Thursday, April 16, 2020

Mari sadar ancaman krisis

“Dulu, Khalifah Umar bin Khattab tidak jadi masuki Yerusalem untuk pertama kalinya. Perjalanan jauh ditempuh dengan hanya bertemankan seorang sahabat. Begitu terlihat kota itu, gubernur kota datangi dan sarankan sang pemimpin urunkan niat masuki kota. Alasan tengah terkena wabah diajukan. Agak bersikeras, Umar yang terkenal tegas ingin tunaikan kewajiban akhirnya melunak.
.
Kelak, Umar masuki kota suci tersebut tanpa pasukan. Ia memilih solat bukan di dalam Masjidil Aqsa tapi di tempat Sang Nabi Isra’ Mi’raj, yang kala itu jadi tempat pembuangan sampah. Argumentasi Umar tak mau kelak pengikutnya miliki dalil rampas gereja hanya untuk solat. Kalau di teras, bukan di dalam tempat ibadah umat lain, sah-sah saja solat. Barangkali begitu hikmah Umar,
.
Umar juga pernah temui krisis parah di Mesir. Tak lain karena Sungai Nil menggila gelontorkan air. Daerah Aliran Sungai subur makmur penuh pertanian penopang perekonomian Mesir luluh lantak. Tersapu aliran dahsyat Sungai Nil. Amru bin Ash sang negosiator terpaksa sambat dan dikirimi surat dari sang pemimpin.
.
Umar lewat surat yang dilarung ke Sungai Nil peringatkan sungai untuk jadi manfaat, bukannya merusak. Manjur. Barangkali ini jadi qiyas para Walisongo adakan sedekah laut, bumi, gunung, dan langit. Bukan bentuk sembah, tapi berterimakasih pada mereka yang mau ditundukkan Gusti Allah untuk kebaikan manusia. Bayangkan, setahuku, keputusan Umar kirim surat itu tanpa penelitian empiris mendalam sampai ke titik awal Sungai Nil.
.
Kanjeng Nabi pun pernah temui krisis pangan. Gagal panen sebabkan beliau harus terpaksa ganjal perut dengan batu-batu. Ketika Umar gusar tak kunjung selesai ujian lapar itu, dan pamer-pameran penderitaan, Sang Nabi baru tunjukkan batu di sekeliling perutnya. Sabar jadi kunci, usai salat pun tetap dijadikan alat untuk absensi jamaah dan kadar kesehatan mereka.
.
Jauh ke belakang, ada Yusuf selaku legenda soal krisis. Ketika ia jadi menteri, 7 tahun kemakmuran disusul 7 tahun paceklik panjang hadir lewat mimpi 7 sapi kurus memakan 7 sapi gemuk. Ia segera susul dengan rencana antisipasi. Gudang-gudang dibangun, prioritas pemakaian dipakai, sampai penghematan pengeluaran dilakukan. Kemudian siapapun yang meminta bantuan akan dibantu secukupnya.
.
Di suku-suku pedalaman negeri ini, sampai detik ini masih ada yang pertahankan tradisi atasi krisis. Suku Badui Dalam dengan lumbung padi tahan krisis, Mentawai dengan metode pembagian hasil alam, Dayak lewat kesederhanaan panen sesuai kebutuhan, dan sebagian kecil desa di Jawa mulai munculkan lagi lumbung desa untuk keperluan sosial. Ironisnya, khalifah atau perawat negeri ini secara resmi justru membakar isi-isi gudang pangan penanggulangan krisis.
.
Ada beberapa badan independen kaliber dunia rajin mengintip negara-negara untuk dilihat kadar kesiapannya tanggulangi krisis. Negara ini mendapat rapor merah terus-menerus. Dari segala sisi krisis, bahkan sedari reformasi bergulir. Masalah makin bertambah dan saling gunting dalam lipatan. Parahnya, kebijakan melihat alam sebagai saudara tua sudah tidak ada sama sekali. Tidak semuanya tentu saja, masih ada secuil khalifah tingkat provinsi bahkan daerah peduli seperti Umar dan Sungai Nil.
.
Cina sudah keteteran menangani Corona yang baru saja kalahkan rekor SARS. Sumber Daya Manusia makin menipis, begitu juga Sumber Daya Finansial. Ketika di daerah sekitar Wuhan muncul SARS, kekuatiran makin mengerikan pada krisis yang ditimbulkan. Sekelas Singapura, sudah ludes isi supermarket-supermarket sebab tingkat penanganan Corona naik ke level jingga. Jarak obat masih sekian minggu lagi, tinggal seberapa tangguh dan kerjasama antar negara tangani kasus ini.
.
Kita di negeri tropis dan khatulistiwa bisa sedikit bernapas lega. Selama menjaga kondisi tubuh, etika batuk dipakai, meminimalkan nongkrong-nongkrong tidak perlu, sampai sering terpapar sinar matahari. Di dunia medis negeri ini tengah terjadi kegusaran karena angka penularan TBC dan HIV AIDS sudah lampaui Hepatitis. Padahal tidak batuk-batuk tapi tanpa sadar sudah TB Paru akut banyak ditemukan. Kebiasaan ngopi berjamaah segelas beramai-ramai, ngeronda, dan nggibah, ditengarai jadi media paling mudah virus ini.
.
Negeri dengan kebiasaan sosial tinggi memiliki ujiannya sendiri. Isolasi di negeri diktator seperti Cina akan mudah ditunaikan dengan pengerahan aparat dan kesadaran individual manusia kotanya. Tapi di negeri ini, isolasi hanya akan jadi sumber nggibahan, media massa memanas-manasi alih-alih tunaikan tugas pokoknya seperti yang tercantum di buku-buku kelas jurnalistik.
.
Soal ketahanan pangan pun negeri ini ada di titik nadir. Beban demografi di tahun mendatang dipuncaki tahun 2045 di mana generasi era Naruto akan kepayahan saat masuki masa pensiun. Tidak punya rumah, tabungan hari tua, sampai jaminan kesehatan, baru disadari ketika gaya hidup foya-foya, jalan-jalan, dan makan-makan sedari masa kerja tak mampu topang keuangan masa tua.
.
Windu-windu penuh serba impor sudah jelas tercetak di negeri ini. Kekurangan perawat sawah, gunung, sungai, danau, dan laut, muncul terus diperparah kebijakan pengatur negara yang malah mempermudah impor dan mempersulit produksi dalam negeri. Tak usah pikirkan beban mereka di hari penghitungan, mereka pemburu bonus dari tiap impor itu kala mati pun tak ada yang pedulikan.
.
Alangkah lebih bijak jika kita berkesadaran seperti Umar sebelum masuk Yerusalem. Sadar ada wabah, pilih isolasi diri tanpa pedulikan hal sepele lain. Tidak malah dekati hal-hal yang dicurigai sebabkan wabah menurut media-media massa terverifikasi pakar. Bukannya dari info hoax di Grup WhatsApp. Selalu peringatkan etika batuk pada yang memang mampu diingatkan secara halus. Tirulah kegalakan emak-emak ketika ditegur soal lampu sein!
.
Soal preventif dan kuratif, cobalah gunakan pendekatan surat ala Umar. Secara logika tentu telusuri sumber masalah ada di mana. Jika logika sudah temukan kendala, selesaikan segera tanpa salahkan siapapun. Sesuai standar dan kadar kemampuan diri. Kalau tidak ditemukan atau sudah diselesaikan masalah dengan logika, tapi masalah masih muncul, tunaikan laku sejenis kirim surat. Entah dengan sedekah bumi, laut, atau langit. Kita saja bisa berujar ‘alhamdulillah’ ketika semua perangkat berbaterai di fase ‘low-battery’ dan listrik tiba-tiba menyala dari pemadaman bergilir.
.
Logika lain adalah kumpulkan yang memang akan diperlukan ketika krisis datang. Bisa bangun kesadaran dan langkah bersama secara komunal lewat lumbung pangan misal, atau individu saja jika sulit bergerak bersama. Standar tas darurat berisi obat, bekal makan sederhana tepat kalori untuk beberapa hari, sampai rute evakuasi. Ini penting juga untuk lakukan simulasi agar alam bawah sadar selalu sewaspada Tim Bravo 5 Satgultor. Atau sesigap jomblo yang menunggu balasan dari chat gebetan yang cuma di-read doang.
.
Ketika sudah tertempuh semua tapi belum tuntas juga, tabah dikedepankan. Seperti Kanjeng Nabi dan upaya jegal rasa lapar. Setidaknya batu-batu itu bisa bantu beliau tetap berdiri dan tegakkan tulang punggung. Tanpa sedikitpun sambat, terima sebagai ketentuan dari Gusti Allah. Dalam wedaran Kitab Nashoihul Ibad di SurauKami oleh Yai Agung, standar sakit biasa adalah 3 hari. Jika sampai seminggu berarti efek kekeliruan laku hidup. Setelah lebih dari seminggu bisa jadi ada maksud Tuhan di balik itu.
.
Kesadaran ini harus muncul terus sedari awal berupaya keluar dari krisis. Agar tak ada sedikitpun yang terasa sia-sia. Seperti Yusuf di dasar sumur, ia berteriak dan menaiki timba yang terjulur di dalamnya. Usai berhari-hari tanpa diketahui siapapun tentang keberadaannya. Upaya sipritual memang perlu dijadikan penenang pikiran, tapi upaya tempuh aman melalui jalan akal juga harus ditunaikan. Di era 4G kukira kebangetan jika mampu beli aneka multivitamin berkualitas tinggi tapi malah pilih ngemut sebiji kurma demi alasan sunah.
.
Negeri ini adalah cincin krisis sedari dulu. Katakanlah Profesor Santos benar soal keberadaan Atlantis, secara posisi alam, negeri ini memang penuh bencana. Dangkalan Sunda dan Sahul bisa jadi bukti nyata betapa dahsyat dulu proses penenggelaman itu. Manusia tidak hidup sendiri di atas bumi ini. Ia dibersamai makhluk-makhluk yang lebih tua dari Dinosaurus sekalipun. Maka hindari sombong selalu bisa selesaikan masalah tanpa masalah.
.
Mari sadar ancaman krisis, tanggulangi bersama, rancang jalur keluarnya, dan tabah hadapinya. Kita negeri besar dengan jutaan tahun proses kematangan melebihi negeri manapun. Bangun dan sadarlah, berbuatlah sesuatu!” Tukas Kang Sabar di depan ruangan.

0 comments:

Post a Comment