Wednesday, April 15, 2020

Sembunyi Kok di Sajadah, Bro

Sembunyi Kok di Sajadah, Bro
.
Oleh Kapimoda
.
Kita butuh satu tempat yang bisa bantu ngelupain semua remeh temeh dunia. Dulu kukira hobi bisa jadi salahsatunya. Ternyata ya gak mempan juga di kadar tertentu. Pas touring sih asik, setelah hari Senin datang, stres itu ya datang lagi.
.
Kan gak mungkin juga touring di hari kerja Senin-Jumat. Butuh sesuatu yang efek dan prosesnya kayak hobi. Seneng ngelakuinnya, ringan, dan setelahnya bisa muncul ide out of the box. Sumpal telinga pakai headset sekelas Audiophile atau speaker dengan sistem 7.1 bisa jadi alternatif. Lagi-lagi, tak mesti cocok tempat dan tepat momentum juga.
.
Pelarian ke pemuasan panca indera selalu berujung jenuh. Apalagi klo dilakukan terus menerus. Bagiku sih gitu. Denger musik indie terus ya bosen, kelamaan EDM juga brebeg gendeng telinga, dan akhirnya nyetel sabyan Gambus. Paradoks! Panca indera ini gampang lelah klo digeber terus.
.
Kukira, diam tanpa lakukan apapun malah ampuh. Setidaknya yang sudah kucoba sih begitu. Klo merunut tradisi kuno lintas negeri, ada juga. Dari Yoga, meditasi Taman Zen, bicara dengan alam ala Eskimo dan Indian, sampai solat. Semua itu berdampak serupa. Meski tentu saja aktifitasnya beda-beda.
.
Di Islam, kegiatan itu bisa dirangkum di satu tempat yaitu sajadah. Di atas kain seluas bahu itulah dunia dinegasikan, ditolak. Biarlah kerjaan numpuk, toh digarap juga buntu. Kuatir anak sakit tapi belum sembuh ya dicueki dulu toh juga gak bakal sembuh mendadak. Sajadah adalah tempat tepat untuk berhenti mengurusi semesta yang hanya godaan.
.
Sadar atau tidak, kan memang keseharian itu fana, sementara. Kerjaan ya pas di kantor saja, dagangan ya di pasar. Begitu jam selesai, bergantilah dari pekerja dan pedagang ke manusia biasa. Cuma ada yang berperan jadi ketua RT, suami, istri, bahkan merangkap banyak peran lain.
.
Sajadah jadi tempat berpulang dari semua lakon itu. Kembali hanya jadi pelayan Pencipta Semesta Raya. Maka topeng-topeng keduniawian dilepas pas wudhu. Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin sarankan minimal sejam sehari untuk di atas sajadah. Asal solat lima waktu kita beres, maksimalkan upaya tenang, kukira kuota tercapai.
.
Cuma, berani gak nih untuk duduk diam saat dunia tengah mengejar? Meski ajakan nge-mall, nonton, makan-makan, lebih gampang di-iya-in, kan? Gakpapa. Asal dilatih dikit-dikit, cicipi pelan-pelan.
 

0 comments:

Post a Comment