Tuesday, April 14, 2020

protes diberlakukan penjarakkan sosial

Wajar kalau banyak yang protes diberlakukan penjarakkan sosial (social distancing) di Indonesia.
Di Singapura berjalan lancar karena masyarakatnya sejak kecil diajarkan kalau ada pandemi atau penyebaran wabah mesti ada tindakan luar biasa. Jika tidak satu negara kota tadi mesti punah.
Di Cina yang kita sebut paling sukses. Negara dengan 1,5 Milyar penduduk diberlakukan lock-down di beberapa kota dengan total hampir 150 juta orang dilarang keluar dan sisanya dilarang bepergian tanpa surat izin pihak berwenang.
Ini hanya bisa dilakukan pada Cina saja karena mereka terbangun dengan sistem masyarakat kolektiv dan pemerintahan yang otoriter.
Di Iran lock-down bisa berhasil karena masyarakatnya taat pada ulama. Begitu ulama melarang shalat jum'at dan perkumpulan majlis sesuai arahan dokter maka kegiatan tadi segera dilaksanakan.
Di Jerman mudah sekali dilakukan penjarakkan sosial, karena orang sudah mengenal bangsa Jerman sebagai the men of order.
Bagi mereka Befehl ist Befehl: perintah adalah perintah. Ini jargon yang diucapkan semua perwira Jerman yang disidang dalam pengadilan perang Nuremberg. Yang namanya rakyat (serdadu) tidak bisa dipersalahkan, mereka hanya ikut perintah.
Di Indonesia orang masih mendebat instruksi presiden dan Gubernur. Presidennya sendiri kadang-kadang masih mendebat instruksinya sendiri.
Kalau saiya Befehl ist Befehl lah, disuruh tinggal di rumah ya tinggal saja di rumah. Orang Cina dan Itali sudah mulai merasakan manfaat dari lock-down, yaitu lebih banyak me-family-time.
Perasaan di awal tahun sudah pernah nulis tentang cuan di family. Perbanyak waktu keluarga di 2020.

0 comments:

Post a Comment