Wednesday, April 15, 2020

sunnah isolasi seperti periode Hudaibiyah

"Kita lagi jalani sunnah isolasi seperti periode Hudaibiyah. Solat dalam rasa takut ketika jamaah atau Jumatan. Bagi tim medis isolasi Corona mungkin juga solat pakai kostum hazmat, ya satu-satunya itu. Ga bisa wudu sering-sering, bahkan harus pakai pampers demi hemat kostum pelindung diri. Lapar dan haus demi pasien, letih gak terhitung.
.
Sudah beberapa yang syahid, menyusul juga yang ikut tertular. Pasien masih antri, jumlah tenaga medis masih kurang. Rakyat jelata masih susah dibilangi untuk mencegah tertular dengan alasan agama bahkan mistis. Pemerintah malah "ngayem-ayemi" sudah temukan obat padahal itu hanya pengurang gejala. Blunder sekian kalinya setelah enggan lockdown. Jumlah prosentase kematian langsung rangking 2 di dunia tunjukkan ada yang masih kurang di sistem medis kita.
.
Beberapa rumah sakit rujukan Corona dari pusat dan daerah masih kurang fasilitas dan anggaran, sampai harus buka donasi. Semoga 60 T dari Menkeu, didapat dari memotong anggaran studi banding, dll, bisa perbaiki perbandingan sembuh dan yang syahid. Bonus 6 T untuk tim medis ruang isolasi juga semoga memotivasi kinerja tim. Nutrisi setidaknya.
.
Kalau kita ini orang tarekat dan terbiasa dilatih gantungkan asa ke Gusti Allah, gak masalah tak mengurung diri di rumah selama sehat. Tapi kaum ini kan sudah bekali entah dari penguat mental dari wiridan, imunitas tubuh seperti bawang, kunir, sampai telor ayam kampung sedari akhir tahun lalu.
.
Maka tak heran di momen begini bisa setenang dan menenangkan. Meski, aturan syariat dipakai juga untuk cegah orang awam tertular. Maka, berbagai pimpinan tarekat dunia juga menyuruh untuk solat di rumah, termasuk solat Jumat. Bahkan ulama fikih, setelah cegah lewat dalil agama, juga patuh pada ahli medis. Meski tentu sosialisasi yang dilakukan berbeda sesuai spesialisasi bidang.
.
Kita jalan sesuai maqam masing-masing, sadar diri. Jelas-jelas gak pernah tempuh belajar agama di jalur khusus kok berani tentang hasil penelitian njlimet para ulama dunia dan lokal yang puluhan tahun pelajari Quran-Hadis-Ijma-Qiyas secara ketat. Apalagi ngotot dan sebarkan pendapat turuti nafsunya itu. Selain melawan hukum alam, juga tak punya pemahaman mendalam sebagaimana penempuh jalan pembersihan hati.
.
Sungguh, miris melihat negeri ini harus tunduk pada hal yang bisa dicegah. Khas, sedari era baheula. Mau tsunami, gempa, gunung meletus, apalagi wabah pandemik, diacuhkan begitu saja. Pemerintah kurang tegas dibanding negara lain, rakyatnya buandel ngalahin bangsa manapun. Kalau punya makrifatnya sih oke. Lha ini nekat karena ngawur." Ucap Kang Sabar di taman rumah.

0 comments:

Post a Comment