Wednesday, April 15, 2020

Khilafah belum selesai juga, Bro?

“Khilafah belum selesai juga, Bro? Hayo, kenapa bisa sampai bisa jebol? Padahal katanya ormas itu sudah masuk daftar merah lho. Klo PKI aja udah digulung dan begitu isu merebak terus dirontokin lagi, kok ini enggak? Apa sengaja dibiarkan sebab gak mungkin lah mata dan telinga di lapangan gak tahu dari awal rapat koordinasi digelar?
.
Apalagi momentumnya pas setelah kemarin ada drama usir mengusir dua ormas terbesar di negeri ini. Diperparah lagi yang seharusnya jadi citra negara malah lupa ideologi negara, duh! Ya soal manusia tempatnya salah dan lupa sih sah-sah aja. Persis kayak Perpres yang bisa membatalkan Undang-undang dan dibilang salah ketik. Okelah, suka-suka situ aja.
.
Dua kubu masih asik ributkan hal gak penting di masa yang seharusnya genting. Negara lain bersatu padu jegal Virus Corona, kita masih ekstase menikmati Virus Congorna. Ya gakpapa sih, toh kita sehari-hari udah hidup viverepericoloso, nyerempet-nyerempet maut terus. Ada lampu merah ditrabas, rokok katanya membunuh masih disedot, micin katanya pemicu kanker masih disantap, dan seabreg kenekatan lain.
.
Termasuk soal gegeran larangan bikin gereja, padahal masjid gak ber-IMB di mana-mana. Berkilah itu demi bela agama padahal Kanjeng Nabi sendiri melarang keras hancurkan tempat ibadah pada saat perang. Lha pas perang saja dilarang, apalagi pas masa damai coba? Bahkan Khalifah Al Fatih yang dielu-elukan Felix Siauw cs juga gak lantas menghancurkan Hagia Sofia dan berbagai gereja Kristen Ortodoks Siria saat tundukkan Konstantinopel.
.
Nah, kita ini sebenarnya meniru sapa soal melarang pembangunan tempat ibadah? Soal Kristenisasi merebak kan memang ada kelompok yang agresif selamatkan yang sesat. Persis beberapa mualaf yang jadi dai dadakan dan terbukti berbohong soal identitas dirinya di masa lalu. Setelah surga dikapling-kapling seenak kelompok, menyesatkan di luar kerumunan, kan tinggal ajak banyak orang masuk. Ambigu? Ya begitulah akal dan perasaan yang dibiarkan terlalu liar.
.
Padahal ya Kanjeng Nabi gak melulu ngurusin agama terus. Dalam artian dikit-dikit ngomong syariah. Tinggal kasih contoh aja, kelar sudah. Lha kita kebanyakan berkoar label syariah, eh tiba-tiba tertipu kedok serupa. Entah rumah, bisnis, umroh, MLM, sampai sempak berlabel syariah pun laku jadi bahan tipu-tipu. Betapa iman tanpa nalar memang berbahaya betul. Jadinya fanatik, taklid buta pada prasangkaan sendiri.
.
Mau ngomong teori konspirasi ini-itu berikut bukti juga udah percuma di zaman ini. Sebut nama dan institusi beresiko kena jerat UU ITE, apalagi sampai nominal transferan, wuih, gegeran yang penjarakan diri sendiri ujungnya. Jadi dinikmati aja lah semua kejadian yang terus berulang ini. Mau pemberontakan ala OPM, ISIS yang meringsek perlahan ke dalam negeri, sampai orang-orang kecewa dan putus asa pada keadaan sudah gampang disulut isu apapun.
.
Ya mau-maunya dikompor-kompori media massa yang memang jelas-jelas cuma cari berita sensasi. Bahkan yang berjaringan terluas di dunia saja bernafsu hadirkan konflik berdarah ala Syuriah ke negeri ini. Serius lho ini, terkonfirmasi orang dalamnya langsung. Berhubung diriku pernah dikit-dikit dipercaya dengerin informasi begituan.
.
Nah, kita mau ngapain nih? Beberapa hari ini beranda fesbuknya isinya serupa. Digaris algoritma fesbuk yang terangkum dengan instagram dan whatsapp, terlihat betul tempurung-tempurung yang menyeliputi tiap penulis status, pembagi “forward”-an di grup WA, sampai jaringan selebgram. Puncaknya ya nanti seperti di India. Gempur-gempuran sesama anak bangsa hanya gara-gara merasa paling wow sendirian.
.
Kita lupa lidi seikat bisa menyapu sampah segede tai anjing. Tapi lidi setruk tanpa ikatan percuma ngelawan tai sapi. Bukan butuh banyak untuk menang tapi solid. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Jangan malah kawin lagi. Sebab pola itu sama dan berulang. Kan kutukan sejarah memang gitu. Ketika gelombang fanatisme yang radikal sudah duduki pemerintahan pusat beberapa negara dan blok, terlihat mau ke mana peradaban era ultra moderen ini, kan?
.
Yakin masih mau sekadar duduk wirad-wirid terus tanpa peduli sekitar? Ada banyak kegelisahan yang dalam definisi Empu Walmiki dalam Epos Ramayana, berasal dari mulut Rahwana yang terpenjara di antara dua gunung. Persis seperti Sun Go Kong sebelum dibebaskan oleh Biksu Tong dalam Journey to the West. Kita bisa melawan gelembung-gelembung itu jika memang dibekali kemampuan. Sebab, konon hanya yang kuasai ilmu silumanlah yang bisa deteksi. Begitu tafsir Mbah Seno Gumira Ajidarma dalam Kitab Omong Kosong.
.
Lha, mbacot segini banyak buat apa sih? Ya sekadar sambat aja sih. Betapa kita sedang jadi bangsa yang kecemplung lubang. Eh, ini lubang yang sudah akhiri banyak peradaban. Bukannya saling topang untuk keluar lubang, malah asik gontok-gontokan. Kan fucek banget yak.” Umpat Kang Kuat di TepiArus.

0 comments:

Post a Comment