Thursday, April 16, 2020

Tebar manfaat maksimal

“Aku kembali terjebak malas verifikasi, Kang. Senasib dengan anggota parpol yang mbulet sebab seorang PSK itu. Kusajikan data, meski selisih beberapa hari, ternyata sudah basi dan tidak faktual. Betapa malu diriku yang banggakan keakuratan angka.” Kesah Kang Kuat di atas LincakSenthir.
.
“Santai, tinggal lebih waspada lagi ke depannya. Ditelaah lagi mana data panas nan dinamis, mana yang berabad-abad tetap begitu saja. Jadikan saja kekinian sebagai ‘sample’ dari fenomena klasik. Jangan malah gunakan gegeran kekinian sebagai alat menakar masa lalu.” Saran Kang Sabar sembari beringsut ke AmbenJiwo
.
“Kukira metode barat digarap, berarti ilmiah dipakai untuk bumikan yang muluk-muluk dalam tenggat ribuan tahun silam ini. Toh banyak negara barat pada sektor tertentu juga jadi pionir perubahan. Finlandia dengan sistem pendidikan, Jepang lewat inovasi, dan sederet lainnya.
.
Arab diruwat untuk mengkaji ulang relasi antara ajaran agama dan produk budaya Arab sehingga bisa diadaptasi ke moderen. Mana yang prinsip baku dan jadi tujuan sebuah syariat diterapkan.Ketika tujuan manfaat lebih luas didapat, maka ambil syariat yang dukung ke arah itu. Toh Jazirah Arab sekarang akhirnya buka diri lebar-lebar pada budaya Barat. Meski secara membabi-buta dan bagi beberapa yang ‘kasyaf’, itu pertanda mengerikan.
.
Nah, Jawa dibawa. Dalam artian sebab genetik kita ada di lokal, maka ditumbuhkan sesuai fitrah. Stereotipe kesukuan di masyarakat bisa dipakai jika memang cocok secara individu. Jika tidak, ya tumbuhkan kecenderungan diri menuju mana. Adat istiadat tidak diserang secara brutal tapi dicari tujuan utama norma dan nilai itu ada.
.
Diadaptasi ke moderen dengan pahami arti filosofinya. Sistem Terasering, Lumbung Pangan, sampai Aturan Panen bisa jadi pedoman pembangunan berkesadaran lingkungan. Kupikir ada istilahnya itu di kajian perhutanan atau pertanian. Meski, ini waspadanya juga, jangan sampai demi membuka industri baru bernama serba hijau. Anak yang kemarin populer tingkat internasyenel jadi pejuang lingkungan hidup kan ternyata anak pengusaha ‘green-economy’ lho.” Tukas Kang Kuat dengan pose leyeh-leyeh.
.
“Itu konsep kuno penduduk Gunung Merapi yang dimodifikasi, kan? Tapi apakah pola pikirmu bisa berpeluang jadi ‘keset’ pencari pembenaran segala Barat? Mirip tren-tren ‘subhanallah, ternyata ilmuwan A tuh sesuai Quran’, dst?” Kejar Kang Sabar dengan Robusta Genting dari SaptaWening-nya Bro Anwar di tangan kanan.
.
“Konsep dari Syaikh Subakir itu kumodifikasi sedikit sebab para Walisongo pun gunakan infiltrasi-asimilasi-akulturasi untuk tebarkan manfaat. Berbagai siasat minim kerusakan ekonomi, sosial, dan militer dipakai untuk sebarkan kebaikan lebih cepat, tepat, berdampak berkalilipat. Aku tidak mau membahas wilayah kewalian, meski itu secara medis barat sangat mungkin setelah teliti pertapa di India dan Tibet.
.
Kukira pemahaman pada tiga dunia bertolak belakang itu sangat perlu untuk meng-upgrade penerapan pengetahuan dan pengalaman di era ultra-moderen ini. Bagaimana dunia game ala barat bisa jadi penyeimbang wirid ala Arab, dan laku hidup tirakat ala Jawa di keseharian? Masalah generasi rebahan yang kini berumur 20-an itu sangat berpotensi merusak di 2045 lho.” Tukas Kang Kuat dengan tatapan kosong ke atas, di mana pohon mangga melihat dengan tatapan prihatin pada si jomblo.
.
“Hish. Kok main ramal gitu. Data dari mana itu? Kalau soal barat-arab-jawa itu aku juga sepakat. Tapi itu pekerjaan rumahmu di usia 30-an. Aku di 40-an tinggal bantu membedah konsep tinggalan para simbah ribuan tahun ke belakang. Nanti guruku di usia 60-an dan gurunya lagi usia 80-an beri panduan secara batin saja. Kita kerjasama dari langit ke bumi. Hahaha....” Jawab Kang Sabar tergelak sampai perut buncitnya mantul-mantul.
.
“Soal 2045 itu kudapat dari beberapa kawan perwakilan multi lembaga global pemain ‘big data’ ekonomi tiap hari. Negara super maju seperti Jepang, Rusia, bahkan Eropa tengah kepayahan cari Sumber Daya Manusia usia produktif yang mampu penuhi kebutuhan profesi. Mereka rela rekrut dari negara-negara dunia ketiga demi industri berjalan terus. Kukira menteri pendidikan yang baru paham peta ini. Tapi soal latar belakang dia, aku agak ragu bakal terlaksana penuh juga. Mari doakan terlaksana saja.” Sahut Kang Kuat mengawali dengan antusias dan mengakhiri dengan nada pasrah.
.
“Kita bisa pilih medan perang mana yang mau dimasuki. Kata Tsun Zu kan gitu, jangan masuk perang yang gak bisa dimenangkan. Kukira soal birokrasi aku agak minder dengan Oh My Bus Raw terbaru yang babat habis semua penghalang pemerasan cuan. Pun mental anak-anak muda jika menilik peran lingkungan yang justru perburuk psikologis anak. Maka, pembenahan tingkat individu seperti didikan ala Jedi yang ‘pendeta-petarung’ perlu digelar.” Imbuh Kang Sabar sembari tebar pakan ikan ke kolam di depannya.
.
“Gejolak belajar agama kan tengah mewabah di mana-mana, Kang? Bisakah itu disebut sebagai Kawah Candradimuka yang menyepuh siapa saja jamaahnya? Maksud pembenahan individu ada di situ, kan?” Tanya Kang Kuat yang tengah berbibir kecut sebab kenaikan harga rokok buat ia berpikir seribu kali beli sebungkus.
.
“Bisa, jika hasil belajar agama itu muncul di keseharian. Sampah tak lagi berserakan, di tengah tas plastik susah didapat ketika berbelanja. Pepohonan kembali tumbuh di banyak sudut kota apalagi desa. Sampai kembalinya capung dan kupu-kupu sebagai pertanda kesehatan suatu lingkungan hidup. Bukankah fungsi salam tiap solat adalah tebar keselamatan dan manfaat ke semesta? Itu alasan salam di solat tidak butuh jawaban dari sebelahnya, kan?” Ucap Kang Sabar yang tengah asik amati kelahapan santri-santri ikannya.
.
“Terus bukan berarti efek agama itu aturan jilbab tersebar ke mana-mana sampai sekolah negeri saja wajibkan siswi tutupi rambutnya? Terus pas adzan berkumandang ada yang bawa pentungan buat giring tiap pria berjamaah di masjid? Semua produk yang dipakai juga harus disertifikasi halal, dari mesin cuci sampai sendal jepit harus dilabeli? Sedekah kumpul di banyak lembaga penerima transferan, yang tiap ada bencana atau krisis selalu ganti baliho dan iklan di media-media massa?” Kang Kuat mencerocos demi hilang kecut di mulut.
.
“Lho, itu kan laku agama artifisial. Kelihatan bertuhan padahal esensi beribadah kan bukan soal bungkus diri sampai kayak lontong atau ketupat. Terpenting adalah isi, ya lontong bisa dimakan, jilbab ya bisa dilihat dari anti ghibah dan mampu tahan diri dari nambah daftar keinginan di keranjang belanja online. Halal kan aturan yang masuk mulut, emangnya mesin cuci mau dimakan, motor bakal dijilat, rumah juga dicemil? Harus dibedah lebih rinci daripada sekadar simplifikasi dengan main pukul rata begitu.” Gusar juga Kang Sabar lama-lama tanggapi pancingan si juniornya itu.
.
“Jadi gini deh singkatnya. Aku nge-game untuk jadi momen istirahat jasad dan pikiran dari rutinitas zikir, katakanlah begitu. Biar zikir bisa selalu dalam kondisi awas, khusyuk, ya setidaknya ikut panduan guru. Nah, proses wirid sendiri adalah momen istirahat bagi ruh dari segala yang berbau dunia. Maka, pas wirid dilarang mikir macam-macam karena tujuan akhirnya adalah bisa diam tanpa berucap apapun tapi ingat Gusti Allah.
.
Capek komat-kamit ya nge-game, udah fit dan fokus ya lanjut wirid. Nah, di dunia keseharian pakai pengetahuan Barat untuk efek manfaat lebih. Kita kan perlu riset untuk tahu cara tingkatkan derajat suatu benda lebih dahsyat. Air laut selatan tak berarti bagi penduduk sekitar. Begitu datang pengetahuan cara kelola, jadilah garam kualitas dunia dibutuhkan industri. Bisa diolah dengan teknologi moderen agar garam makin berkalilipat manfaat dan harganya mengikuti juga.
.
Gampangnya, aku baca jurnal-jurnal, Panjenengan bacakan saya kitab-kitab klasik. Cari titik temu dari keduanya, dan tinggal dijadikan tirakat kekinian ala Jawa. Terpenting kan istiqomah dan hidayah. Istiqomah ya terus-menerus, pasti Gusti Allah akan bantu singkirkan halangan, dikuatkan kemampuan, disabarkan di tiap permasalahan, pokoknya ‘tatag’. Nah, hidayah diminta agar bisa terus munculkan hasil yang bermanfaat, tidak sekadar sia-sia dan malah berbahaya. Begitu?” Papar Kang Kuat yang berharap disuguhi kopi juga.
.
“Ya kurang lebih begitu. Ini proses panjang untuk jadi manusia produktif, kreatif, dan inovatif. Tiap ada masalah kekinian gak bingung sebab pakai kacamata barat untuk urai. Ketika pola masa kini adalah perulangan masa lalu, tinggal pakai Arab atau Jawa yang lebih tua dan mapan jumpai fenomena aneh-aneh. Penyampaian pun perlu alat bernama sastra agar lebih indah lagi diterima. Tadinya hasil analisis 100 kata, oleh penyair bisa diringkas jadi hanya 5 kata.” Sahut Kang Sabar sembari ambil Teh Kotak dingin dari kulkas.
.
“Jadi, begitulah Islam, Kang? Juga tujuan akhir semua agama-agama dan aliran kepercayaan? Tebar manfaat maksimal dengan didasari penuhi kebutuhan dasar manusia untuk bisa survive di tiap peradaban. Jika orang Islam tak mampu berikan produk yang jawab masalah itu, Gusti Allah akan beri pada siapapun yang mampu. Jangan heran ketika orang Yahudi yang mungkin hanya 5% dari total penduduk dunia bisa jadi pemberi jawaban atas masalah kekinian. Soal efek samping, kukira memang seperti pisau bermata dua.” Ujar Kang Kuat yang mendadak sumringah lihat dahaganya akan segera sirna.
.
“Makanya, munculkan generasi seperti para Walisongo. Produktif, kreatif, dan inovatif. Ajak kebaikan tak melulu lewat seminar, simposium, konferensi, atau malah dakwah di podium. Sunan Kalijaga blusukan dengan bergonta-ganti nama hindari ketenaran, dan tiap lokasi yang didatangi selalu tinggalkan buah karya. Sunan Giri juga sama, merakit berbagai mainan anak dengan filosofi tinggi untuk pengingat kuncian hidup. Itu kan pola hidup Kanjeng Nabi juga. Jadi solusi bukannya mencaci maki.” Tutup Kang Sabar setelah sodorkan minuman dan bergegas lari menuju kompor yang sudah kepulkan kepulan asap dan bau gorengan gosong.

0 comments:

Post a Comment