Thursday, April 16, 2020

Mungkinkah seorang psikopat menempuh jalan pembersihan hati?

“Mungkinkah seorang psikopat menempuh jalan pembersihan hati, Kang? Meski di tangannya berlumur segala jenis dosa besar. Label kekal di neraka pun sudah diberikan mereka-mereka yang berpenampilan fisik sangat agamis. Sedangkan tato-tato di tubuhku tak pernah mungkin hilang sebab masing-masing adalah pembatas kisah di hidupku. Pun bekas luka tak pernah bisa pungkiri segala sejarah.” Ucap seorang kawan, dini hari, di sudut rumah.
.
“Dulu, era nabi-nabi, ada seorang yang mau bertobat usai membunuh seseorang. Rasa sesal, campur aduk perasaan khas usai menghilangkan nyawa manusia, memburunya. Maka, ia menuju sosok yang dianggap penyelesai masalah. Apa mau dikata, si tokoh bijak itu malah mengutuk si pembunuh. Mencerca dan menghina. Akhirnya, si pembunuh meluapkan kegusaran pada yang diihadapinya. Dibunuhlah ia.
.
Makin bertambah sesak di dada. Ia pergi beranjak menuju tokoh lainnya. Terus begitu polanya hingga tokoh ke-100. Tanya si pembunuh tak jua temukan jawaban tenangkan jiwa. Hingga di satu sosok bijak, dijawab Tuhan Maha Pengampun. Termasuk segala dosa besar si pembunuh. Ia lantas merekomendasikan nama lain pada si pembunuh untuk bantu proses pembersihan diri.
.
Berjalanlah si pembunuh menuju sosok yang akan jadi guru bagi rohaninya. Menurut satu riwayat, kisah-kisah ini memiliki nama dan lokasi tepatnya, hanya saja aku lupa. Tak dinyana, sampai di pertengahan jalan, si pembunuh dicabut nyawanya. Segala argumentasi bisa dimunculkan sebab kematian si pria gagah ini. Dehidrasi, wabah, sakit menahun, tekanan psikologis, dan seterusnya. Terjadilah perdebatan sengit dua malaikat.
.
Akhirnya mengadulah para malaikat ke hadiran Tuhan. Dijawab dengan sederhana: ukurlah jarak langkah kaki, lebih dekat menuju arah pertaubatan, atau dari masa lalunya. Begitu dengan teliti diukur, selisih satu langkah, unggul menuju pertaubatan. Kekallah si pembunuh di dalam pengampunan Tuhan. Dicuci semua efek perbuatan kejinya, hanya dengan bermodalkan niat yang dijalani.
.
Dari kisah ini, seharusnya tidak ada jalan pulang selain kembali menuju samudera pengampunan Tuhan. Rumi mengatakan, Tuhan selalu memanggil-manggil para pendosa untuk menemui-Nya. Menyapa-Nya ketika derai air mata dan putus asa mendera raga. Tak tanggung-tanggung Dia beri Kasih-Sayang, pemabuk pun Ia beri jalan. Selama, tentu saja, yang bersangkutan setor usaha bertaubat, setidaknya berniat.
.
Kasus si pembunuh tadi kan sudah berniat tobat sedari awal. Hanya saja malah menambah terus sebab tak cocok di hati. Ia butuh optimisme ketika di dalam ruhnya sudah kering kerontang, jiwanya berkelana entah ke mana. Sama seperti pemabuk yang tak paham dengan kondisinya ketika tengah mabuk. Akal dan perasaan sudah takluk dalam pola yang dieksekusi jasad. DI masa itu, hanya Tuhan yang mampu mengetuk.
.
Kaum bijak, tak akan pernah mengetuk palu seseorang. Bahkan ketika akal dan perasaan sudah berikan peringatan. Mereka akan membuka tangan lebar-lebar ke siapapun. Termasuk ke para manusia berhati buruk. Konsekuensi meniru laku Welas-Asih Tuhan adalah tak memandang bulu siapapun dalam berbuat baik. Kasus Nabi Muhammad ketika pedang Tsuroqoh, pembunuh bayaran terpopuler di Jazirah Arab, terhunus di leher. Tetap diberi maaf juga saat itu dan di kemudian hari.
.
Laku semacam itu memang hanya bisa dilakukan pada tataran tertentu. Ketika perhitungan matematis ala untung rugi dagang sudah tak dimiliki. Sedekah tak lagi diharapkan demi 10 kali lipat, tapi sebagai pengugur efek dosa bernama kafarat. Memunculkan khauf atau rasa takut pada tiap perilaku merugikan. Raja’ atau mengharap, dihadirkan pada tak terhingga-Nya Welas-Asih dalam beri pertolongan.
.
Seorang pelacur bisa masuk surga hanya karena memberi minum anjing liar. Para penyihir Firaun pun ditebus pertaubatannya ketika akui bahwa pembuktian ala Musa tak mungkin hasil olah pikir akal manusia. Di Nusantara, pola serupa bertaburan di mana-mana. Terfenomenal tentu saja Sunan Kalijaga. Dengan pemberontakannya pada kemapanan, persis konsep ‘punk’, ia tunjukkan dengan segala tindakan penghalalan segala cara demi goyangkan tatanan. Nyatanya, kelak darinya justru muncul amal jariyah tak berkesudahan hingga saat ini.
.
Jujur, aku kurang paham dan hapal sejarah bangsa kita sendiri. Baru-baru ini saja ketika bertemu Yi Agung yang dengan luwes dan semangat ceritakan nama-nama Nusantara ketika ngaji kitab-kitab di SurauKami. Sedari masa kanak-kanak, sejarah seperti yang sering diulas Yai Rahmat, lebih akrab di mata dan telinga. Para nabi-nabi, kisah luar negeri, hingga sufi-sufi dan keunikannya. Pekerjaan rumahku kini menambah perbendaharaan kisah seputar sejarah Nusantara.
.
Pembersihan hati khusus para psikopat yang mati rasa memang perlu bimbingan guru. Setidaknya mereka yang paham betapa susah memunculkan rasa penyesalan, simpati, dan empati. Harus memecahkan kodifikasi dari akal untuk mengakomodir perasaan. Maka doa pada Maha Pembolak-balik Hati lumrah dilantunkan. Sebab kerak-kerak dosa yang menyelimuti hati bisa dihujani cahaya Tuhan.
.
Ada seorang pemabuk yang setiap dini hari memalak Yai Rahmat. Beliau memiliki rutinitas pagi untuk berbelanja bagi pesantren penghapal Quran yang ia dirikan bersama teman-teman. Dituruti, diberi uang, terus begitu selama berminggu-minggu sampai bulanan. Padahal orang mabuk begitu mudah ditinggal pergi, kan? Sekali sentuh saja bisa membuatnya oleng. Hingga suatu dini hari, si pemabuk ini menyapa Yai Rahmat.
.
Dialog terjadi, si pria tak sedang mabuk. Obrolan mendalam terjadi. Hingga akhirnya si pria utarakan ingin bertobat. Selama ini ia diusir di manapun pergi untuk mencuci hati. Dibawalah ke pesantren. Oleh Yai Rahmat diberi tempat istirahat di bawah tangga. Sebab tak paham bacaan Arab, akalnya sudah terlampau rusak untuk memasukkan hal baru, oleh Yai Rahmat disuruh untuk meniru perilaku santri lain saat wudu dan salat. Hanya meniru, tanpa komat-kamit.
.
Terus begitu berminggu-minggu, hingga di suatu pagi. Ada rutinitas wirid berjamaah di pesantren itu. Usai, hanya si mantan pemabuk yang masih terduduk di tempat. Heran, dibangunkanlah ia. Tak bergerak, dan nyata sudah bahwa ia telah meninggal dalam posisi sedang bersila. Wajah, dada, sampai sarungnya basah kuyup dari air mata. Ia yang belum bisa berucap Arab, hanya mengikuti gerakan wudu dan salat, meninggal dalam posisi seperti itu.
.
Momen itulah jadi pondasi terbesar Yai Rahmat mendirikan SurauKami. Pesantren yang menerima seperti apapun santrinya. Bagi beliau, ia rela hidupnya hanya untuk dipakai menemani sosok si mantan pemabuk tadi. Maka santri SurauKami lain dari yang lain. Pembersihan hati betul-betul hal yang sulit dinalar. Berkelindan dengan keseharian berlumur dosa, Tuhan masih sudi menyapa, menggiring bertemu guru-guru pembersih hati.
.
Bermodalkan welas-asih, ditipu, difitnah, hingga segala yang buruk dilakukan para santri, beliau selaku guru ruhani tak peduli. Prinsip yang beliau tanamkan suatu dini hari padaku, ‘menolonglah dengan kesiapan untuk dibalas kejahatan’. Tentu belum tingkatanku untuk demikian. Maka, begitulah jalan pembersihan hati. Ia ditempuh perlahan tapi dengan bimbingan dan arah tujuan. Jelas mau ke mana, dipandu siapa.
.
Di sinilah, Suluk Jalan Trabas hadir. Ketika usia, tenaga, kuasa, termasuk dana, tak sanggup untuk tebus masa lalu. Sebuah terobosan rintisan para pendahulu dalam sejarah ribuan tahun silam dipakai. Pola-pola tertentu dilihat, dikaji, dan pasrah pada Welas-Asih-Nya Tuhan. Tanpanya, kita beresiko menjadi kaum agamis tapi nir kebersihan hati.” Jawab Kang Sabar.

0 comments:

Post a Comment