Wednesday, April 15, 2020

Preman Jiwa Rebahan


Kita ini bukan siapa-siapa lho. Soal anak siapa, ortunya anak bernama Anu, pejabat di kementerian Ano, sampai pengusaha sektor Ane, itu semua topeng. Luruh semua di mata Gusti Allah. Kecuali dengan topeng itu bisa bikin manfaat banyak banget ke oranglain. Bisa lah masuk pertimbangan-Nya.
.
Tapi banyakan kita kan pakai topeng reputasi dan relasi buat gagah-gagahan. Biar klo ada masalah cepet kelar. Ditilang polisi ya kontak temen di Mabes Polri, urus izin usaha lewat temen deket yang birokrat. Sah-sah saja sih, kan bisa dianggap berkah silaturahim juga. Cuma klo sekadar buat banggain “aku temennya Ani, aku sohibnya Ana”, beuh, gak usah.
.
Zaman sekarang udah gak mutu bawa-bawa oranglain di keseharian. Bisa bikin temen yang lagi diajak duduk minder seketika. Merasa setitik upil di hadapan gunung tai dinosaurus. Padahal kan gak baik bikin oranglain rendah diri. Manusia boleh ngerasa secuil Cuma klo di hadapan Gusti Allah.
.
Lha manusia kan sama-sama makan nasi, ke mana-mana juga bawa tai. Emangnya situ kayak Kim Jong Un yang ke mana-mana bokernya dibungkus Paspampres. Iya, serius itu lho, demi alasan gak dibunuh Assasin Creed. Maka, merasalah sepadan pada yang pencapaian dunianya mentereng, tapi merasa rendah di depan kaum bijak yang dekat Gusti Allah.
.
Dua sikap paradoks yang bertolak belakang itu dibutuhkan biar stabil kejiwaan kita. Gak gampang senggol bacok karena diklakson emak-emak dengan lampu sein nyala, pas kita lagi motoran di pinggir, dengan atribut safety lengkap. Coba klo pas dikagetin “tooooot” kita tunjukin kenalan preman di Pasar Tanah Abang. Kan bisa adu sangar sama emak-emak yang mungkin baru inget jemuran belum diangkat pas lagi mendung-mendungnya.
.
Setidaknya, topeng itu dilepas pas wudhu. Lima kali sehari minimal meniadakan diri. Ya murni sebagai bayi yang “makcotot” dengan telanjang, menangis, dan tangan menggenggam. Cumaaaa, ya losske ae, kita sekarang menghadap berpakaian dengan niat tutup aurat, tenang terima situasi dan kondisi saat ini, dan tangan terbuka ridho pada Kehendak-Nya.
.
Hukum alam kan bilang gravitasi bikin air ngalir dari atas ke bawah. Dengan lepas identitas diri, siapa tahu Gusti Allah mau ngisi Welas-Asih-Nya. Tentu soal derita pas dicuci dari sisa kopi di cangkir, harus siap juga. Namanya tobat pasti sengsara. Klo bahagia namanya makan soto babat.
.
Oleh Kapimoda
Ketua Asosiasi Tukang Obral Kaos Asli Nganjuk alias KATOKAN

0 comments:

Post a Comment