Wednesday, April 15, 2020

Pulang Sukarela atau Dipaksa?

Pulang Sukarela atau Dipaksa?
.
Oleh Kapimoda
.
Kita lahir di dunia ini sendirian. Tanpa bawa apapun, juga gak ditemenin siapapun. Ya telanjang aja tanpa bawa bekal. Bahkan di keluarga kayak gimana juga di luar kendali. Betul-betul maktrocot, tiba-tiba sudah oek di kamar bersalin. Barulah kemelekatan ditempelkan perlahan dari identitas sampai sangkaan-sangkaan pada dunia.
.
Padahal sedari alam ruh sebelumnya, kita betul-betul tidak saling terkait dengan lingkungan yang kelak didik dari nol. Meski dalam perspektif lain, disebutkan kelak ketika sudah dewasa, akan diperjalankan pada yang sefrekuensi di alam ruh. Bisa jadi ada ikatan darah ataupun keilmuan dari leluhur di jalur genetik.
.
Tujuan utama seseorang lahir di dunia ini kan nganterin jiwa kembali ke samping Tuhan. Tanpa kurang suatu apa. Ia seperti merdu suara seruling merindukan bilah bambu tempatnya berawal. Hidup secara otomatis akan memaksa berpisah dari yang selama ini dilekatkan paksa atau sukarela. Sakit, rugi, putus, hanyalah secuil dari proses temukan jalan pulang.
.
Syaikh Harawi, yang kitab puisinya di abad ke-2 Hijriah dikupas panjang lebar oleh Ibnu Jauziyah, sebut peristiwa itu dengan at-tabatul, diceraikan. Dari al Baqarah sepanjang itu, aliflammim di permulaan adalah penanda keberanian untuk pisahkan diri. Ayat-ayat Muqottoah adalah perlambang berani berpisah secara jasad juga batin.
.
Bukankah orang sakit juga dijauhkan dari keluarga dan lingkungan terdekat? Begitu juga dengan bangkrut yang biasanya ditinggalkan kawan seperjuangan. Deretan kejadian yang umum dicap apes dan musibah itulah proses cerai paksa dari Tuhan. Harapannya, agar sadar pada tujuan awal dikirim ke dunia.
.
Imam Ghazali dalam “Kitab Bagi Yang Lupa”, cerai ini memang bersifat keras dan mengagetkan. Seperti main jepret karet. Sosok puncak akademisi Islam itu pun kemudian ceraikan dunia dalam 10 tahunnya di menara. Jadi orang biasa. Kegiatan rutin sapu halaman masjid adalah bagian dari sadarkan diri pada kerendahan hati dan diri.
.
Abu Dzar Al Giffari juga dapat misi jauhi kuasa, tahta, dan tenar, langsung oleh Sang Nabi. Tak lain sebab ketajaman lisan dan ketegasan dalam ungkapkan kebenaran. Ia terkenal sebagai kontrol sosial bagi para pejabat di sekitarnya. Ia lakukan proses cerai secara sukarela dan penuh kesadaran pada potensi diri.
.
Nabi Adam pun dipaksa lakukan ini dengan turun dari surga. Ia pun terseok-seok cari belahan jiwa sembari teteskan air mata sesal telah langgar aturan Tuhan. Kita pun, sepantasnya tempuh hal serupa. Pisahkan diri sebelum dipaksa dengan penuh derita oleh Tuhan.
 

0 comments:

Post a Comment