Tuesday, April 14, 2020

Penanganan Mersenaries ISIS Indonesia dan Keluarganya

Tulisan Pandjang djang Bermutu Sekali
Namun begitu tentu saja tulisan ini bukan untuk meramaikan pro-kontra boleh tidaknya kepulangan 600-an mersenaries ISIS Indonesia dan Keluarganya.
Kita melihat di media utama beberapa pejabat menyampaikan usulan kontra (menolak) dengan alasan para kombatan ISIS di Suriah ini berpotensi menjadi sel tidur yang suatu ketika dapat meledak menjadi kerusuhan adalah sama sekali tidak beralasan.
Belum lagi sebagian yang membangun asumsi prediktif bila anak-anak keluarga mersenaries ini yang umumnya masih balita akan tumbuh menjadi teroris. Meski terdengar lucu, tetapi memang demikian adanya cara berpikir orang-orang tadi.
Sementara itu pihak yang mengedepankan unsur kemanusiaan untuk menerima kembali, sebenarnya masih belum menjelaskan apa dan bagaimana nanti pelaksanaannya secara teknis.
0.1
Persoalan ini tentu tidak dapat menggunakan pendekatan preventif seperti yang dilakukan kebanyakan kebijakan anti-terorisme internasional. Cara-cara kita menangani terorisme sebenarnya hanya memindai-timbal (copy-paste) dari yang digunakan oleh negara-negara AS dan Eropa. Menempatkan satu pihak sebagai si keliru dan lainnya sebagai si benar terus.
Hasilnya bisa kita lihat sendiri. Lebih dari 30 tahun AS melakukan perang anti teror di Afghanistan dan menahan tersangka teroris di Guantanamo Cuba. Kelompok Taliban berkembang menjadi lebih kuat dan mereka lebih terorganisir. Belum lagi kelompok teror Al Qaeda yang diberanakkan di Afghanistan namun dikembang biakkan di Libya, Aljazair, Sudan dll, dengan pendanaan utama dari Saudi dan Qatar. Merekalah yang banyak terlibat sebagai mersenaries di medan kampanye Suriah.
Melihat sifatnya yang generatif, maka cara yang diambil barat dalam penanganan terorisme boleh dibilang gagal saja. Pendekatan anti-teror tidak dapat didekati hanya satu arah saja; misal lewat pendekatan preventif keamanan nasional, sentimen keagamaan, dll.. Seperti pernah diungkap Presiden Suriah Bashir Al Assad, jika kelompok teror ini seperti permainan game komputer. Berapa pun musuh yang kita bunuh maka akan muncul musuh-musuh baru.
Bashir Assad tentu mempunyai pengalaman empiris dan rasional langsung. Suriah adalah satu-satunya negara yang bertahan dari gempuran teror yang datang baik dari dalam maupun luar negeri. Apa dan bagaimana ia menghadapi kelompok mersenaris ini.
0.2 Pemetaan Aktor
Setelah kita bahas tempo hari di laman fesbuk ini, maka diperoleh aktor-aktor teror di Suriah yang meliputi empat besar. Pemetaan ini bertujuan untuk memilah dan menghitung kekuatan serta mengambil langkah strategis berbasis prioritas.
Bagaimana pun juga, menghadapi banyak front dalam satu waktu sangat mustahil dimenangkan pemerintahan Damaskus di bawah Presiden Bashir Al Assad. Ia harus menimbang kenyataan bila dalam perang, tidak mesti semua pertempuran dapat dimenangkan. Ia mesti berpikir strategis dan holistik.
Para aktor yang meliputi empat bagian besar itu adalah;
0.2.1
Tentara organik Asing (AS, Inggris, Jerman, Kanada, Turki) yang datang mengatasnamakan negara dan sifatnya invasi. Mereka memanfaatkan unrest (kerusuhan) domestik Suriah untuk mempercepat agenda ganti pemerintahan dan mengakusisi ladang-ladang minyak serta gas Suriah.
Agenda mereka adalah devide et ruin (pecah belah dan hancurkan) dengan nantinya membentuk negara boneka Suriah.
0.2.2
Kelompok kedua adalah aktor dari opisisi pemerintah. Mereka yang kemudian mengangkat senjata atau tetap tidak mengangkat senjata namun menyetujui kerjasama dengan pihak asing. Agendanya adalah devide et empera mendorong terjadinya negara lemah, otonomi dan separatisme Suriah.
Mereka yang setuju dipersenjatai nantinya akan bergabung dengan agenda asing regional menampung milisi-milisi asing. Tujuannya membentuk milisi-milisi anti Damaskus dengan dukungan material, uang dan orang dari Saudi Arabia dan Qatar. Mereka ini nantinya yang memotori munculnya negara Kurdi dengan milisi Pasmerga, negara Islam Suriah, Negara Demokratik Suriah, Alianis Nasional Suriah dll.. Meskipun menghendaki adanya perbedaan dengan Damaskus namun hakikinya mereka tetap menghendaki satu negara Suriah.
Kelak agenda mereka akan berbenturan dengan aktor ketiga.
0.2.3
Kelompok ketiga adalah kelompok jihadis dan militan internasional. Merekalah yang ketika datang dengan doktrin Ikhwanul Muslim tentang persaudaraan global. Mereka adalah kelompok yang didukung Turki dan banyak berada di bagian utara perbatasan Suriah-Turki.
Menurut CISAC dan laporan pemerintah Suriah, diperkirakan ada lebih dari 200 ribu mersenaris asing di Suriah. Kebanyakan mereka berwarganegara Saudi, AS, Jerman, Inggris, Belanda, Turki, Pakistan, Afghanistan, Cina, Australia, Malaysia, dan Indonesia.
Sementara itu ada pula kelompok internasional dengan visi lebih dalam, yaitu membentuk kekalifahan Islam dan menamakan dirinya jihadis. Mereka menanamkan romantisme negara islam dengan doktrin Wahabi dan Salafi. Ciri-ciri mereka mudah untuk menilai yang berbeda sebagai orang kafir (the infidel). Orang Suriah menyebut mereka tukang mengkafirkan orang (Takfiris).
Kelompok inilah yang paling destruktif dari segi menciptakan teror di kota-kota Suriah. Namun sifat destruktif sebagai "pendatang asing" inilah yang membuat sebagian besar masyarakat di kota-kota Suriah dan kemudian kelompok bersenjata oposisi berbalik dan melawan mereka sebagai musuh.
0.2.4
Kelompok antagonis
Mereka ini disebut antagonis saja karena keterlibatan mereka sebenarnya hanya sebagai aktor pelipur lara. Mereka sebagian besar adalah warga negara Suriah, sebagian pengungsi Palestina di Kamp Yarmouk, simpatisan keluarga Suriah yang kini tinggal Yordan atau Turki.
Sebagian lain ikut bergabung karena alasan-alasan sentimentil. Ingin hidup di negara Islam atau karena menerima bayaran untuk bersikap seperti itu.
Pada kelompok ini pemerintah Assad tidak terlalu keras menggunakan senjata. Mereka dihadapi dengan persuasi dan naturalisasi. Baru nanti di pertempuran Yarmouk, Pemerintah Damaskus menegaskan garis merahnya kepada kelompok pengungsi Palestina yang terlibat dengan aktivitas teror.
0.3 Strategi Penanganan
0.3.1 Pendekatan Politis
Setelah dikenal aktor-aktor ini maka langkah Damaskus adalah mengedepankan tawaran diplomasi politik. Ia mengajak kelompok oposisi ke meja perundingan dan berusaha mendengarkan keluhan mereka.
Sepertinya Bashir Al Assad faham jika awal dari kekecewaan masyarakat Suriah adalah persoalan rendahnya akomodasi politik dan adanya gap ekonom antar kelompok di masyarakat. Kekecewaan ini yang kelak dieksploitasi untuk meledakkan konflik-konflik di seluruh negeri Suriah.
0.3.2 Pendekatan geopolitik
Pada aktor-aktor superpower seperti AS dan Sekutu NATO nya, pemerintah Damaskus tidak ingin bermain dadu. Mereka faham bila konfrontasi langsung dengan AS dan Eropa di saat sebagian masyarakat Suriah menderita karena konflik maka itu hanya akan mempersulit normalisasi negara.
Assad menempatkan tentara organik negara asing sebagai aktor yang paling terakhir untuk dihadapi. Ia faham bila melawan AS dan sekutu NATO maka pertama ia harus membangun aliansi tandingan. Ini yang dipersiapkannya dengan mengundang Iran, Hezbollah, dan Rusia setelah satu setengah tahun menghadapi konflik. Aliansi hanya dapat dihadapi dengan aliansi, tetapi ini bukan prioritas pertama Assad.
0.3.3 Pendekatan Nasional
Seperti pernyataannya sejak awal, Presiden Assad memahami jika arah utama yang dihendaki kepentingan asing dari konflik di Suriah adalah munculnya negara lemah (weak state) dan bahkan negara gagal (failed state) Suriah.
Cara menggagalkannya adalah menciptakan konflik sosial berkepanjangan (prolongation of social conflict). Yang bukan hanya menghabiskan sumber daya alam, dan SDM Suriah tetapi juga membawa negeri ini kehilangan sejarah dan kebudayaannya.
Assad memahami jika untuk memenangkan perang ia mesti meminimalisir jatuhnya korban jiwa baik militer maupun sipil Suriah. Selain ia menyadari jika memenangkan perang pun ia mesti meminimalkan kerusakan infrastruktur demi menghindari jebakan hutang dalam membangun kembali kota-kota yang hancur.
Menghadapi hal ini maka ia tidak punya pilihan kecuali menawarkan dua opsi:
0.3.3.1 Rekonsiliasi
Pilihan ini ditawarkan kepada pihak oposisi dan kelompok yang kemudian berpisah dengan Damaskus.
0.3.3.2 Abolisi
Pilihan untuk memberikan keleluasaan kepada pihak-pihak yang mengangkat senjata untuk menghentikan perang dan mendapatkan hak-hak lebih luas dalam pengaturan kota. Syarat yang utama adalah mereka harus tunduk dalam perjanjian nasional "All under Suriah".
Bagi anggota milisi bersenjata atau militer yang terlibat atau desertir diberikan pula pengampunan penuh asal mereka mau mendukung atau terlibat kembali di bawah Tentara Arab Suriah.
0.3.3.3 Exil dan Naturalisasi
Tawaran pemerintah Assad untuk memindahkan anggota dan keluarga milisi bersenjata untuk dipindahkan dari zona konflik (exile) ke kota-kota yang dipilih - kota Idlib di Suriah utara dan selatan Kota Allepo-
Ada dua hal yang dimanfaatkan Assad dengan tindakan exil (pengasingan) ini.
Pertama memisahkan milisi bersenjata dari kota-kota yang dihuni penduduk sipil. Tujuannya untuk menghindari korban jiwa non kombatan (sipilian).
Kedua, Assad meminimalisir kerusakan kota bila perang dilanjutkan. Ia membutuhkan kota yang tidak terlalu rusak perang untuk segera dipulihkan agar penduduk yang mengungsi segera kembali dan melakukan aktivitasnya. Ia tidak dapat membiarkan penduduknya menjadi pengungsi dan menjadi beban bagi negara.
Sementara naturalisai adalah tawaran yang diberikan kepada kombatan non Suriah.
Pemerintah Suriah menyadari bila mereka yang datang ke Suriah sebagai milisi jihadis itu pada dasarnya adalah mereka yang secara mental dan pikiran dirusak oleh faham ekstrim seperti Wahabi. Kebanyakan mereka membayangkan satu negara Islam yang ramah sedang dibentuk di Suriah. Meski kemudian mereka menyadari jika ini tidak lebih perang yang penuh teror.
Mengembalikan pemahaman yang dikorupsi oleh ajaran-ajaran dan doktrin kekerasan seperti ini membutuhkan pendekatan yang holistik. Assad menawarkan bagi mereka untuk menjadi bagian dari Suriah atau bantuan untuk kembali ke negara asal.
Meskipun demikian ini tidaklah mudah bagi Damaskus. Kebanyakan yang datang dari luar negeri menjadi pendukung maupun yang ikut terlibat di pihak milisi tidak dengan mudah diterima kembali oleh negara yang bersangkutan.
Inggris membangun tempat isolasi bagi kombatan asal Inggris di Libya, begitu pula AS Jerman, Kanada dan Australia. Seturut Cina yang menerima lebih dari 2000 kombatan Uighur yang kembali dari front Suriah. Mereka membangun tempat rehabilitasi bagi mantan kombatan tadi dengan mengajarkan kembali keahlian-keahlian dasar pertukangan dan pelan-pelan mengembalikannya ke masyarakat.

0 comments:

Post a Comment