Wednesday, April 15, 2020

Kiai-kiai yang saya ikuti memang wali, jadi gak takut apapun

"Kiai-kiai yang saya ikuti memang wali, jadi gak takut apapun. Singa saja tunduk di kaki mereka. Cuma, mereka kan sudah lalui anak tangga pertama logika kewalian: gak takut kehilangan apa-apa.
.
Lha, aku kan belum wali. Wajar masih takut berdasarkan akal. Dikonfirmasi beliau-beliau juga buat gakpapa. Bahkan saat di seusiaku saja beliau pernah di fase yang sama kok. Akal ada untuk dipakai. Pilah-pilih jalan terbaik, dan teraman.
.
Lari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Seperti penggembala berpindah dari ladang tandus ke subur. Lha lingkaran saya yang dititipi cuma secuil, masih sangat Noob di jalan ini, kuatir masih ada ya gakpapa.
.
Kecuali sekelas Habib Luthfi yang ketua tarekat dunia, pasti punya pertimbangan sendiri. Beliau menyangga perekonomian Indonesia lewat pedagang kecil di pasar tradisional, para penyelamat negeri ini dari krisis 2008. Wali tingkat jendral ya begitu, berani pasang badan tingkat dunia. Beliau pun tidur sehari semalam hanya 15 menit.
.
Guru beliau, Mbah Malik Purwokerto, pernah di fase fana selama 3 tahun dalam kondisi segar bugar. Tak takut kehilangan anak dan istri adalah anak tangga pertama untuk diakui teman-Nya Gusti Allah. Tandanya bisa diambil secara nyawa, atau diceraikan. Pokoknya dijauhkan dari dunia dan tetap sabar-syukur.
.
Faktor usia juga penting jadi pertimbangan. Maqom atau tingkatan didapat melalui proses berkelanjutan. Tidak ujug-ujug ada di pangkat jenderal. Nyicil dulu dari kecil, dari berani kehilangan sepele-sepele. Demi Gusti Allah, dan sadar itu mau-Nya.
.
Prinsip Gusti Allah tak pernah ciptakan keburukan dan kejahatan buat kita terhibur. Oh, berarti diri belum beres dikoreksi masih terus diuji. Lah kan Gusti Allah sendiri bilang tiap kenaikan tingkat ada ujiannya. Ujungnya ya hikmah di balik perkara.
.
Jadi, kuatir boleh sebab kita belum buktikan cuma Allah di hati kita. Sama seperti analogi singa itu ciptaan Allah kenapa ditakuti. Nah, coba sekandang sama singa tapi kita bukan pawangnya singa. Kan habis jadi lalapan, ya?" Ucap Kang Sabar di lincak.

0 comments:

Post a Comment