan hanyalah produk dari pikiran. Dari sanalah muncul mental tangguh. Hati-hati, bisa kepleset jadi angkuh. Maka, pikiran harus dikawal perasaan. Setidaknya supaya simpati dan empati bisa imbangi hasil kerja pikiran.
.
Ketiga kombinasi tadi belum cukup juga untuk jadi paripurna. Butuh penguatan di luar logika manusia lewat penempaan spiritual. Eits, jangan ngaku beriman klo gak yakin sama wilayah satu ini. Bangku sekolah serba empiris sering sinisi zona ini.
.
Padahal di keseharian justru inilah cara termudah tarik simpulan atas fenomena. Penempaannya pun gak sembarangan, harus lewat guru yang ditemui secara rutin. Ati-ati juga tergoda yang bermetode dukun. Syarat dan ketentuan guru ini berlaku untuk pilih guru. Akhirnya, dengan sukarela seseorang berani maju ke depan hadapi ketakutan.
.
Bukan lagi sebab dipojokkan situasi dan kondisi. Bahkan ia rela jadi tameng bagi yang jadi tanggungjawabnya. Klo dalam MLBB, ia rela jadi tank yang di depan medan laga terus. Meski disepelekan karena sering mati juga. Hahahaha...."

0 comments:

Post a Comment