Thursday, April 16, 2020

Sungguh, tanpa bantuan Tuhan, mustahil lengserkan penguasa

“Begini, kita harus sadar tafsir atas dalil penegakan kebenaran ala tangan, lisan, dan hati perlu direvisi. Setidaknya untuk sementara ini sampai ada perubahan mendasar dan fundamental. Seperti para senior lakukan di momen Kriris George Soros panen dari trading skala negara. Jika Mbah Pram sampai dipenjara dan dilarang beredar tiap liukan jemari di lembaran kertas, barangkali sedemikian bahaya kata-kata di tangan orang tepat.
.
Firaun pernah adakan kebijakan radikal membunuh tiap bayi laki-laki di komunitas budak Bangsa Israel. Berdasarkan informasi telik sandi di alam mimpi secara berulangkali, ia tak mau tahta dirongrong bangsa mayoritas yang ditindas atas nama relasi kuasa. Selain propaganda bahwa ia adalah titisan Dewa Matahari dikukuhkan aneka Piramida, kebijakan tangan besi juga dipakai.
.
Firaun gunakan jaringan sungai Nil untuk meringsek masuk ke pelosok Benua Hitam. Dirampoklah segala yang dimiliki suku-suku pedalaman dengan kekuatan militer dan segelintir ahli strategi pewaris taktik ribuan tahun sebelumnya. Kemajuan pesat sedari era sebelum Nabi Yusuf terasa hingga ketika Cleopatra bermain api dengan pengejar cintanya.
.
Nabi Musa pun seolah disusupkan oleh Tuhan menuju lingkaran kekuasaan terkuat di Benua Afrika. Siapa sangka bayi yang dihanyutkan di sungai itu justru jadi pembebas jutaan Bani Israel pulang kampung. Meski begitu ayahanda Ramses II tak lengah, sedari si Musa kanak-kanak, aneka tes sudah dilakukan. Untunglah Tuhan Maha Pembuat Makar, maka Musa diarahkan memilih bara api ke dalam mulut alih-alih sebuah apel.
.
Dibesarkan dalam lingkungan paling melek teknologi, Musa tumbuh jadi “sparring-partner” putra mahkota, Ramses II. Bahkan menurut kesaksian si Firaun senior, Musa lebih layak jadi penerus tahta selanjutnya. Di fase puluhan tahun pelajari cara hidup, sikap, dan teknologi Firaun, sebenarnya Tuhan tengah jadikan Musa sebagai “intelligence officer”, mata-mata!
.
Buktinya, ketika diadu dengan tim ahli teknologi kerajaan, Musa mampu tundukkan gerombolan penyihir kelas puncak. Bahkan kemudian mayoritasnya malah rela direbus dalam minyak mendidih sebab pilih kebenaran versi Musa. Taktik jatuhkan kredibilitas di depan umum dilakukan setelah pembicaraan “brotherhood” empat mata tak bawa efek apa-apa. Ketakutan kehilangan pengaruh ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan dan keamanan paksa Ramses II khianati logika..
.
Kebijakan Firaun pasca Nabi Yusuf, ambil arah isolasi diri. Bani Israel yang merantau ketika Yusuf jadi bagian dari sistem Firaun, perlahan diposisikan ada di tingkat terbawah. Nasib yang diulang Kaum Yahudi ketika Hitler kumandangkan pandangan rasis serupa Firaun. Tolak sunnatullah bahwa perbedaan memang ada dan harus dijadikan landasan saling kerjasama.
Konflik pengusaha-buruh sebenarnya terlihat dalam konflik Ramses II vs Musa. Kalau permintaan masuk akal dari Musa dikabulkan, Mesir sudah pasti akan runtuh. Bagaimanapun, ahli-ahli pembangun Mesir adalah kaum Yahudi. Ditambah perbudakan buat neraca perdagangan tiap tahun cenderung tak minus.
.
Bukankah beban pensiun pegawai dijadikan kambing hitam pemberat anggaran meski gaya hidup bangsawan dan dana politik lebih foya-foya lagi alokasinya. Pengusaha mana yang tak senang dengan tenaga kerja murah, tanpa ikatan pertanggungjawaban, apalagi ditunjuk Firaun sebagai pengisi titik-titik strategis kerajaan.
.
Sadar akan lebih aman melalui jalur kompromi, Musa sedari awal tidak lantas kumandangkan hijrah sembunyi-sembunyi . Ia adakan debat terbuka untuk bongkar propaganda Firaun selama ribuan tahun. Ingat, Tutankahmun juga beberapa Firaun lain pernah miliki satu tuhan dalam kerajaan mereka. Bukan dewa tetapi entitas penguasa semesta. Sayangnya, ideologi monoteisme itu tak bertahan lama sebab disabotase lingkaran terdalam istana.
.
Sebenarnya, ketika Musa mau angkat senjata lawan "oppressor"-nya, ada secuil harap kemenangan. Hanya saja veteran perang versus bangsa pilihan yang dicap budak sedari lahir bukanlah langkah bijak. Kasus ini lain dengan Daud versus Goliath, ya. Musa seolah dikirim ke Bani Israel hanya untuk evakuasi, bukan perlawanan kemiliteran. Maka pendekatan akal dan diplomasi meski ia tidak sefasih Harun, diutamakan.
.
Tapi pada akhirnya Musa selamatkan 2 juta sukunya dari perbudakan Firaun. Soal tewasnya Ramses II di Laut Merah anggaplah sebagai “injury time” agar pengungsi ini tak diburu lebih lanjut. Toh kemudian Musa dan pengungsi itu tersesat selama 40 tahun di padang gurun hingga meninggalnya sang nabi. Bisa jadi di fase itu Tuhan ingin Musa dan rombongannya merefleksikan diri. Ternyata kala itu tanah air tengah dikuasai lawan politik yang 11-12 dengan Firaun.
.
Ibarat keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Untunglah ada seorang pemuda yang “samikna wa atokna” pada Musa termasuk ketika ia dan kudanya membuka jalan seberangi lautan. Sampai batas leher, laut belum terbelah juga. Di masa “mbambung” 40 tahun itu, si anak muda jadi pelatih raga para budak hingga menjadi petarung. Berbekal patuh total pada sang Nabi yang sering berbincang langsung dengan Tuhan.
.
Kalaupun ada kejadian Patung Sapi Emas yang hidup dari tanah bekas pijakan Jibril di tengah terbelahnya Laut Merah, ini tunjukkan fase psikologis pelarian. Dalam situasi dan kondisi tanpa kepastian, apalagi dalam 40 tahun, butuh pemberi harapan bagi suku yang junjung tinggi logika itu. Ketika hujan roti dan ikan kering saja digugat, apalagi Musa yang hanya “katanya-katanya” lewat 10 perintah Tuhan.
.
Samiri, yang konon adalah Dajal era Musa, munculkan “false-hope” atau harapan palsu. Daripada sembah pada Tuhannya Musa yang lama tinggalkan kaum untuk cari petunjuk Tuhan, lebih baik lelehkan semua emas yang dimiliki dan dibentuk sapi. Bukankah sapi adalah hewan dengan banyak simbolisasi kesuburan dan kemakmuran? Negosiator ulung seperti Harun pun tetap kalah pada “noisy majority” alias kuasa kerumunan.
.
Persatuan dalam momentum senasib sepenanggungan pun akan luntur ketika tak ada musuh bersama. Maka, perpecahan terjadi sebab hal sepele. Terlebih ketika prasangka dituruti, bak bara api dalam sekam, membakar seperti propaganda mematikan dari dalam. Teknokrat sekaligus pejuang macam Musa yang pernah dididik jadi penggembala selama belasan tahun pun bisa kecolongan ada gegeran dalam kawanannya.
.
Kukira kenapa kisah Musa diabadikan di banyak kitab suci karena memang upaya sang nabi sungguh mulia sekaligus penuh derita. Tak heran ia diganjar dengan Ulul ‘Azmi yang deritanya sudah pol-polan. Ia bisa ungsikan jutaan manusia dari diktator paling sadis. Perlahan jegal propaganda penguasa dengan argumentasi yang juga berasal dari kubu lawan.
.
Ketika semua gegeran diturunkan ke ranah publik, meski sudah terbukti kalah, penguasa tetap punya kekuatan militer untuk “last resort”, jaga-jaga. Nyatanya, Firaun kerahkan opsi itu untuk buru Musa. Tanpa bantuan Tuhan, mustahil Musa bisa lolos ketika berada di tepi Laut Merah. Maka, resep bertemu diktator bertangan besi adalah ada di posisi sedekat-dekatnya dengan Tuhan.
.
Musa ini orang terpintar se-Mesir setara Ramses II karena sementor dan seguru. Kekuatan fisik di atas rata-rata, sekali pukul bisa bunuh pasukan khusus Mesir yang terbukti ribuan tahun jadi penguasa Afrika. Ia punya pilihan hidup di zona nyaman dengan istri dan anak ketika jadi penggembala. Nyatanya, pada titik tertentu, ia kembali ke medan laga dan selamatkan umat.
.
Tuhan sertai Musa dan tegur ketika perjalanan pulang kampung. Sepanjang perjalanan dengan istri dan anak, Musa terus rancang berbagai strategi hadapi Ramses II. Ketika Tuhan berkehendak lain, semua strategi Musa runtuh begitu saja. Cara Tuhan dengan hal-hal di luar nalar lebih goyangkan pendirian dan situasi Mesir kala itu.
.
Jadi, memang Tuhanlah kunci bagi tiap upaya penyelamatan. Tanpa-Nya, kukira akan mudah berputus asa. Entah bertemu dengan kemustahilan seberangi lautan, kelaparan dan kehausan, hingga lontang-lantung tanpa batas waktu.Tuhan adalah sumber visi dan misi kalau menurut kekinian. The Grand Design menurut Stephen Hawking, hanya saja ini versi psikologis. Tiap kejadian di keseharian adalah tempaan untuk perbarui mental terus menerus.
.
Sungguh, tanpa bantuan Tuhan, mustahil lengserkan penguasa yang sudah seranjang dengan pengusaha dan jadikan ideologi sistem, termasuk dogma agama, sebagai alat propaganda. Mari lakukan tobat global seperti ajakan Syaikh Hamza Yusuf. Sebab tanpa itu, sulit kita menakar tengah di posisi sebagai Firaun, Musa, atau Bani Israel yang diperbudak Mesir.” Papar Kang Sabar dengan hati-hati pada beberapa pria berambut putih.

0 comments:

Post a Comment