Tuesday, April 14, 2020

Salaam Pancasilaaa Menjadi Meme Nasional

Perspektif Kajian Budaya
Viralnya aneka video pria-wanita mengetuk pintu rumah sambil berkata: "Salaam Pancasilaa" berkali-kali tanpa ada jawaban adalah respon kreatif masyarakat kita mengimbangi narasi besar.
Sebenarnya ini cukup menarik dikaji dalam perspektif kajian budaya.
Dalam kajian budaya yang dikedepankan adalah munculnya diskursus (wacana) ketimbang usaha menggeledah fakta. Yang pertama menghendaki kepada munculnya narasi-narasi baru untuk melahirkan apa yang kita sebut kemutaakhiran. Sementara kajian fakta akan menarik pemirsa kepada usaha menggeledah referensi. Yang artinya kita mengkaji keawalan sebagai artefak sejarah, dan membicarakan sejarah harus diakui sama membosankannya dengan membahas filsafat.
Pada proses kajian budaya apa saja yang bergerak cepat akan dipercepat untuk melahirkan narasi-narasi baru. Sebuah fakta menjadi lebih menyenangkan dan masif di level obrolan daripada ketika ia sedang dieskapasi sebagai data. Yang membutuhkan ketelitian, keahlian dan keheningan. Ini mengapa kemudian kajian budaya lebih banyak membahas dinamika budaya popular. Yang sering kita sebut juga sebagai budaya tontonan.
Bagaimana Salaam Pancasila ini muncul sebagai diskursus kebudayaan adalah ketika penggiat internet mengedit ucapan Kepala BPIP Yudian Wahyudi berupa kalimat ucapan selamat: Assalamualaikum menjadi Salam Pancasila.
Tidak lama muncul meme serius yang menghubungkan antara Assalamualaikum yang terasosiasikan dengan Islam dengan Salam Pancasila yang didefinisikan sebagai sekular.
Posisi diametral seperti ini khas narasi-narasi arus utama sebelumnya. Islam dan orang Islam diposisikan berhadapan dengan negara dan sebaliknya negara berlawanan dengan agama. Ada usaha menjelaskan inkompatibilitas dari keduanya dengan menunjukkan opini-opini yang dibangun melalui sikap reaksioner di salah satu kubu. Respon ini yang kemudian digunakan sebagai dasar argumen bagi dilancarkannya narasi-narasi selanjutnya.
Media massa utama pun kemudian menariknya kepada diskursus pro-kontra untuk semakin menggaduhkan persoalan.
Hanya saja di lain pihak ketika publik membaca dan meresponnya kita melihat narasi-narasi lain yang berbeda dari apa yang diarusutamakan. Publik merespon "keseriusan" narasi arus utama dengan parodi-parodi lucu dan viral.
Ratusan orang warganet (netizen) membuat adegan mengetuk pintu sambil berkata: "Salam Pancasila".
Video yang umumnya dibuat ala kadarnya dengan aplikasi di ponsel menyebar cepat mengalahkan dialog-dialog "serius" di media arus utama. Yang menariknya adalah mengamati jika para aktor terdiri dari warga dengan logat dan dialek unik bahasa di nusantara. Sebut saja jawa, tegal, banyumasan, sunda, minang, batak, palembang, bugis, menado, sumba, ambon dan papua. Artinya persoalan narasi diametral di awal yang ditujukan untuk memisahkan malah sebaliknya berkembang menjadi hal lain yang menyenangkan.
Ini tentu menarik, mengamati bagaimana persoalan-persoalan yang senyatanya tidak serius memang pada akhirnya akan direspon dengan sangat tidak serius. Yang bila kita peras lagi maka parodi-parodi tadi sebetulnya mewakili sikap bagaimana seharusnya Pancasila itu membuat kebahagian bagi semua orang. Ia seharusnya bukan barang yang dihidupkan untuk memukul lawan lalu dimatikan sesuai kepentingan narasi dari politik diametral.

0 comments:

Post a Comment